Showing posts with label HISTORI. Show all posts
Showing posts with label HISTORI. Show all posts

22.9.17

Film G 30 S/PKI Dibikin dengan Cinta, tapi...


TobaTimes - Salah seorang pelaku sejarah yang juga artis senior, Jajang C Noer, memberikan jawaban terhadap beragam spekulasi yang beredar bahwa pembuatan film G 30 S/PKI dibuat dengan pengawasan ketat.

Jajang C. Noer.
Istri sutradara Arifin C. Noer ini juga membantah jika pembuatan film G 30 S/PKI diawasi atau dikontrol oleh rezim Orde Baru. "Tak benar kami diawasi,” ujar Jajang dalam diskusi di ILC, TV One, Selasa (19/9/17) malam.

Menurut Jajang, selain Arifin ada satu lagi calon sutradara yakni, Teguh Karya. “Memang pesanan dari pemerintah yang sebelumnya telah bertanya ke mas Gunawan (GM), GM bilang sutradaya ada Teguh Karya dan Jajang C Noer. Lalu pak Dipa pilih Jajang,” ujarnya.

Lanjut Jajang, suaminya membuat film itu dengan kecintaannya terhadap negeri ini. Hanya saja, dia tak menyangka jika film tersebut jadi propaganda yang wajib ditonton paksa. “Mas Arifin tak mungkin mengerjakan sesuatu yang dia tak yakini,” katanya. (bbs/int)

19.9.16

Erupsi Dasyat Danau Toba akan Terjadi Lagi


TobaTimes-Danau Toba mungkin akan selama-lamanya menjadi topik menarik bagi banyak kalangan. Danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara ini memang fenomenal, memiliki panjang sekitar 100 kilometer dan lebar 30 kilometer.
Danau Toba.
Proses terjadinya Danau Toba sudah dilansir para ilmuwan sejak dahulu kala. Menurut para ilmuwan, danau itu terbentuk karena erupsi hebat Gunung Toba yang terjadi pada 74.000 tahun lalu. Letusan itu  membinasakan sekitar 60 persen makhluk hidup yang ada pada saat itu.

Ketika meletus, Gunung Toba memuntahkan 2.500 kilometer kubik lava, setara dua kali volume Gunung Everest. Erupsinya 5.000 kali lebih mengerikan dari letusan Gunung St Helens pada 1980 di Amerika Serikat.

Situs Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menulis, dalam waktu sekitar dua minggu, ribuan kilometer kubik puing dimuntahkan dari puncaknya. Aliran piroklastik (awan yang merupakan campuran gas panas, serpihan batu, dan abu) mengubur wilayah sejauh 20.000 kilometer persegi di sekitar kaldera.

Setelah letusan, Gunung Toba meninggalkan kaldera modern yang dipenuhi air dan menjadi Danau Toba. Sementara, Pulau Samosir terangkat oleh magma di bawah tanah yang tidak meletus.

Walaupun telah terjadi puluhan ribu tahun lalu, para peneliti memprediksi erupsi dahsyat Danau Toba akan terjadi lagi. Namun menurut mereka, peristiwa tersebut tampaknya tak akan terjadi dalam waktu dekat.

Ivan Koulakov dan rekan-rekannya dari Siberian Branch of the Russian Academy of Sciences, meneliti apa yang tersembunyi di bawah Danau Toba dengan menggunakan data seismik.

Tim peneliti itu membuat sebuah model yang dipublikasikan di jurnal Nature. Mereka menunjukkan bagaimana kolam magma tumbuh di bawah kaldera Toba. Meski terlihat tenang, peneliti mengatakan bahwa mesin yang menghasilkan magma akan terus aktif.

Dengan menggunakan data seismik untuk melacak sistem saluran Toba, mereka memperoleh saluran rumit dengan magma yang bergerak naik melalui tingkat tertentu.

Tim itu juga melacak magma hingga kedalaman 150 km. Pada level itu, sejumlah besar unsur-unsur kimia atmosfer dihasilkan di subduksi, batas antar lempeng yang bersifat konvergen.

