Showing posts with label TAPANULI. Show all posts
Showing posts with label TAPANULI. Show all posts

5.2.20

Dikasih Uang Rp4 T, Terpakai Cuma Rp1 T, Oh Danau Toba...


TobaTimes - Status Danau Toba sebagai destinasi pariwisata super prioritas terancam dicabut. Dana sebesar Rp4 triliun yang pernah dijanjikan Presiden Joko Widodo untuk pengembangan kawasan pariwisata di Danau Toba, terancam ditarik kembali oleh pemerintah pusat untuk dialihkan ke wilayah lain.

Danau Toba.
Pasalnya, penyerapan anggaran untuk pengembangan pariwisata di danau terbesar di Asia Tenggara itu tidak maksimal.

Padahal menurut Direktur Pemasaran Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT), Basar Simanjuntak, dana Rp4 triliun tersebut sudah on place (di APBN) dan siap dikucurkan. Direncanakan dana itu digunakan untuk persiapan berbagai fasilitas pariwisata di tujuh kabupaten di kawasan Danau Toba.

“Anggaran untuk pengembangan super prioritas wisata Danau Toba Rp4 triliun. Duit itu harus dihabiskan dengan benar. Namun yang terjadi saat ini, justru baru terserap Rp1 triliun,” ungkap Basar Simanjuntak dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi B DPRD Sumut, pemkab se-kawasan Danau Toba, Disbudpar Sumut, dan pelaku pariwisata Sumut, Senin (3/2/20).

Karenanya, dia khawatir status Danau Toba sebagai salah satu destinasi pariwisata super prioritas yang dicanangkan pemerintah pusat pada 2019 lalu bersamaan dengan destinasi lain seperti Labuhan Bajo, Borobudur, dan lainnya, kemungkinan bakal berakhir lebih cepat.

“Status super prioritas itu mungkin berakhir dua tahun lagi sejak sekarang. Tapi prediksi saya, status super prioritas ini bisa saja berakhir tahun depan (2021),” ujarnya.

Tidak maksimalnya penyerapan dana Rp4 triliun itu, lanjut Basar, disebabkan sejumlah hambatan dari masyarakat, terutama soal pembebasan lahan yang rumit dan berlarut-larut.

Saat ini, bebernya, ada salah satu marga yang melakukan gugatan hukum terkait status tanah yang hendak dibangun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Selain soal pembebasan lahan, Basar menyebutkan, penolakan masyarakat juga menjadi kendala utama pengembangan pariwisata Danau Toba.

“Saat ini sudah sepuluh kali sidang. Saya pikir (jaur hukum) ini jauh lebih bagus, jadi ada kepastian,” ujar Basar.

Jika penolakan ini terus berlanjut tanpa ada solusi hukum, Basar khawatir masa kerja pembangunan destinasi wisata super prioritas Danau Toba tidak akan maksimal hasilnya.

Padahal rencana pembangunan dari anggaran tersebut antara lain; pelabuhan bebas Parapat, pelabuhan Sigapiton (Toba Samosir), waterfront Pangururan (Samosir), waterfront Pantai Atsiri, Padat Barelong (Toba Samosir) dan sebagainya.

“Diantara rencana itu, hanya pembebasan lahan untuk pelabuhan bebas Parapat dan Pantai Atsiri yang sudah 100 persen selesai. Yang lainnya belum,” ujarnya.

Informasi tersebut diperolehnya setelah minggu lalu bertemu dengan pihak Kementerian PUPR. Persisnya dengan Direktorat Jenderal Cipta Karya.

“Disebutkan, kemungkinan hanya Rp1 triliun dana tersebut yang terpakai untuk pengembangan kawasan Danau Toba. Sedangkan Rp3 triliun lagi kemungkinan dialihkan ke daerah lain,” katanya.

Diakuinya, di setiap daerah problem pembebasan tanah berbeda-beda, mulai dari soal harga atau berbagai faktor lainnya.

“Ini seharusnya jadi perhatian kita bersama. Kita carikan solusinya, sebab status super prioritas hanya sampai 2021, setelah itu harus cari dana sendiri,” katanya. (bbs/int)

6.8.19

Kristina Gultom Siswi SMK Taput, Tewas Mengenaskan dan Diduga...


TobaTimes - Siswi SMK Kristina Br Gultom (20) ditemukan tewas dalam posisi telungkup tanpa busana di perladangan Dusun Pangguan Hutapea Banuarea Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Senin (5/8/19).

Proses evakuasi jasad Kristina Gultom.
Penemuan mayat Kristina yang diduga korban pemerkosaan ini sedang viral di media sosial Facebook. ALFONSO Situmorang merupakan satu di antara warganet yang membagikan penemuan mayat Kristina yang diketahui sebagai pelajar SMK Swasta Karya Tarutung.

Alfonso Situmorang membagikan empat foto dan satu video, yang disertai status sebagai berikut di sebuah grup. Saat ini Penyidik Polres Taput telah mengevakuasi mayat dan masih proses penyelidikan.

Informasi yang diperoleh, jenazah Kristina ditemukan dalam posisi telungkup tanpa busana. Jenazah Kristina ditemukan di antara semak pohon bambu dekat perladangan warga, sekitar pukul 08.00 WIB.

Pada video yang dibagikan Alfonso Situmorang, terlihat seorang perempuan mangis tersedu-sedu di sekitar lokasi penemuan jenazah Kristina.

Perempuan yang menangis meraung-raung itu diduga sebagai ibu korban. Itu diketahui dari kata-kata yang diucapkannya dan menyebut ingin melihat wajah putrinya.

Jenazah Kristina telah dievakuasi dari lokasi penemuan menggunakan mobil ambulans milik Dinas Kesehatan Pemkab Taput.

Terlihat warga sangat banyak yang berada di lokasi penemuan jenazah Kristina. Dari percakapan yang terdengar di video, Kristina sedang PKL di kantor pemerintahan.

Ada yang menyebut di Kantor Dispora Tapanuli Utara, dan ada juga yang menyebut di Kantor Bupati Tapanuli Utara,

Kristina ditemukan oleh ayahnya, Sardi Gultom dan sejumlah warga lainnya yang memang melakukan pencarian, setelah Kristina tidak pulang ke rumah dan tak bisa dihubungi.

Jenazah korban dievakuasi sekitar pukul 11.20 menuju Rumah Sakit Tarutung untuk divisum. Sementara, polisi masih berada di lokasi penemuan mayat dan telah membuat police line.

Dikabarkan, terduga pelaku sdah diamankan di Polres Taput untuk dimintai keterangan.

Kasubbag Humas Polres Tapanuli Utara, Aiptu Sutomo M Simaremare mengatakan, Polres Tapanuli Utara berjanji segera mengungkap kasus kematian Kristina siswi SMK Swasta Karya Tarutung yang diduga diperkosa sebelum dibunuh.

“Polisi sedang mendalami kasus kematian Kristina ini,” ujar Sutomo M Simaremare.

Kata Sutomo, Kristina merupakan siswi kelas XII, SMK Karya Tarutung, warga Dusun Barbaran Huta Pangguan, Desa Hutapea Banuarea, Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Sehari-hari tinggal bersama kedua orang tuanya dan sedang menjalani praktik kerja lapangan di Kantor Dispora Taput.

