25.8.16

Danau Toba Pernah jadi Markas Para Bandit


TobaTimes-Danau Toba pernah jadi markas para bandit kota Medan semasa perang kemerdekaan Indonesia (1945-1949). Mereka menempati vila dan bungalow-bungalow mewah peninggalan tuan kumpeni. Pimpinannya bernama Timur Pane.

Danau Tempo Dulu. Foto/Arsip Nasional Belanda
Parapat, 15 Juli 1947. Malam sudah larut ketika Muhammad Radjab, wartawan Kantor Berita Antara tiba di Danau Toba. Radjab yang datang bersama tiga wartawan lainnya merupakan delegasi pemerintahan pusat; Kementerian Informasi Republik Indonesia yang berkedudukan di Yogyakarta.

"…tidak ada yang tampak selain bukit-bukit yang hitam. Air danau hampir tak kelihatan. Yang terdengar hanyalah riak-riak yang bergelut dan berdesir di tepi. Dalam gelap dan malam yang sejuk itu, ingatan hanyalah ingin tidur," tulis Radjab dalam buku Tjatatan di Sumatera. 

Esok paginya, Radjab yang terkagum-kagum dengan keindahan Danau Toba menulis:

"Kita tercengang melihat kebesaran dan keluasan mukanya yang seperti cermin raksasa biru…gunung yang hijau kebiru-biruan di atasnya…anting-anting zamrud besar yang tergantung di leher Sumatera. Di depan kita terbentang pula Pulau Samosir yang curam tebingnya…lenyap segala kemasygulan dan kesedihan hidup yang dialami selama bertahun-tahun di Jawa."

Markas Timur Pane

Berdasarkan pandangan matanya, Radjab menggambarkan, saat itu vila dan bungalow yang banyak bertaburan di Prapat dihuni oleh pasukan Mayor Jenderal Timur Pane--satu di antara lakon yang menginspirasi Asrul Sani membuat film Naga Bonar.

"Kami dapat bertemu dengan Timur Pane ini di rumahnya, salahsatu sebuah bungalow di tepi danau," kenang Radjab.

Kepada wartawan berdarah Minang itu, Timur Pane--figur yang sangat terkenal dan ditakuti di Sumatera Timur masa itu--bercerita bahwa dulunya ia pedagang jengkol, lada dan sayuran di pasar Medan.

Kemudian nyopet, di samping aktif sebagai anggota Partai Pendidikan Nasional.

Timur Pane punya badan kecil. Sebagian wajahnya kebiru-biruan. Matanya awas sekaligus liar. Dia kesohor karena kejam. Sesuai dengan apa yang dipercakapkan orang, kepada Radjab dia sendiri mengaku sering menyembelih orang di medan tempur.

Meski sadis kepada lawan, "sebagai tuan rumah, Timur Pane seorang yang ramah. Jamuannya sangat memuaskan. Lebih dari cukup. Masakannya sangat enak," sanjung Radjab.

Sesudah makan, sang bandit revolusioner mengajak tamunya duduk-duduk di beranda depan.

"…sambil melihat bukit yang tinggi-tinggi dengan hutan cemaranya. Danau biru yang telah besar-besar ombaknya. Alam Toba yang penuh puisi dan romantik," tulis Radjab, mereka membirakan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Penuh percaya diri Timur Pane mengatakan, persenjataan yang dimilikinya cukup untuk berperang selama 18 tahun. Dan jika mau, kota Medan dapat direbutnya dalam waktu 24 jam.

Sayangnya, menurut Timur Pane, para pembesar pemerintah di Sumatera Timur tidak ada yang baik. Sambil menyebut satu-satu nama pejabat, dia menjelaskan ada yang kaki tangan NICA, ada yang borjuis, ada yang gila harta dan sebagainya.

"Karena kami sudah mengunjungi Sumatera Timur," tulis Radjab, "kami tahu bahwa setengah dari yang dikatakannya memang benar. Memang banyak pegawai dan pemimpin yang korup, yang mementingkan kantongnya sendiri, yang mengambil untung dari kekacauan."

Tak hanya asyik sendiri dengan cerita-ceritanya, sembari menikmati hamparan pemandangan Danau Toba dari beranda markasnya, Timur Pane juga bertanya mengenai kawan-kawan seperjuangan di tanah Jawa. (Penulis: wenri wanhar/jpnn.com)

0 comments:

Post a Comment