Para peneliti menemukan bahwa reservoir magma yang luas dan padat di bawah kerak Bumi merupakan mekanisme kunci penyebab letusan dahsyat (Ivan Koulakov et al/Nature Communications).

Mereka bergerak ke atas dan mencair, berkumpul di dasar kerak, dan menciptakan reservoir magma seluas 50.000 kilometer kubik dengan kedalaman 75 kilometer. Proses tersebut terus berulang dan membentuk kerak reservoir dangkal yang dianggap bertanggung jawab atas terjadinya letusan dahsyat.

Meski terdapat kemungkinan letusan hebat terjadi lagi, para ilmuwan mengatakan bahwa kita tak perlu cemas akan hal tersebut.

"Terdapat kemungkinan bahwa dalam jangka waktu panjang, letusan besar akan terjadi berulang kali hingga (sistem patahan) Investigator Fracture Zone, di mana menjadi sumber terbesar letusan dahsyat, menghujam ke bawah Toba," ujar ilmuwan seperti dilansir International Business Times.

Mereka menambahkan, magma cair dan volatil di kerak kemungkinan belum dicapai, sehingga letusan dahsyat berikutnya diperkirakan baru akan terjadi dalam beberapa puluh ribu atau ratusan ribu tahun mendatang.

Toba bukanlah satu-satunya supervolcano di mana reservoir magma ditemukan di dalamnya. Struktur serupa juga terdapat di supervocano Yellowstone di Amerika Serikat. Menurut peneliti, hal itu menunjukkan bahwa reservoir magma yang luas dan padat di bawah kerak Bumi merupakan mekanisme kunci penyebab letusan dahsyat.

Jika Yellowstone kembali meletus, kekuatan erupsinya diperkirakan ribuan kali lebih kuat dari letusan gunung St Helena pada 1980. Ia akan memuntahkan lava ke langit, sementara abunya yang panas akan mematikan tanaman dan mengubur wilayah sekitarnya hingga radius lebih dari 1.600 kilometer.

Tak hanya itu, dua pertiga wilayah Amerika Serikat bisa jadi tak dapat dihuni lagi karena udara beracun yang berembus dari kaldera. Bahkan ada yang mengatakan bahwa abu hasil letusan dapat menghalangi sinar Matahari dan menyebabkan penurunan suhu Bumi secara drastis. Hal tersebut dapat mengakibatkan kelangkaan pangan dan kematian massal. (berbagaisumber/int)

25.8.16

Danau Toba Pernah jadi Markas Para Bandit


TobaTimes-Danau Toba pernah jadi markas para bandit kota Medan semasa perang kemerdekaan Indonesia (1945-1949). Mereka menempati vila dan bungalow-bungalow mewah peninggalan tuan kumpeni. Pimpinannya bernama Timur Pane.

Danau Tempo Dulu. Foto/Arsip Nasional Belanda
Parapat, 15 Juli 1947. Malam sudah larut ketika Muhammad Radjab, wartawan Kantor Berita Antara tiba di Danau Toba. Radjab yang datang bersama tiga wartawan lainnya merupakan delegasi pemerintahan pusat; Kementerian Informasi Republik Indonesia yang berkedudukan di Yogyakarta.

"…tidak ada yang tampak selain bukit-bukit yang hitam. Air danau hampir tak kelihatan. Yang terdengar hanyalah riak-riak yang bergelut dan berdesir di tepi. Dalam gelap dan malam yang sejuk itu, ingatan hanyalah ingin tidur," tulis Radjab dalam buku Tjatatan di Sumatera. 

Esok paginya, Radjab yang terkagum-kagum dengan keindahan Danau Toba menulis:

"Kita tercengang melihat kebesaran dan keluasan mukanya yang seperti cermin raksasa biru…gunung yang hijau kebiru-biruan di atasnya…anting-anting zamrud besar yang tergantung di leher Sumatera. Di depan kita terbentang pula Pulau Samosir yang curam tebingnya…lenyap segala kemasygulan dan kesedihan hidup yang dialami selama bertahun-tahun di Jawa."

Markas Timur Pane

Berdasarkan pandangan matanya, Radjab menggambarkan, saat itu vila dan bungalow yang banyak bertaburan di Prapat dihuni oleh pasukan Mayor Jenderal Timur Pane--satu di antara lakon yang menginspirasi Asrul Sani membuat film Naga Bonar.