Sardi menemukan putrinya sudah dalam keadaan tidak bernyawa di kebun yang tidak jauh dari rumahnya.

Mendapat informasi tersebut, petugas Satreskrim Polres Taput pada pukul 08.00 WIB pun bergegas menuju lokasi korban ditemukan.

Sutomo menjelaskan, saat melakukan olah TKP, petugas mengamankan barang bukti dan mengevakuasi korban ke Rumah Sakit Umum Tarutung. Korban ditemukan tanpa busana.

Korban merupakan putri dari pasangan Tiomasretna boru Simatupang dan Sardi Gultom.

“Ya, mendekati kebetulan korban tanpa busana, tapi kita belum bisa pastikan. Tapi, masih kita dalami agar tidak simpang siur,”ujar Sutomo.

Dari lokasi kejadian, polisi menemukan pakaian dalam (bra) korban sekitar 3 meter. Lalu, 1 meter dari posisi korban didapati celana dalam korban.

“Kemudian pukul 11.20 WIB kami dibawa ke Rumah Sakit Umum Tarutung untuk mendapatkan visum,” jelasnya.

Siapa diduga pelaku? Aiptu Simaremare mengaku masih mendalami kasus tersebut.

Namun, saat ini Polres Taput sudah mengamankan seseorang yang menurutnya belum bisa disebut namanya.

“Proses penyelidikannya kan harus cepat. Jadi artinya kami di situ kan lagi proses, dan berusaha mengungkap ini,” jelas Sutomo.

“Kalau sekarang pihak polres lagi berusaha mengungkap. Sesuai petunjuk alibi masyarakat, ada seseorang kita amankan. Tapi belum bisa kita sebut ke publik siapa namanya kalau belum terbukti,” sambungnya.

Seorang warga Darisson Hutapea, warga dusun Bahal Nagodang desa Hutapea Banuarea Kecamatan Tarutung, Taput mencuriga seorang pria.

Darisson curiga kepada RH. Karena pada Minggu (4/8) sore Darisson melihat RH berboncengan dengan seorang perempuan berbaju merah di sekitaran dusun Sitolu-tolu.

Di lokasi RH berboncengan dengan perempuan berbaju merah itu, ayah korban bersama saksi Sanggam memutuskan untuk melakukan penyisiran ke arah Dusun Sitolu-tolu.

Sanggam Hutapea langsung melihat korban sudah dalam keadaan tidak bernyawa dan dengan dalam posisi telungkup di bawah pohon bambu dan salak. (bbs/int)

17.7.19

Parsaoran Hutagalung Dilantik jadi Pj Sekda Taput


TT - Bupati Tapanuli Utara Nikson Nababan melantik Asisten Pemerintahan dan Kesra Parsaoran Hutagalung sebagai Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Tapanuli Utara, bertempat di Gedung Kesenian Sopo Partungkoan, Tarutung, Selasa (16/7/19).

Bupati Taput Nikson Nababan melantik Parsaoran Hutagalung sebagai Penjabat Sekda.
Dalam arahan Bupati berpesan agar Penjabat yang baru dilantik mampu melaksanakan tugas dengan baik dan cepat dan mampu menjadi pemersatu.

"Kiranya Penjabat Sekda dapat bekerja dengan maksimal, mampu menata seluruh elemen masyarakat agar bersatu padu dan saling menolong. Sebagai Penjabat Sekda harus cepat tanggap terhadap permasalahan. Saya akan memberi teguran apabila ada hasil pekerjaan yang tidak tepat," kata Bupati usai pengambilan Sumpah/Janji Penjabat.

Pelantikan dihadiri para Staf Ahli Bupati, Asisten dan seluruh pimpinan OPD. Pelantikan dilakukan berdasarkan SK Bupati Tapanuli Utara Nomor 425 Tahun 2019 dengan dasar Surat Gubernur Sumatera Utara. (bbs/int)

8.10.17

Cemburu, Patar Simbolon Bunuh Istri, Lalu Bakar Rumah


TobaTimes - Peristiwa sadis terjadi di Samosir, daerah yang dianggap tenang dan penuh nilai-nilai kekerabatan. Patar Simbolon membunuh istrinya Pitta Uli Br Girsang (42) dengan sadis, lalu membakar rumah tempat tinggal mereka. Warga Pangururan pun gempar oleh peristiwa. Bukan hanya rumah mereka, rumah mereka tetangga juga ikut terbakar.

Patar Simbolon diamankan petugas.

Kejadian itu berlangsung pada Jumat (6/10/17) sekitar pukul 08.00 WIB, tepatnya di rumah pasangan suami istri ini di Dusun Lumban Lobu, Desa Rianiate, Kecamatan Pangururan, yang kemudian dilaporkan para tetangga ke polisi sekitar pukul 10.00 WIB.

Informasi dihimpun, sebelum membakar rumahnya, pelaku terlebih dahulu mengeluarkan anak-anaknya dan jenazah istrinya keluar rumah.

“Kita tidak melihat langsung kejadian, namun informasi yang kami dapatkan dari warga, kejadian diperkirakan sekitar pukul 08.00 WIB setelah anak-anak korban berangkat sekolah,” terang Kepala Dusun I, Desa Rianiate Edison Simbolon di ruang jenazah RSUD dr Hadrianus Sinaga Pangururan.

"Kami tidak tahu apa motif pembunuhan ini, tapi beberapa minggu terakhir mereka terlihat sering cekcok. Mayat korban kita temukan kurang lebih 70 meter dari rumahnya yang berjarak kurang lebih 1 kilometer dari Perumahan Korpri milik Pemkab Samosir,” lanjut Edison.

Edison menyampaikan, pihaknya sudah meminta bantuan Dinas Sosial Kabupaten Samosir agar mendirikan tenda sebagai tempat tinggal sementara untuk keluarga korban dan keluarga Herlin Simbolon, tetangga korban, yang rumahnya juga ludes terbakar.

Kepala Desa Rianiate Tumpak Sitanggang juga mengatakan hal serupa. Dia menyebut bahwa pemukulan diduga terjadi akibat konflik rumah tangga.

Sementara, salah seorang warga setempat yang tak mau namanya disebutkan mengatakan bahwa korban dipukul di bagian kepalanya menggunakan benda keras dan tumpul. Menurut rumor yang berkembang di masyararakat, Patar cemburu dan menuduh istrinya punya hubungan dengan pria lain.

Dan, tak lama usai laporan warga, personel yang dipimpin Kabag Ops Polres Samosir Kompol Bernard Naibaho berhasil mengamankan pelaku.

“Tersangka sudah diamankan ke Mapolres Samosir dan korban sudan dievakuasi ke RSUD Pangururan untuk dilakukan visum,” ujar Kompol Bernard Naibaho.

