11.9.16

Mari Perkenalkan Ulos kepada Dunia

 
Ilustrasi.

TobaTimes-Untuk memperkenalkan ulos sebagai identitas Bangso Batak, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia Kota Siantar bekerjasama dengan Forum Guru Siantar (FGS) menggelar seminar bertema ulos dalam sudut pandang religius.

Seminar tersebut digelar di Hotel Sapadia Pematangsiantar pada Sabtu (10/9). Seminar dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kota Siantar Resman Panjaitan, dosen dan advokat Sarbudin Panjaitan, Wakil Rektor III Universitas Simalungun Corry Purba, ratusan mahasiswa dari Universitas HKBP Nomensen Pematangsiantar dan Sekolah Tinggi Theologia (STT) HKBP dan para narasumber.

Seminar dibuka secara resmi oleh Resman Panjaitan dengan memukul alat musik taganing. "Mari kita membahas ulos dari segi ketuhanan. Ulos itu milik kita bersama, mari kita banggakan dan kita perkenalkan kepada dunia," ujar Resman.

Oslin Pasaribu, Ketua DPC Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia, menjelaskan bahwa ulos sebagai atribut budaya adalah wujud fisik kebudayaan yang berasal dari masyarakat Batak Toba dan sudah diakui sebagai warisan budaya oleh Kementerian Kebudayaan Indonesia sejak 17 Oktober 2014 silam.

"Hasil kerajinan tenun ulos bisa meenjadikan si pembuatnya dikenal. Masyarakat Sumatera Utara, seperti orang Batak Toba, dikenal dari kain ulos. Tenunan ulos dengan motif etnik Batak bisa menjadi mata budaya Indonesia. Ragam hias dan motif, pembuatan dan fungsinya sarat dengan nilai-nilai filosofis dan estetika. Itulah tujuan kita menggelar seminar ini. Agar ulos lebih dikenal," jelasnya.

Dra Rytha Tambunan MSi, salah seorang antropolog yang hadir sebagai narasumber dalam seminar tersebut menuturkan, ulos merupakan sebuah identitas Bangso Batak. "Ulos ini adalah identitas Bangso Batak. Jadi kita tidak perlu malu menjadi Bangso Batak," tegasnya.

Lebih lanjut Rytha memaparkan, awal mula perkembangan alat tenun tradisional di Sumatera Utara diperkirakan pada Abad ke 14. Menurut Dosen Universitas Sumatera Utara (USU) ini, teknologi tenun dan peralatannya ada hubungannya dengan kontak dagang antar bangsa. "Asumsi dasarnya bahwa tenun tradisional telah berkembang sebagai hasil peradaban masyarakat di Sumatera Utara pada kurun waktu tertentu dan terus berkembang seiring dengan perkembangan masyarakatnya," ujarnya.

"Dan sampai sekarang pun, keberadaannya masih ada pada beberapa kelompok etnis di Sumatera Utara, seperti pada orang Batak Toba, Karo, Simalungun, Angkola dan Pakpak," katanya.

Pdt HR Panjaitan, mantan Sekjen Huria Kristen Indonesia (HKI) periode 1990-2000 yang juga hadir sebagai narasumber mengatakan, keberadaan ulos harus diatur secara religi. Dia memaparkan bahwa apa yang disampaikan di forum merupakan hasil olah dan penelitiannya untuk melengkapi kebutuhan referensi pribadi.

"Generasi Batak sekarang ini dan masa yang akan datang, harus bangga dan apresiasiatif terhadap nenek moyangnya. Banyak kreasi dan penemuan-penemuan yang dilakukan oleh generasi pendahulu demi mendukung kehidupan dan kemanusiaan," terangnya.

Selain itu, ulos Batak terbuat dari 3 warna yang bermakna religi, yakni putih, merah, hitam. Ketiga warna ini mengandung makna religi. Putih melambangkan dewa, merah melambangkan manusia dan kehidupan dan hitam melambangkan kematian. "Warna inilah yang dibuat mewarnai rumah (Gorga) dan mewarnai ulos," ungkapnya.

Dra Nita Savitri MSi, antropolog yang meninjau kain ulos dari perspektif agama Islam menuturkan, bagi sebagian besar masyarakat muslim, ulos dianggap sebagai satu hasil kekayaan budaya yang dapat dikembangkan menjadi fashion masa kini.

"Saat ini ulos mengalami transformasi global, yang mana ulos sudah mengalami proses modifikasi dan kapitalisasi," ujar wanita yang juga dosen Universitas Sumatera Utara (USU) ini. (TT/int)

0 comments:

Post a Comment