"Kami dapat bertemu dengan Timur Pane ini di rumahnya, salahsatu sebuah bungalow di tepi danau," kenang Radjab.

Kepada wartawan berdarah Minang itu, Timur Pane--figur yang sangat terkenal dan ditakuti di Sumatera Timur masa itu--bercerita bahwa dulunya ia pedagang jengkol, lada dan sayuran di pasar Medan.

Kemudian nyopet, di samping aktif sebagai anggota Partai Pendidikan Nasional.

Timur Pane punya badan kecil. Sebagian wajahnya kebiru-biruan. Matanya awas sekaligus liar. Dia kesohor karena kejam. Sesuai dengan apa yang dipercakapkan orang, kepada Radjab dia sendiri mengaku sering menyembelih orang di medan tempur.

Meski sadis kepada lawan, "sebagai tuan rumah, Timur Pane seorang yang ramah. Jamuannya sangat memuaskan. Lebih dari cukup. Masakannya sangat enak," sanjung Radjab.

Sesudah makan, sang bandit revolusioner mengajak tamunya duduk-duduk di beranda depan.

"…sambil melihat bukit yang tinggi-tinggi dengan hutan cemaranya. Danau biru yang telah besar-besar ombaknya. Alam Toba yang penuh puisi dan romantik," tulis Radjab, mereka membirakan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Penuh percaya diri Timur Pane mengatakan, persenjataan yang dimilikinya cukup untuk berperang selama 18 tahun. Dan jika mau, kota Medan dapat direbutnya dalam waktu 24 jam.

Sayangnya, menurut Timur Pane, para pembesar pemerintah di Sumatera Timur tidak ada yang baik. Sambil menyebut satu-satu nama pejabat, dia menjelaskan ada yang kaki tangan NICA, ada yang borjuis, ada yang gila harta dan sebagainya.

"Karena kami sudah mengunjungi Sumatera Timur," tulis Radjab, "kami tahu bahwa setengah dari yang dikatakannya memang benar. Memang banyak pegawai dan pemimpin yang korup, yang mementingkan kantongnya sendiri, yang mengambil untung dari kekacauan."

Tak hanya asyik sendiri dengan cerita-ceritanya, sembari menikmati hamparan pemandangan Danau Toba dari beranda markasnya, Timur Pane juga bertanya mengenai kawan-kawan seperjuangan di tanah Jawa. (Penulis: wenri wanhar/jpnn.com)

12.8.16

Toba Monster Pembunuh, Bisa Ngamuk Setiap Saat

TobaTimes-Siapa nyana di balik keindahan danau Toba tersimpan monster pembunuh yang bisa mengamuk setiap saat. Ilmuwan meyakini, Toba adalah gunung supervulkan yang jika meletus bisa mengubah wajah Bumi untuk selamanya. Berikut sejumlah fakta tentang Toba seperti dilansir www.dw.com


Api di Perut Bumi

Ledakan supervulkan bisa mengubah wajah Bumi dan menyeret manusia kembali ke zaman batu. Tidak cuma perubahan iklim drastis, ledakan supervulkan bisa memangkas populasi manusia menjadi tinggal segelintir saja. Saat ini terdapat 11 gunung api super di seluruh dunia yang bisa meletus setiap saat. Dan salah satunya terdapat di Indonesia.

Kematian di balik Keindahan

Siapa nyana di balik keindahan danau Toba tersimpan monster pembunuh. Sekitar 75.000 tahun silam langit Bumi menghitam oleh abu vulkanik yang dimuntahkan oleh gunung Toba. Letusan vulkan purba itu diyakini 100 kali lipat lebih besar ketimbang erupsi terbesar dalam sejarah manusia modern, yakni gunung Tambora, yang menyebabkan tahun tanpa musim panas di langit utara pada 1816.