Pitta Uli Girsang kesehariannya bekerja sebagai petani, meninggalkan 8 orang anak, 3 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Jenazah korban masih berada di ruang jenazah RSUD dr Hadrianus Sinaga untuk keperluan otopsi. (bbs/int)

1.10.17

Ayah Bunuh Putri Kandung, Dikubur di Samping Rumah


TobaTimes - Seorang ayah tega menghabisi putrinya sendiri dengan cara menggorok lehernya. Peristiwa terjadi April 2017 lalu dan tersimpan rapi selama 5 bulan. Di akhir September kemarin, kasus sadis itu akhirnya terungkap. Saat sang ayah ingin menguburkan jasad putri yang telah dibunuhnya, ia menyuruh putrinya yang lain, adik korban, untuk mengangkat jenazah itu.

Ayah pembunuh anak diborgol polisi.
Polisi mendapatkan laporan dari kakek korban akhirnya meluncur ke lokasi kejadian di Dusun Aek Lobu, Desa Danau Pandan, Kecamatan Pinangsori, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Kamis (28/9/17) pukul 14.30 WIB. Ayah berdarah dingin itu ditangkap tanpa perlawanan. Kepada polisi, pelaku mengakui perbuatannya.

Paur Subbag Humas Polres Tapteng Aiptu Hasanuddin Hasibuan kepada wartawan, Jumat (29/9/17), mengatakan, pembunuhan sadis itu terjadi karena korban bernama Safrida Batee (22) menolak diajak ayahnya memanen daun nilam. Antonius mendatangi kamar putrinya dengan membawa sebilah pisau. Selanjutnya Antonius mendatangi korban ke kamar korban dengan membawa sebilah pisau pemotong nilam lalu menggorok leher korban di dalam kamar tidur korban.

Esok harinya, Selasa (18/4/17) sekira pukul 06.00 WIB, Antonius menyuruh anaknya, RB, yang masih berumur 14 tahun, mengangkat jasad korban untuk dikuburkan di samping rumah mereka. Namun RB mengatakan tidak mampu mengangkat jasad kakaknya dengan alasan terlalu berat, dan akhirnya Antonius-lah yang mengangkat jasad putrinya yang telah dibunuhnya itu. (bbs/innt)

“Antonius mengangkat mayat korban dengan cara memundak dan kemudian langsung mengubur korban di samping kanan rumahnya dengan jarak sekitar seratus meter,” ujar Aiptu Hasanuddin Hasibuan.

Takut dibunuh ayahnya, 3 minggu kemudian sejak peristiwa itu, RB merantau ke Pulau Nias. Sementara, 2 adik RB yang masih berumur 13 tahun dan 6 tahun, tetap tinggal bersama ayahnya di rumah mereka.

Lalu pada Rabu (13/9/17) sekira pukul 15.00 WIB, kakek korban, Yafeti Batee (74), menghubungi RB yang telah berangkat ke Pulau Nias melalui sambungan telepone selular dan mempertanyakan keberadaan cucunya, Safrida. Sebab saat Yafeti ke rumah Antonius dan menanyakan kenapa Safrida tidak pernah kelihatan, Antonius mengatakan bahwa Safrida bersama RB merantau Pulau Nias.

“Kakek korban menelepon RB menanyakan keberadaan korban, apakah ikut dengan RB ke Pulau Nias. Lalu RB mengatakan kakaknya Safrida sudah dibunuh bapak mereka. Selanjutnya, kakek korban menyuruh RB pulang dari Nias dan pada Kamis (28/9/17), RB tiba di Sibolga. Kemudian, pukul 10.00 WIB, RB bersama kakeknya membuat pengaduan ke Polsek Pinangsori,” jelas Aiptu Hasanuddin.

Berdasarkan laporan dan keterangan tersebut, Kasat Reskrim dan Kanit Reskrim Polsek Pinangsori berserta tim gabungan melakukan kordinasi degan kepala desa dan kepala dusun untuk mengetahui keberadaan pelaku. Antonius berada di rumahnya di puncak gunung Danau Pandan yang memakan waktu 4 jam perjalanan untuk bisa tiba di sana.

“Kamis (28/9) pukul 14.30 WIB, tim yang dipimpin Kasat Reskrim berangkat dari Polsek Pinangsori. Setelah menempuh perjalanan naik turun gunung selama 4 jam, tim tiba di dekat rumah pelaku. Akhirnya pelaku ditangkap di rumahnya tanpa perlawanan,” ujarnya.

Usai menangkap pelaku, dilakukan interogasi dan pelaku pun menunjukkan kuburan putrinya itu yang berjarak puluhan meter dari rumahnya.

Sekarang tersangka sudah diamankan di Polsek Pinangsori dan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Untuk sementara, tersangka dikenakan Pasal 338 KUHP hukuman penjara maksimal 15 tahun,” ucap Aiptu Hasanuddin. (bbs/int)

Ayah Bunuh Putri Sendiri, Adiknya Disuruh Ngangkat Jenazahnya


TobaTimes - Seorang ayah tega menghabisi putrinya sendiri dengan cara menggorok lehernya. Peristiwa terjadi April 2017 lalu dan tersimpan rapi selama 5 bulan. Di akhir September kemarin, kasus sadis itu akhirnya terungkap. Saat sang ayah ingin menguburkan jasad putri yang telah dibunuhnya, ia menyuruh putrinya yang lain, adik korban, untuk mengangkat jenazah itu.

Pelaku pembunuh anak diborgol polisi.

Polisi mendapatkan laporan dari kakek korban akhirnya meluncur ke lokasi kejadian di Dusun Aek Lobu, Desa Danau Pandan, Kecamatan Pinangsori, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Kamis (28/9/17) pukul 14.30 WIB. Ayah berdarah dingin itu ditangkap tanpa perlawanan. Kepada polisi, pelaku mengakui perbuatannya.

Paur Subbag Humas Polres Tapteng Aiptu Hasanuddin Hasibuan kepada wartawan, Jumat (29/9/17), mengatakan, pembunuhan sadis itu terjadi karena korban bernama Safrida Batee (22) menolak diajak ayahnya memanen daun nilam. Pelaku adalah petani nilam, sumber penghasilan bagi keluarga ini. Sedangkan istri pelaku sudah terlebih dulu meninggal dunia.

“Pelaku bernama Antonius Batee menggorok leher putri kandungnya hingga tewas. Itu terjadi Senin (17/4) sekitar pukul 18.00 WIB,” ujar Aiptu Hasanuddin Hasibuan.

Cerita pelaku kepada polisi bahwa awalnya korban baru pulang jalan-jalan. Sampai di rumah, Antonius bertanya pada putrinya darimana saja dia. Korban menjawab bahwa dia baru pulang jalan-jalan. Kemudian, Antonius mengajak putrinya ke kebun untuk mengambil daun nilam. Namun korban menolak.

“Malas aku, Pak. Jangan paksa aku,” ujar korban seperti yang ditirukan Antonius kepada polisi.

"Kalau kau tidak mau, kugorok nanti lehermu,” ujar pelaku membalas perkataan putrinya.

Korban menjawab “bunuhlah kalau berani”.

Dan, tak berapa lama usai percakapan itu, Antonius mendatangi kamar putrinya dengan membawa sebilah pisau. Selanjutnya Antonius mendatangi korban ke kamar korban dengan membawa sebilah pisau pemotong nilam lalu menggorok leher korban di dalam kamar tidur korban.