Hujan Lahar

Letusan Toba adalah erupsi terbesar dalam 2,5 juta tahun terakhir. Jejak abu vulkanik dari ledakan Toba misalnya tersebar di sepanjang Samudera Hindia hingga ke Afrika Timur. Menurut penelitian Michigan Technological University, letusan Toba memuntahkan 2800 kilometer kubik debu vulkanik hingga ketinggian 80 kilometer. Jumlah sebesar itu bisa dipakai buat membangun 19 juta gedung 100 tingkat.

Maut dari Langit

Toba tidak cuma membuat populasi nenek moyang manusia menyusut menjadi tinggal belasan ribu, tetapi juga mengubah iklim Bumi sepenuhnya. Diperkirakan awan vulkanik yang menutupi matahari menyebabkan penurunan suhu global antara 3 hingga 5 derajat Celcius. Ilmuwan mencatat letusan Toba menyebabkan tahun terdingin pada periode glasial terakhir di Eropa.

Kamar Api

Kamar magma Toba kini diyakini telah kembali terisi penuh. Salah satu buktinya adalah pulau Samosir yang tumbuh setinggi 450 meter sejak erupsi dahsyat 75.000 tahun silam. Selain itu sejumlah gempa bumi di kawasan juga menandai aktivitas di kamar magma, seperti gempa bumi tahun 1987 di pantai selatan danau Toba.

Potensi Ledakan

Ilmuwan meyakini danau Toba saat ini berpotensi menjelma menjadi supervulkan. Pasalnya Toba terletak di tepi Patahan Sumatera. Setiap aktivitas seismik pada patahan itu bisa memicu tekanan terhadap ruang magma di perut Toba. Potensi ledakan bertambah besar lantaran gerak lempeng Australia yang mendesak lempeng Sunda sebanyak 5,5 cm per tahun.

Semut di Mata Gajah

Ledakan lain yang mengubah Bumi adalah letusan gunung Krakatau. Berkekuatan 200 megaton TNT atau setara dengan 13.000 kali lipat bom Hiroshima, letusan Krakatau terdengar hingga jarak 4800 kilometer dan menyebabkan gelombang tsunami yang membunuh 36.000 orang. Tapi dibandingkan Toba, gunung Krakatau cuma memuntahkan 25 kilometer kubik abu vulkanik, 200 kali lipat lebih sedikit ketimbang Toba. (Sumber: dw.com)

4.8.16

Bahan Pengawet Mummi Firaun Berasal dari Barus


Para raja dan ratu Mesir Kuno meyakini rempah-rempah punya kekuatan magis untuk memberikan kecakapan dan wewangian seperti dewa-dewi.


Bahkan di kehidupan setelah kematian, rakyat Mesir Kuno juga percaya bahwa lada dapat menahan dewa kematian yang akan menggerogoti tubuh.

Ketika Firaun Ramses II meninggal pada 12 Juli 1224 SM, "para abdinya menjejali lubang hidung Sang Firaun dengan biji lada," tutur Singgih Tri Sulistiyono, sejarawan dari Universitas Diponegoro, Semarang.

Penggunaan lada dimaksudkan untuk pengawetan mayat yang sudah merupakan tradisi bagi para Firaun di Mesir.

Di Tiongkok, para raja Dinasti Han mewajibkan siapa pun yang akan menghadapnya harus mengunyah cengkeh, agar nafas mereka wangi ketika bicara. Nah, di manakah mereka mendapatkan rempah? 

Barus!

Antropolog dari Universitas Indonesia, Rusmin Tumanggor menceritakan, pada zaman dahulu di Barus ada pelabuhan yang sangat terkenal di dunia.

Pelabuhan di pantai Barat Sumatera ini mengekspor kapur Barus, minyak umbil, lada, kunyit, buah pala, cengkeh, kemenyan, kelapa, durian, pisang, tebu, duku, langsat, petai hingga jengkol.

"Barus pernah berhubungan dagang dan obat-obatan dengan Arab, Cina, Yahudi dan India," ungkap Rusmin yang 3,5 tahun meneliti teknik pengobatan Barus untuk disertasinya.

Merujuk hasil penelitian Rusmin, dalam Sipele Sumangot--kitab suci agama setempat--ada mantra dan jampi pengobatan yang terkait dengan ungkapan reliji dari Arab, Cina, Yahudi dan India.

"Dari bukti ini, jika dihipotesiskan, sekitar 5000 tahun hingga sekarang atau 250 tahun sebelum masehi, Barus sudah punya hubungan dengan negeri-negeri tersebut."

Dan yang patut dicatat, kabarnya, negeri-negeri di Eropa baru mengenal rempah di abad pertengahan. Dan begitu mereka mendapati kepulauan rempah di Run, Banda, Ternate, Tidore dan lain pulau di negeri yang hari ini bernama Indonesia, tatanan dunia pun berubah.

Sejarah mencatat, temuan "harta karun" ini bertaut-paut dengan perkembangan kapitalisme yang melahirkan imperialisme dan kolonialisme di muka bumi ini. Lakonnya antara lain Portugis, Spanyol dan Belanda. 

Ilmuwan Barus

Kembali ke hubungan para ilmuwan Barus dalam hal pengobatan dengan para ilmuwan Arab, Cina, Yahudi dan India, sebagaimana dijelaskan Rusmin Tumanggor di pangkal cerita ini.

Ilmu pengobatan Barus amatlah kesohor. Dari dulu hingga sekarang, ilmuwan di bidang medis oleh orang Barus disebut Datu.

Rusmin menjelaskan, Datu adalah orang yang memiliki ilmu, ketrampilan serta akhlak dalam memahami penyakit dan pengobatan terhadap penderita penyakit angin (sakit biasa) dan penyakit gaib.

Datu Barus ada tiga sebutan. Datu Bolon atau dukun besar mampu mengobati 120 macam penyakit dan memiliki 60-an mantera.

Kemudian Datu Gelleng atau dukun kecil yang mampu mengobati 1 hingga 10 jenis penyakit dan punya mantera sebanyak 1 hingga 10 pula.

Lalu Datu Parangas-angas. Ini dukun yang bisa mengobati penyakit berat dan parah alias kronis.

Saat akan mengobati, sebagaimana diutarakan Rusmin, seorang datu memanggil makhluk halus pujaan ilmunya dengan rempah tertentu untuk memahami penyakit pasiennya.

Sebelum mengobati, datu terlebih dahulu berkonsentrasi dan permisi kepada arwah gurunya.

Nah, rupanya ada pula etika dalam perdatuan. Setinggi apa pun ilmu datu, ia tak boleh mengobati apabila tidak diminta.

Seorang datu hendaklah rendah diri. Ia tidak boleh memasang tarif, meski pun tiap mengobati, pasien wajib membayar syarat. Jika tidak maka datu akan sakit. Kuncinya ikhlas!

Setelah mendiagnosa pasiennya, selain mantera dan jampi, untuk mengobati diracikkan obat yang lazimnya dari rempah-rempah.

Agar tak sekadar beromantisme pada sejarah masa lalu, pria 68 tahun itu mengingatkan bahwa saat ini rempah Indonesia telah dibudidayakan di banyak negara di Asia, Eropa, Afrika dan Amerika.

Selanjutnya, kata dia, masing-masing negara berupaya serius meneliti khasiatnya dan mematenkan sebagai haknya serta memasarkan produksinya.

Dan seperti yang sudah-sudah, Indonesia menjadi pengekspor bahan baku yang tersisa dan menerima import produksi bahan jadi dalam bentuk makanan, minuman, obat-obatan dengan harga mahal. 

Bila itu terjadi, pada masa yang akan datang, Indonesia hanya akan memproduksi dan menjual tulisan-tulisan di buku, majalah, jurnal tentang kehebatan pengobatan dan rempah Indonesia masa lalu yang tinggal kenangan.

Menurut Rusmin, negeri ini kaya rempah. Namun sayang tak diurus. "Kebijakan penguasa umumnya berpihak pada keuntungan picisan komisi dan upeti dari perdagangan orang asing yang mengeruk-kuras alam dan memperbudak manusia Indonesia di negerinya sendiri." (Wenri Wanhar/jppn.com)

Setiap ke Toba, Keindahannya Terasa Berbeda

Ketika para geolog dunia menemukan bukti bahwa Danau Toba terjadi dari empat kali letusan gunung dan letusannya mampu mengubah dunia, kekaguman orang akan keindahan Toba semakin menjadi.