Hingga esok harinya, Selasa (18/4) sekira pukul 06.00 WIB, Antonius menyuruh anaknya, RB, yang masih berumur 14 tahun, untuk mengangkat jasad korban untuk dikuburkan di samping rumah mereka. Namun RB mengatakan tidak mampu mengangkat jasad kakaknya dengan alasan terlalu berat, dan akhirnya Antonius-lah yang mengangkat jasad putrinya yang telah dibunuhnya itu. (bbs/int)

22.9.17

Terjun dan Berguling-guling ke Jurang, Supir Tewas di TKP


TobaTimes - Kecelakaan lalu-lintas di jalan Tarutung-Sibolga, tepatnya di Dusun Aek Parboan, Desa Adiankoting, Tapanuli Utara (Taput). Sebuah mobil lari dari jalur, lalu terjun ke jurang dan menghantam sebuah pohon.

Mobil Xenia terjun ke jurang.
Akibat peristiwa itu, satu orang tewas di tempat. Peristiwa itu terjadi Kamis (21/9/17) kemarin sekira pukul 05.00 Wib.

Sesuai dihimpun, mobil penumpang itu berjenis Daihatsu Xenia bernopol B 1966 NO, dikemudikan Tumpak Hutagalung (48), warga Desa Pagarlambung IV Adiankoting. Ia datang dari arah Tarutung menuju Sibolga.

Di TKP kondisi jalan memang menanjak dan penuh tikungan. Pengemudi diduga lalai sehingga mengalami slip/lepas kendali. Mobil akhirnya masuk dan terguling-guling ke dalam jurang.

Kasubag Humas Polres Taput Aiptu W Baringbing mengatakan, akibat kecelakaan lalu-lintas tersebut, pengemudi bernama Tumpak Hutagalung dan meninggal dunia di TKP. Korban dibawa ke Puskesmas Parsingkaman untuk dilakukan visum, sedangkan kendaraan tersebut mengalami kerusakan berat. (Sumber: newtapanuli.com)

Duh...! Mahasiswi Taput Tewas Nabrak Material Proyek di Humbahas


TobaTimes - Seorang mahasiswi di salah satu universitas di Tapanuli Utara, Melva Erika Simatupang, tewas setelah sepedamotornya menghantam material batu proyek yang dibiarkan berserak di pinggir jalan, tepatnya di Desa Lumban Barat, Kecamatan Paranginan, Kabupaten Humbang Hasundutan.

Suasana rumah duka korban nabrak material proyek.
Peristiwa itu terjadi pada Kamis (21/9/17) malam sekitar pukul 19.00 WIB. Jumat (22/9/2017), di rumah duka di Desa Purba Manalu, Doloksanggul, Humbahas, tampak sanak keluarga bersedih atas peristiwa itu. Sesuai rencana, jenazah Melva akan dikebumikan Jumat (22/9/19) sore ini.

Camat Paranginan Pardomuan Simanullang membenarkan peristiwa itu. “Kita sudah mengingatkan pihak rekanan agar merapikan badan jalan dari material, agar tidak mengganggu para pengguna jalan,” katanya.

Beberapa warga sebelumnya sudah mengeluhkan kondisi material proyek yang diletak di badan jalan. Tidak ada juga semacam plank pemberitahuan untuk hati-hati oleh pihak rekanan. “Pihak kontraktor terkesan tidak menghiraukan keselamatan pengguna jalan. Tidak ada papan bentuk imbauan,” ujar salah seorang warga.

Sementara itu, keluarga almarhum akan melaporkan peristiwa itu kepada pihak berwajib. “Kami keluarga berencana melaporkan kejadian ini dan bila perlu akan menempuh jalur hukum, sekarang kurang etis karena masih berkabung,” kata Adventus Simatupang, salah seorang keluarga korban.

Advantus mengatakan, kejadian seperti ini tidak bisa dibiarkan, perlu diambil tindakan sesuai dengan peraturan dan perundang undangan berlaku. “Pemerintah dan rekanan harus bertanggung jawab atas musibah yang terjadi,” tandasnya.

Kasat Lantas melalui Kanit Laka Aiptu J Tampubolon kepada wartawan membenarkan kejadian itu, namun pihak keluarga sejauh ini belum ada membuat laporan. Polisi akan memeriksa pihak-pihak terkait. (bbs/int)
 

19.9.17

Ngeri...! Dikira Boneka, Jala Nelayan Ini Ternyata Menjaring Mayat


TobaTimes - Seorang nelayan penjala ikan di tepi pantai Pandan, Tapanuli (Tapteng) terkejut bukan main pada Selasa (19/917) pagi. Ia menemukan mayat pria tanpa busana tersangkut pada jala ikannya. Awalnya ia mengira sebuah boneka. Namun setelah dilihat lebih dekat, ia sadar bahwa itu adalah sesosok mayat.

Mayat terjaring jala nelayan.
Riris Panggabean, si nelayan itu, sangat kaget atas temuannya. Dia lalu berteriak minta tolong kepada warga sekitar. Tak lama, warga kemudian berbondong-bondong mengerumuni mayat. Setelah diperhatian seksama, warga ternyata mengenali mayat tersebut. Pria itu disebut-sebut sering mandi laut di tepi Pantai Pandan. "Itu laki-laki sering mandi laut di sini," kata seorang pria.

Kapolsek Pandan AKP P. Tambunan membenarkan hal itu. Berdasarkan data yang mereka kumpulkan, mayat pria itu diketahui bernama Ir Rachmad Tarihoran (57), warga Jalan Pulau Harapan, Kelurahan Cengkareng Barat, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat.

Setelah menerima laporan atas temuan itu, polisi langsung membawa mayat ke Rumah Sakit Umum Pandan untuk dilakukan visum. "Setelah kita terima laporan, kita langsung terjun ke TKP. Mayat langsung kita bawa ke rumah sakit untuk divisum. Sekaligus menunggu keluarganya datang," ujar Tambunan kepada wartawan.

Menurut Kapolsek, pihaknya telah mendapatkan informasi dari pihak keluarga. Almarhum baru 6 bulan tinggal di Pandan, tepatnya di rumah saudara perempuannya di Jalan Padangsidempuan, tak jauh dari lokasi penemuan mayat. "Istri dan anaknya tinggal di Jakarta. Dia (almarhum) di sini baru sekitar 6 bulan," terangnya.

Dikatakan, sekira pukul 8.00 WIB, usai sarapan, pagi itu almarhum pamit hendak mandi laut di belakang Mesjid Raya Pandan. Kebiasaan itu memang rutin dilakukan almarhum setiap hari. Bahkan, warga sekitarpun sempat heran melihat almarhum mandi di laut sampai berjam-jam di pinggir pantai.

"Mungkin sambil refleksi, setiap hari dia mandi laut di belakang Mesjid Raya Pandan. Dekat pula dengan rumah itonya (saudara perempuannya). Memang setiap mandi, almarhum selalu telanjang. Warga pun sempat heran karena almarhum kalau mandi bisa sampai 2 jam," ungkapnya.

Belum diketahui pasti penyebab almarhum tenggelam. "Bisa saja karena keram tiba-tiba, kita belum tahu. Soal riwayat penyakitnya juga belum kita ketahui," ujar Kapolsek.