Setiap kali datang ke Toba, sarjana geografi itu selalu kagum karena keindahan yang didapatkannya di Toba selalu berbeda.

Perbukitan hasil aktivitas vulkanik dan tektonik ribuan tahun berdiri indah mengelilingi air biru kehijauan seluas 1.100 kilometer persegi. Dengan kondisi bentang alam yang didukung kuatnya budaya warga di sekelilingnya, mengunjungi Danau Toba bak melakukan penziarahan.

Empat letusan Toba terjadi pada 1,2 juta tahun lalu hingga 74.000 tahun lalu. Letusan-letusan dahsyat itu menghasilkan kaldera Haranggaol, Parapat, Porsea, Silalahi, dan Sibandang.

Letusan terakhir yang terdahsyat. Sebanyak 2.800 kilometer kubik piroklastik silika terlontar dari perut bumi, terbang hingga menutupi Asia Selatan, Arab, India, dan Laut Tiongkok Selatan. Letusan itu tercatat 35 kali lebih dahsyat dibandingkan Tambora, 150 kali lebih hebat daripada Krakatau, dan 50.000 kali kekuatan bom Hiroshima hingga menabalkan nama Super Volcano Toba.

Akibat letusan itu, bumi gelap selama enam tahun, suhu udara turun hingga 5 derajat celsius. Migrasi manusia terhenti dan nyaris melenyapkan peradaban manusia seperti diceritakan Ahmad Arif, dkk dalam Ekspedisi Cincin Api Kompas, Toba Mengubah Dunia.

Daratan Sumatera juga tidak diam membentuk danau. Aktivitas tektonik Sumatera membuat danau berbentuk tak beraturan. Gerakan magma dari sisa letusan terakhir dan gerakan lempeng Indo Australia yang memengaruhi sesar Sumatera mendorong naiknya perut bumi dari dalam danau 33.000 tahun lalu. Daratan baru terbentuk seluas 1.481 kilometer persegi yang kemudian disebut Pulau Samosir.

Proses alam itu menciptakan panorama luar biasa indah yang dikagumi Yustinus. Panorama danau di Parapat menyuguhkan danau yang luas. Di Desa Sigaol Simbolon, Samosir, Danau Toba lebih mirip sungai lebar karena jarak Pulau Samosir dan Sumatera yang pendek.

Jernihnya air terjun Sipiso-piso di Karo berbeda dengan air terjun di Desa Bonan Dolok, Pangururan, yang airnya mirip air teh. Pesona terasering dengan batu besar terserak di Desa Sabulan, Samosir, berbeda dengan hamparan padi di Balige, Toba Samosir.

Pemandangan menawan juga terhampar ketika menyusuri danau dengan kapal. Susunan bukit tufa (yang terbentuk akibat letusan gunung berapi) dari Balige hingga Pulau Sibandang di Tapanuli Utara atau dari Pangururan menuju Silalahi membuat pengunjung takjub.

Ungkapan rasa itu ditunjukkan Sebastian Hutabarat (45), warga Balige, dengan tak henti menyanyikan lagu ”O Tao Toba, Rajani Sudena Tao (Danau Toba, Raja Segala Danau)”, karya Nahum Situmorang, pencipta lagu legendaris dari Tapanuli, saat mengelilingi danau. 

Budaya megalitik

Tahun 2014, arkeolog Balai Arkeologi Medan, Ketut Wiradnyana, melakukan penggalian di kampung Si Raja Batak di Sianjur Mula-Mula, Samosir, yang dipercaya sebagai asal-usul orang Batak. Penggalian itu menemukan bahwa kawasan itu baru didiami sekitar 1.000 tahun lalu.

Migrasi manusia ke Toba diduga melalui Barus di pantai barat Sumatera dan pantai timur menyusuri Sungai Asahan yang menghubungkan Danau Toba dengan Selat Malaka. Mereka membawa kebudayaan megalitik yang tinggi, mengenal pertanian, perahu, bahasa, huruf, dan tulisan.

Sisa budaya megalitik itu dapat disaksikan di kampung-kampung di Samosir. Di Kampung Simarmata di Sihotang, misalnya, benteng batu setinggi 2 meter mengelilingi. Sarkofagus (tempat penyimpan jenazah dari batu) besar yang terukir rapi berdiri di tengah kampung bersama lumpang batu besar untuk menumbuk padi.

Padi tumbuh subur di sawah bertingkat bersama batu-batu besar sisa letusan gunung yang berserakan. Air jernih muncul dari lereng pegunungan yang mengitari danau. Tak heran, Sihotang terkenal dengan beras yang enak, terutama beras merah.

Dalam tradisi megalitik, gunung atau tempat tinggi dipercaya sebagai jalan menuju ke dunia tempat asal-usul manusia. Demikian pula suku Batak yang mendiami sekeliling danau memercayai bahwa asal-usul mereka dari Gunung Pusuk Buhit, gunung api muda Toba. Padi dan ternak dari lembah-lembah danau pun dipersembahkan di Pusuk Buhit sebagai bagian dari adat.

Rumah-rumah panggung beratap melengkung mirip perahu— beberapa berukir warna merah-hitam indah dan berdiri gagah—masih banyak ditemukan di tepi danau. Penghuninya ramah penuh kehangatan.

Keluarga Tahiran br Purba (81) di Desa Sabulan, Samosir, misalnya, segera menanak nasi merah untuk menyuguhi tamunya. Arsik ikan mas berbumbu rempah ditambah petai hasil kebun dan air jahe hangat menemani.

Suhu udara di malam hari yang mencapai 10 derajat celsius kalah oleh hidangan sederhana-lezat dan kehangatan keluarga yang mengobrol ramah di samping perapian di ruang tengah.

Pariwisata Danau Toba mencapai puncaknya pada 1996 dengan jumlah kunjungan wisata 249.656 orang. Kejayaan itu meredup diterpa krisis global, alasan keamanan, hingga buruknya pengelolaan pariwisata. Kawasan Tuktuk, misalnya, pada 1995 hidup selama 24 jam dan dipenuhi wisatawan asing. Kini pukul 21.00 kawasan itu bak kota mati. Aliran listrik pun sering padam.

Rencana pemerintah membangun pariwisata Toba disambut gembira oleh warga, tetapi juga kekhawatiran. Hilangnya hak atas tanah adat, narkoba, prostitusi, perjudian, dan rusaknya lingkungan Toba menghantui. Mereka meminta Toba bukan untuk dieksploitasi, tetapi dijaga karena di sana mahakarya bumi berdiri. (Aufrida Wismi W/Nobertus Arya Dwiangga M/kompas.com)

1.8.16

Rumah Pengasingan Bung Karno di Danau Toba, Jangan Lupakan!

TobaTimes-Bung Karno dan sejumlah bapak bangsa lainnya pernah diasingkan ke kawasan Danau Toba. Sejarawan Sumut, Ichwan Azhari mengingatkannya untuk kita semua. Momen yang pas jelang even Karnaval Kemerdekaan Pesona Toba 2016. Di akun facebook pribadi miliknya, Ichwan Azhari menuliskan hal itu, demikian:


Kata berita, Presiden Jokowi akan menghadiri “Karnaval Kemerdekaan Pesona Toba 2016”, yang nampak super mewah sampai buat panggung di atas air tapi sekaligus mempermalukan kecerdasan kita sebagai bangsa.

Mempermalukan kecerdasan karena judulnya Karnaval Kemerdekaan (bulan Agustus), tapi spirit berkaitan dengan sejarah kemerdekaan di Prapat, patik lihat tidak ada dalam agenda program.

Baru kemarin kita lihat di Medsos, Wapres dituduh membuka Musyawarah Adat Batak versi satu faksi Batak saja dan dicibir faksi Batak lainnya. Kini apakah kita menunggu Jokowi dipermalukan dalam agenda Karnaval Kemerdekaan karena pakai istilah “kemerdekaan”.

Sementara spirit dan peristiwa berkaitan dengan kemerdekaan yang ada di depan hidung (Situs Rumah Pengasingan Bung Karno, Sutan Sjahrir dan H.Agus Salim) dinistakan?