"Hasil visum, tidak ada luka bekas penganiayaan. Setelah di visum, jenazah dibawa keluarga untuk disemayamkan menunggu istri dan anak-anaknya tiba dari Jakarta," katanya lagi. (bbs/int)

Kecelakaan Maut, 2 Siswi Cantik Tewas Mengenaskan


TobaTimes - Kecelakaan maut terjadi di jalan menuju Pantai Binasi PAL Tujuh, Barus, Tapanuli Tengah (Tapteng). Sepedamotor yang dikendarai Bunga Sinaga (15) dan Hizraini Tanjung (15) bertabrakan secara frontal dengan sepedamotor yang juga dikendarai dua pemuda, Ari dan Kiki, warga Sorkam Barat.

Jenazah korban saat akan dimakamkan.
Akibat peristiwa itu, Bunga dan Hizraini yang masuh duduk di bangku kelas 2 dan kelas 1 SMA Negeri 1 Barus, tewas secara mengenaskan dengan tubuh penuh luka. Mereka sempat dilarikan ke rumah sakit untuk pertolongan, tapi nyawanya tak tertolong.

Peristiwa memilukan itu terjadi pada Minggu (17/9/17). Kedaunya sudah dimakamkan Senin (18/9/19) dalam satu makam di lokasi  pemakaman keluarga di Desa Gabungan Hasang, Kecamatan Barus, Tapteng.

Bunga mengalami pendarahan di bagian kepala dan masih sempat dilarikan RS namun tidak dapat ditolong. Sedang Hizraini langsung meninggal di lokasi kejadian.

Menurut informasi, kedua kendaraan datang dari arah berlawanan. Bunga dan Hizraini hendak pulang ke Barus. Sementara sepeda motor jenis jenis matic datang dari arah Barus menuju Sorkam dikenderai Kiki dan Ari. Ari dan Kiki yang berboncengan juga terpental ke beram jalan dan dilarikan ke RS Pandan, Tapteng.

Saat disemayamkan di rumah duka, ratusan siswa SMA Negeri 1 Barus terlihat mengelilingi jenazah sahabat mereka. Tak ada lagi canda dan tawa dari kedua gadis belia yang merupakan anak bungsu dalam keluarga masing-masing. Ratusan pelayat juga tampak hadir dan sejumlah ungkapan dukacita berupa papan bunga tampak menghiasi rumah duka keduanya.

Kepala Desa Bukit Patupangan Sahlul Tanjung mengatakan, jalan pantai Binasi PAL Tujuh memang sudah banyak menelan korban jiwa, sehingga setiap pengendara harus mematuhi aturan lalulintas jika melintas di kawasan itu. "Mereka sedang jalan-jalan sore namun terjadilah musibah itu," katanya. (bbs/int)

15.9.17

Wanita Itu Menangis dan Berguling-guling di Tanah


TobaTimes - Ratusan personel Satpol PP membongkar kamar petak di belakang warung kitik-kitik di ruas jalan Pantai Binasi, Kecamatan Sorkam Barat, Tapteng, Kamis (14/9/17). Seorang wanita setengah baya yang merupakan pemilik salah satu warung yang protes, tampak menangis sambil berguling-guling di tanah.

Personil Satpol PP melakukan pembongkaran warung kitik-kitik.
Wanita separuh baya itu meminta agar personel Sat Pol PP tidak membongkar kamar di belakang warungnya itu. “Jangan dibongkar, Pak. Tolong jangan dibongkar,” ujarnya sambil terus menangis dan berguling-guling.

Ironisnya, sejumlah warga yang turut menyaksikan pembongkaran itu justru tertawa dan mengejek kelakuan wanita itu. Salah seorang petugas meminta agar warga tidak menyoraki wanita itu dan membiarkan dia menangis dan berguluing-guling di tanah.

Pembongkaran dipimpin Kasat Pol PP Hikmal Batubara yang turut didukung oleh Denpom, Polres Tapteng dan Koramil. Eksekusi sejumlah kamar berukuran kecil yang berjejer di belakang warung minuman tersebut dilakukan setelah sebelumnya sudah mendapat surat teguran dan surat perintah bongkar.

Hikmal mengatakan, eksekusi pembongkaran sejumlah kamar kamar yang diduga tempat maksiat itu dilakukan berdasarkan surat teguran dan sesuai prosedur yang sudah dilayangkan kepada para pemili, yakni Hulman Pasaribu, Masda Hutabarat dan Unyil.

"Kita juga sudah lakukan penggerebekan. Kita lanyangkan surat kepada pemilik warung. Ada tiga pemilik yang sudah disurati agar melaksanakan pembongkaran kamar petak-petak di belakang pondok yang berada di lokasi jalan lintas Binasi ini. Namun mereka tetap bandel sehingga kita melakukan tindakan eksekusi. Kita juga dibantu oleh polisi militer, Polres Tapteng, Koramil 02 Sorkam, kapolsek, camat, lurah, tokoh agama, tokoh pemuda dan masyarakat. Yang kita bongkar adalah kamar petak di belakang pondok ini,” papar Hikmal.

Lurah Binasi Sulaiman Pasaribu mengatakan, pembongkaran lokasi pondok warung kitik-kitik itu atas laporan masyarakat tentang adanya praktik  prostitusi di sejumlah warung di Kelurahan Binasi.

"Pembongkaran ini atas adanya laporan warga yang resah adanya warung bentuk pondok menyediakan kamar kecil bagi pelanggannya. Atas laporan tersebut, maka dilaksanakan operasi untuk membersihkan lokasi di sepanjang jalan Pantai Binasi. Ini sudah meresahkan, masyarakat tidak senang, ya harus dibongkar. Pantai Binasi ini merupakan lokasi obyek wisata, jadi harus bersih dari maksiat,” tegasnya. (sumber: newtapanuli)

12.9.17

Di Aek Sigeaon, Mayat Rahmat Silitonga Ditemukan Mengapung


TobaTimes - Seorang bocah kelas V SD bernama Rahmat Silitonga (11) dilaporkan hilang sejak Senin (11/9/17) petang. Orangtua dan pihgak keluarga sudah melakukan pencarian ke berbagai tempat tapi si anak tak ditemukan.

Jasad Rahmat dievakuasi dari Aek Sigeaon.
Hingga akhirnya, Selasa (12/9/12) siang sekira pukul 14.00 Wib, jenazah Rahmat ditemukan mengapung di Aek Sigeaon, tepatnya di depan Kantor PU Desa Parbaju Julu, Kecamatan Tarutung, Tapanuli Utara (Taput).

Saat ditemukan, jasad Rahmat tidak mengenakan baju dan diduga korban sedang mandi di sungai Aek Sigeaon sebelum hilang. Tubuh korban tampak membiru dan bibir mengalami luka-beku. Jajaran Kepolisian Polres Taput langsung turun ke lokasi untuk mengevakuasi jasad korban.

Salah seorang warga, R Tambunan, mengatakan, korban masih duduk dibangku kelas V SD. "Korban hanyut sudah satu hari hilang namun baru sekarang ditemukan. Korban sudah dicari-cari orangtuanya pada hari Senin kemarin," katanya. (bbs/int)

16.8.17

Ini Baru Mantap, Nenek Usia 79 Tahun Menjadi Penggerek Bendera


TobaTimes - Untuk menyambut peringatan HUT RI ke-72, warga Desa Gabungan Hasang, Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), menggelar berbagai kegiatan. Salah satu kegiatan unik adalah upcara bendera yang dilakukan nenek-nenek lanjut usia (lansia).