Pada akhir Desember 1948, tiga pemimpin Republik Indonesia, yakni Bung Karno, Sjahrir, dan Haji Agus Salim, diasingkan ke Sumatera Utara, mula-mula ditempatkan di Brastagi lalu dipindahkan ke Prapat.

Kata Bung Karno: “Rumah kami letaknya di ketinggian di ujung semenanjung di atas tebing yang curam menghadap ke danau. Sangat indah pemandangan itu. Pun sukar untuk dimasuki. Di tiga sisi dia dikelilingi oleh air.”

Rumah pengasingan yang kecil di Prapat itu juga menjadi saksi kehidupan para pemimpin Republik yang tidak selalu harmonis. Seperti diakui Bung Karno sendiri, dirinya kerap bertengkar dengan Sjahrir.

Sejarahwan Asvi Warman Adam suatu hari meminta staf patik dampingi berkunjung ke rumah ini dalam rangka mengklarifikasi konflik Soekarno-Sjahrir lewat posisi kamar mandi dan tempat tidur. (Temuan ini kemudian ditulis pak Asvi di bukunya “Bung Karno dan Kemeja Arrow”).

Waktu hendak masuk ke kamar Bung Karno itu Pak Asvi alami sendiri bagaimana sulitnya bisa masuk mengingat situs itu sudah semacam penginapan eksklusif para pejabat dan pegawai Pemprovsu.

Dalam catatan sejarah , Sjahrir kemudian lebih dulu dibebaskan dari rumah tahanan ini. Ketika patik tahun 2010 ke Arsip Nasional Den Haag patik temukan banyak dokumen belum diungkap berkaitan dengan rumah tahanan ini.

Juga foto-foto yang belum ada ditayang di berbagai postingan internet. Patik ada merepro puluhan halaman dokumen yang masuk dalam kategori arsip rahasia Belanda di bawah nama “Geheim” di pojok Arsip.

Patik juga temukan beberapa telegram Bung Karno ada kepada Sjahrir dan Hatta yang menyetujui kedua pemimpin ini sebagai wakilnya dalam perundingan dengan Belanda. Ada juga telegram Bung Karno yang menyebut Sjahrir sebagai “Penasehat Presiden RI”.

Dokumen dari rumah ini (termasuk hasil interogasi Belanda, tawaran-tawaran dan rayuan Belanda) banyak yang belum diungkap dalam sejarah.

Sayangnya rumah ini tidak begitu dikenal dalam sejarah Indonesia dan ruang dalamnya sulit dimasuki masyarakat umum sebagai situs sejarah karena dijadikan mess peristirahatan pejabat Pemprovsu.

Seharusnya rumah ini dijadikan Museum atau rumah Sejarah Nasional dan tidak dijadikan Mess Pemrovsu lagi agar semua lapisan masyarakat khususnya generasi muda leluasa mendapat pembelajaran sejarah dari rumah yang sangat historis ini.

Pemerintah pusat harusnya mengambil alih rumah ini untuk dijadikan museum atau memaksa Pemprovsu membatalkan ini jadi penginapan.

Banyak kisah orang kecewa setelah datang jauh-jauh sampai di sini tidak boleh masuk karena “Tuan Besar Pemprovsu lagi nginap”, atau mungkin kamar lagi disewakan.

Karnaval Kemerdekaan harusnya secara cerdas memasukkan situs rumah Bung Karno ini jadi objek kunjungan “kemerdekaan”, dibuka untuk umum, mengisinya dengan pameran, pemutaran film sejarah atau diskusi.

Penanaman nilai-nilai kebangsaan bukan hanya dalam pidato-pidato formal yang semakin memuakkan itu, tapi lewat kunjungan ke situs Bung Karno yang mengharukan ini.

Dua bulan lebih 3 tokoh pendiri bangsa di sekap di sini. Dan kini situsnya diabaikan saat bangsa yang mereka perjuangkan kemerdekaannya itu sedang pesta pora Karnaval Kemerdekaan berbiaya milyaran rupiah.

Entahlah kalau kita tidak punya rasa malu lagi kepada para pejuang yang pernah kesepian ditawan di tempat itu. (Ichwan Azhari/pojoksumut)