Sebanyak 68 nenek-nenek yang tergabung dalam kelompok senam sehat lansia di desa itu upacara penaikan bendera merah putih di Pasar Onan desa setempat, Rabu (16/8/17). Kegiatan itu mengundang perhatian warga karena para lansia berusia 79 tahun menjadi penggerak bendera pada gladi penaikan bendera merah putih.
Nenek 79 tahun jadi penggerek bendera.

Ratusan orang terkesima atas aksi penggerek bendera, yaitu Rianni Sihotang Usia (79), Meriani Sitohang (67), dan Fatima Purba (57). Layaknya anggota paskibra, mereka mengenakan berseragam putih-putih menggerek bendera diiringi lagu Indonesia Raya. Tak ada kesalahan dalam prosesi itu, gladi penaikan bendera itu berjalan mantap.

Kepala Desa Gabungan Hasang Endi Pasaribu yang bertindak sebagai inspektur upacara pada gladi penaikan bendera merah putih itu, mengatakan, orangtua yang tergabung dalam senam sehat lansia gabungan hasang menjadi motivator terlaksananya kegiatan ini.

"Saya sangat mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh orangtua yang begitu bersemangat dalam menyambut perayaan HUT RI ke-72. Kami mengucapakan terimakasih, kegiatan ini di luar dugaan, masyarakat sangat antuasias.  (bbs/int)

15.8.17

Mantap Bah, Ada Beras Lokal di Taput, Namanya NATABO


SOPO - Bupati Tapanuli Utara Drs Nikson Nababan MSi meluncurkan beras lokal produksi Perusda Pertanian. Beras dalam kemasan 10,15 dan 30 Kg merek 'Beras 'NATABO' itu untuk perdana diproduksi sebanyak 32 ton dan siap bersaing di pasaran untuk kelas beras premium.

Bupati Taput lounching Beras Natabo.
"Terima kasih atas kreatif dan inovatif Perusda Pertanian serta pihak-pihak yang terlibat sehingga Taput sudah bisa memproduksi beras produk sendiri," kata Nikson Nababan usai melakukan pengguntingan pita di kantor Perusda Pertanian, Selasa ( 15/8/17).

Nikson berharap beras ini dapat dipajang di Alfamart dan Indomaret sehingga lebih dikenal selain di kios pedagang. "Saya harap kepada Indomaret dan Alfamart untuk memajang produk lokal Taput. Kita siap membantu apa yang dibutuhkan agar semua produk yang sudah punya ijin dapat juga bersaing di pasar-pasar modern," katanya kepada perwakilan Indomaret dan Alfamart yang hadir saat itu.

"Bila nanti produk-produk kita booming, pastinya PAD naik dan tidak terlalu bergantung kepada APBD. Untuk awal, saya harapkan kita yang hadir saat ini mencintai produk lokal dengan jalan membelinya, sehingga citra produk lokal dapat naik dan bila perlu mempromosikannya keluar," pinta Nikson.

Direktur Perusda Pertanian Suwanto Hutasoit bersama jajarannya yakni Bettin Sitompul (Direktur Operasional), Direktur Komersil Lambas Hutasoit, Mustafa Hutasoit meminta dukungan agar beras NATABO dapat bersaing di pasaran.

"Untuk launching pertama kita produksi 32 ton dari gabah yang kita beli dari petani sebanyak 58 ton. Agar kualitasnya baik, Perusda kerjasama dengan penggilingan padi di Laguboti Tobasa," kata Suwanto Hutasoit. (bbs/int)
 

13.8.17

Mereka Butuh Bantuan, Dang Adong Be Na Tinggal...


TobaTimes - Wajah sedih terlihat jelas pada raut muka korban kebakaran yang menimpa warga Dusun IV, Pampean Desa Sileang Kecamatan Doloksanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) Jumat (11/8/17). Mereka kini hidup kesulitan dan membutuhkan uluran tangan dermawan.
Korban kebakaran di Humbahas.
Dua unit rumah rumah yang mereka tempati, berikut isinya, semuanya sudah menjadi arang. Bahkan padi hasel panen tahun ini semuanya habis terbakar.

“Dang adong be na tinggal, ga ada lagi yang sisa, jangankan uang, padi hasil panen lalu juga sudah jadi arang. Hanya baju dibadanlah yang tinggal,” ujar Tumpak Sihite alias Op Dewi,salah seorang korban.

Dikatakan, dia bersama istrinya sementara numpang di tempat keluarga di daerah itu. “Ya mau gimana lagi, sementara ini kita terpaksa numpang tinggal dirumah keluarga,” ucapnya.

Dia berharap ada uluran tangan dari pihak dermawan untuk membantu merenovasi ulang rumah mereka yang hangus terbakar. Bantuan itu diharapkan mampu membangkitkan keterpurukannya dan korban lain.

“Kami sudah kehilangan tempat tinggal, kehilangan modal dan kehilangan mata pencarian. Kami terbuka menerima bentuan dari pihak manapun yang mau perduli meringankan beban kami saat ini,” ujarnya sebagaimana dilansir newtapanuli.com, Minggu (13/8/17).

Dia juga mengatakan, belum ada bantuan dari pemerintah setempat. “Memang ada datang petugas yang menanyakan kronologis kejadian itu, namun hingga sampai sekarang belum ada bantuan yang kami terima,” katanya.

Sejauh ini mereka baru dapat bantuan pemerhati dari warga sekitar. “Sebagai wujud rasa kepedulian, memang sudah ada sebagian keluarga yang datang. Kami tidak melihat dari jumlahnya namun rasa keikhlasan dan kepeduliannya saja. Terimaksihlah atas bantuan dan kepeduliannya semoga Tuhan membalas kebaikan mereka,” sebutnya.

Hal senada diungkapkan korban lain, R Sihite. “Kami mau bilang apa, namanya musibah dan berharap bisa bangkit lagi dengan adanya perhatian semua pihak, terutama sekali Pemkab, anggota DPRD Humbahas maupun pemerhati lainnya,” ujarnya.

Seperti diberitakan, dua unit rumah di Dusun Empat, Sitabotabo, Pampean, Desa Sileang Kecamatan Doloksanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Jumat (11/8) siang seketika menjadi arang. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa kebakaran itu, penyebab kebakaran terhadap rumah berkontruksi kayu tersebut masih dalam penyelidikan polisi. (TT/bbs/int)

1.6.17

Upacara Hari Pancasila, Pejabat Sibolga Wafat Saat Lagu Indonesia Raya Berkumandang


TobaTimes, Sibolga - Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kota Sibolga Syariful Alamsyah Muda Harahap, meninggal dunia pada saat upacara peringatan hari lahir Pancasila yang pertama kali dilaksanakan.

Jenazah dibawa untuk dimakamkan.
Jezanah diberangkatkan ke tempat peristirahatannya dari depan kantor Walikota Sibolga, Kamis (1/6) sekira 15.30 WIB. Hal tersebut merupakah sebuah penghargaan sekaligus yang pertama kali dilakukan oleh Pemko Sibolga kepada ASN nya yang meninggal dalam melaksanakan tugas sebagai abdi negara.

Almarhum juga menjabat sebagai ketua MPC Pemuda Pancasila (PP) Kota Sibolga. "Kita semayamkan di kantor walikota karena beliau meninggal dalam tugas, pas upacara hari lahirnya Pancasila. Hari lahirnya Pancasila dirayakan tahun ini, sesuai keputusan Presiden RI Bapak Joko widodo," kata Walikota Sibolga Syarfi Hutauruk usai pelaksanaan upacara.

Sekilas diceritakan, hal yang paling mengharukan dari kepergian mantan Kabag Humas Pemko Sibolga tersebut, waktu meninggalnya tepat pada saat lagu Indonesia Raya dikumandangkan. "Pada saat lagu Indonesia Raya dikumandangkan, beliau jatuh. Makanya beliau berhak disemayamkan di kantor Walikota. Beliau berhak mendapatkan penghargaan. Apalagi dia ketua PP yang meninggal pada hari lahir Pancasila," pungkasnya.

Sebelumnya, jenazah disemayamkan di rumah duka di Terminal Sibolga. Kemudian disolatkan di Mesjid terdekat diiringi para pelayat yang terdiri dari keluarga, PNS Pemko Sibolga, anggota PP Kota Sibolga dan Tapteng. Tak hanya itu, karena almarhum juga tercatat sebagai anggota Perguruan Pencak Silat Pembela Diri Lintau Komando (PPS PD LINDO), pemberangkatan jenazah dari rumah duka ke mesjid dilepas dengan upacara. 

Almarhum meninggalkan 1 istri, 4 putri dan 1 putra. Dengan riwayat. Jabatan yang pernah di emban almarhum semasa hidup. Pada tahun 1992, awal jadi PNS adalah menjadi staf di dinas PU Kotamadya Sibolga. Kemudian, pada tahu 1994 hingga 1992, beliau mengikuti tugas belajar di LAN RI. Setelah itu, menjadi sekretaris Kecamatan Sibolga Kota pada tahun 1998 hingga 2000. (TT/int)

24.4.17

Pas Mau Pesta, Keluarga Pakpahan Disambar Petir, 7 Orang Tersengat


TobaTimes, Taput - Naas dialami keluarga Parlindungan Pakpahan (58). Hujan yang tiba-tiba deras disertai petir, diduga mengalami korsleting dengan kulkas di rumah itu, sehingga tujuh orang tersengat dan dilarikan ke Puskesmas Kecamatan pangaribuan, Kabupaten, Tapanuli Utara.

Salah seorang korban ditanam di lumpur menghindari panas petir.
Informasi dihimpun, peristiwa tersebut terjadi pada Minggu (23/4) sekira pukul 17.00 WIB, ketika keluarga akan mengadakan pesta syukuran. Parlindungan Pakpahan bekerja sebagai Sekcam Pangaribuan di Sidagal Desa Parsorminan 1 Kecamatan Pangaribuan.

Menurut informasi, Parlindungan Pakpahan akan melaksanakan acara syukuran di rumahnya, karena merasa senang dimana menantunya perempuan sedang mengandung (hamil) tujuh bulan.

Bagi adat Batak daerah itu, hal tersebut sering dilaksanakan bertujuan untuk memohon Pertolongan Tuhan, agar diberikan kesehatan dan keselamatan bagi keluarga yang sedang mengandung dan juga anak yang sedang di nanti-nanti kelahirannya.
Pada saat acara sedang berlangsung, huran deras turun di sertai dengan petir. Waktu itu istri pemilik rumah yang bernama, Marlina Aritonang berdiri di dekat kulkas, dan tiba-tiba merasa tubuhnya kepanasan yang datang dari kulkas yang dekat dengannya. Lalu Marlina menjerit sehingga suaminya Parlindungan Pakpahan menolong dan ikut terkena sengatan listrik. Suaminya berusaha membuka kulkas dan setelah terbuka, dari dalam kulkas keluar cahaya dan sinar sehingga mengena kepada lima orang lagi yang berada di dalam rumah tersebut.

Setelah warga mengetahui kejadian tersebut, lalu warga berdatangan untuk menolong dan melaporkan ke Polsek Pangaribuan. Warga memberikan pertolongan pertama kepada korban dengan cara mengubur badan korban ke dalam lumpur atas nama Marlina Aritonang, Elda Pakpahan, Hotmida Pakpahan, Hotti Harianja. Sedangkan korban Parlindungan Pakpahan dan Doni Pakpahan hanya diberikan minum obat tradisinal berupa air putih yang di campur dengan mesiu peluru senjata api, dan korban James Pakpahan sempat di rawat di Puskesmas.

Menindaklanjuti hal tersebut Kapolres Taput AKBP Dudus HD SIK melalui Kasubag Humas Aiptu Walpon Baringbing, Senin (24) membenarkan kejadian tersebut.

“Saat ini ketujuh orang korban sudah membaik dan sudah di rumah masing-masing untuk dilakukan perawatan keluarga dan untuk istirahat,” jelas Baringbing melalui telepon seluler. (TT/int)

28.3.17

Kakek 69 Tahun Raba-raba Siswi Kelas IV SD

 
Ilustrasi.

TobaTimes, Tapteng - Seorang kakek berusia 69 tahun berinisial WS melaukan perbuatan tak senonoh terhadap gadis kecil yang masih duduk di bangku kelas 4 SD. Orangtua korban, LH (37) dan istrinya SS (35) melaporkan kasus itu ke Polsek setempat.

Peristiwa itu terjadi di Barus, Tapanuli Tengah (Tapteng). Korban berinisial AH (11) dicabuli WS dengan pura-pura baik yaitu memberikan uang kepada korban. Hal itu terjadi saat korban hendak berangkat ke sekolah pada Senin (27/3/17) lalu. Setelah memberikan uang itu, korban melakukan niat jahatnya.

Kejadian pertama kali dilakukan di belakang rumah tetangganya sebanyak empat kali, pelaku meraba-raba kemaluan korban. Lalu hal itu terulang di belakang rumah salah seorang warga tak jauh dari rumah korban.

Aksi bejat sang kakek terungkap pada tanggal 23 Maret 2017 pukul pagi 07:20 WIB saat korban hendak berangkat ke sekolah. Dia dicegat tersangka, lalu memberikan uang Rp5000 dan pelaku tetap meraba-raba korban.

Tak Terima atas perlakuan WS, ayah korban mencari tersangka tapi tidak ketemu dan akhirnya melaporkan kejadian itu kepada kepada kepala desa dan selanjutnya ke Polsek Barus.

Jajaran Polsek Barus kemudian mengamankan pelaku untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Dan berdasarkan pengakuan korban, pelaku sudah melakukan perbuatan tak terpuji itu sebanyak lima kali. (TT/INT)

28.2.17

Lungun Nai, Bangun Kau Boru, Bangun Kau Nak...


TobaTimes, Tapteng - Fitri Hiskya Lumban Gaol (2,5), tewas ditabrak sebuah truk jenis cold diesel BB8426MB, pengangkut es milik CV Yakin. Kejadian di jalan Sibolga-Psp Sidempuan, Sarudik, Tapanuli Tengah, Senin (27/2) sekira pukul 10.00 WIB.

Suasana rumah duka.
Seorang saksi mata, Fitri Sihite (25), menceritakan, kejadian bermula saat Fitri datang bersama tantennya Anti ke toko foto copy tempat dia bekerja. Belum selesai memoto copy, tiba-tiba saja terdengat suara dari arah jalan. Sontak dia dan juga tante Fitri terkejut melihat bocah tersebut sudah terkapar di tengah jalan.

Posisinya tepat berada di bawah ban belakang sebelah kiri truk tersebut. Dari mulutnya keluar buih putih. Tantenya, yang mereka sangka sebagai ibu korban langsung menggendong korban dan melarikannya ke rumah sakit. "Berdarah-darah digendongnya. Keluar putih-putih dari mulutnya," ungkapnya.

Sekira pukul 14.00 WIB, Polantas Polres Tapteng melakukan olah TKP yang dipimpin langsung oleh Kasat Lantas AKP Yusuf. ianto, yang turut hadir pada olah TKP tersebut menyebutkan bahwa dia baru saja bermuat dan hendak ke tangkahan mengantarkan es yang dibawanya. Dia sempat kaget yang melihat korban tiba-tiba muncul dari arah toko foto copy hendak menyebarang. Dia mencoba membanting setir ke kanan dan memijak keras rem. Dan posisi truk saat itu menyilang ditengah jalan. "Aku baru dari gudang bermuat. Dari sini dia datang, kuputarlah setirku ke kanan dan rem kupijak sampai berhenti," terang Rianto kepada petugas.

Dia merasa bagian pintu samping kirinya mengahantam bocah tersebut dan tergeletak dibawah ban belakang. "Sebelah kiri ini kena. Dia, diban belakang inilah pas," ucapnya dengan rasa takut dan trauma dengan kejadian tersebut.

Kasat Lantas AKP Yusuf membenarkan kejadian tersebut. Diterangkannya, dari hasil pemeriksaan merekan korban mengalami luka yang cukup parah. "Luka patah tangan sebelah kiri, memar pada pinggang, kaki kanan patah. Dan robek pada alat kelamin," kata Yusuf.

Usai dimandikan di rumah sakit, jenazah Fitri Hiskya Lumban Gaol akhirnya dibawa ke rumah duka di jalan Rogate, Kelurahan Angin Nauli, Kecamatan Sibolga Utara untuk disemayamkan.

Kesedihan mendalam tampak pada wajah seluruh keluarga. Tak hanya itu, para pelayat juga ikut meneteskan air mata melihat tubuh bocah 2,5 tahun tersebut terbujur kaku ditengah-tengah ruangan.

Yang paling bersedih adalah Anti, tante korban yang selama ini dipanggil dengan sebutan Bunda oleh korban dan saudaranya yang lain. Ternyata, Anti adalah orang yang paling dekat dengan korban. Kepergian Fitri tampaknya belum dapat dia terima. Bahkan, pakaiannya yang sudah berlumuran darah anak kakak kandungnya tersebut belum dia ganti, masih melekat di tubuhnya.

Tangis Anti yang duduk disebelah kiri jenazah memenuhi ruangan. Dia merasa sangat bersalah atas kejadian tersebut. "Pipin (panggilan sehari-hari Fitri, red) kenapa kau lepaskan tanganku tadi. Lihatlah darahmu ini, di celanaku ini," isaknya sambil mencium wajah keponakannya tersebut.

Dia bahkan masih ingat sebelum kejadian, korban sempat memintanya memeluk dan menciumnya. Kenangan tersebut menambah pedih rasa hatinya. "Peluk dulu aku, cium dulu aku bunda katanya tadi, oh Tuhan. Pipin bangun kau nak, bangun kau boru," serunya menangis sejadi-jadinya tak kuat mengingat kenangan tersebut.

Di samping kiri Anti, duduk nenek korban yang juga menangis seraya tidak percaya kalau cucunya tersebut sudah tiada. Dia masih ingat, kalau korbanlah yang sering menemaninya. "Lungun nai. Ise be manogu au, ise be mangajak au tu ginjang (seding kali. Siapa lagi yang memegang-megang aku, siapa lagi yang mengajak aku ke atas," serunya sambil menangis keras.

Sementara, di sebelah kanan jenazah, Murni Pandiangan, ibu korban tak banyak bersuara.

Sambil memeluk kakaknya yang ada disebelah kanannya, dia tak kuat menerima kenyataan tersebut. "Sudah pergi dia kak," isaknya memandang wajah korban yang sudah terbujur kaku didepannya.

Menurut warga, korban adalah anak pendiam dan pintar. Kalau datang ke rumah amangtuanya (abang ayahnya, red) yang menjadi rumah duka saat ini, korban sering menyapu. "Rumah abang bapaknya ini. Kalau mereka tinggal di Parombunan (jalan Jetro Hutagalung). Kalau datang kesini, biasanya menyapunya itu. Pandiamnya ini, anak ini," kata seorang pria. (TT/int)

13.2.17

Adik Dihamili, Abang: Bilang Kau Diperkosa Orang


Ilustrasi.
TobaTimes, Tapteng - Setelah kejadian yang berulangkali tersebut, Senja tidak datang bulan lagi. Dan, itu diberitahukannya pada Riswan.

Saat itu, Riswan menyuruh Senja membawa baju kalau pergi ke sekolah, dan dari sekolah langsung pergi ke Sibolga untuk menggugurkan kandungannya.

Namun Senja tidak mau. Beberapa minggu kemudian, dia diberi pil sebanyak 3 butir untuk dimakan. Namun Senja tak juga keguguran.

“Dia terus mendesak saya agar saya memberitahukan pada istrinya, br S, namun saya tidak berani mengatakannya. Dia terus memaksa saya untuk memberitahukan pada istrinya dengan mengajari saya untuk mengatakan bahwa saya diperkosa orang di Sibandat (Pantai Binasi), dan bilang kalau saya pingsan dan tidak mengenal orang tersebut,” ujar Senja.

Menurut dia, cerita yang dikarang oleh Riswan itu harus diberitahukan kepada istrinya. "Dan, saat saya katakan pada istrinya, dia justru menjawab ‘dang porsea ahu tu hatami (saya tidak percaya pada ucapanmu)’,” jelas Senja lagi.

Kemudian, sekitar tanggal 6 Februari 2017, Riswan dan istrinya, kakak Riswan, dan keponakannya, membawa Senja ke praktek bidan bermarga P di Sibolga untuk menggugurkan kandungannya. Namun hal itu tidak bisa lagi, sebab kandungan Senja sudah berusia 6,5 bulan.

“Dan, pulang dari Sibolga lah datang surat dari sekolah karena saya tidak sekolah, yang diantarkan oleh ibu saya. Saya tetap mau sekolah dan meraih cita-cita. Namun saya tidak tahu lagi, sebab kondisi saya sudah seperti ini,” kata Senja sembari menutup wajahnya yang sudah basah oleh air mata. (TT/INT)