16.11.16

Sehari Jelang Pilkada Siantar, Dua Kelompok Massa Bentrok


TobaTimes, Siantar - Sehari menjelang Pilkada Susulan Kota Siantar, insiden bentrok sempat terjadi pada Selasa (15/11) sekira pukul 09.30 WIB. Dua kelompok warga terlibat aksi lempar batu di Jalan Mual Nauli, Kelurahan Siopat Suhu, Siantar Timur.

Ilustrasi.
Aksi itu berakhir begitu polisi terjun ke lokasi. Namun begitu, para murid sekolah dasar dan para guru yang sedang berada di SD Negeri 122372, tak jauh dari lokasi bentrok, ketakutan. Tak lama usai kejadian, para murid kemudian dipulangkan, meski saat itu masih jam belajar.

Menurut informasi dihimpun, insiden itu berawal saat sekelompok warga datang ke Simpang Jalan Justin Sihombing-Mual Nauli. Mereka mengaku warga yang anti dengan politik uang pada pilkada susulan. Di sana, mereka berorasi menggunakan pengeras suara.

Orasinya berisi imbauan agar tidak mengumpulkan undangan memilih seperti C6. Mereka mensinyalir adanya aksi pengumpulan C6 di sekitar kawasan tersebut.

Ketika seruan untuk menghentikan aktivitas pengumpulan C6 itu dikumandangkan, warga sekitar melakukan penghadangan. Di antara warga itu ada yang membawa senjata tajam berupa parang atau kelewang. Tak lama kemudian, insiden terjadi.

Warga mulai melakukan pelemparan batu. Hal itu membuat warga anti money politics berlarian keluar dari Jalan Mual Nauli. Namun, mereka juga melakukan aksi lemparan balasan.
Hitungan menit kemudian, puluhan personel Polres Siantar dibantu Brimob dan TNI yang bersenjata lengkap, tiba di lokasi. Aparat langsung menghentikan kericuhan. Konsentrasi massa pun berhasil dipecah.

Dodi Sijabat dan Edy Harahap, dua warga yang mengaku warga Jalan Mual Nauli mengatakan, mereka keberatan dengan aksi yang dilakukan sekelompok massa yang mengatasnamakan warga anti money politics. Karena saat ini adalah masa tenang menjelang pilkada susulan.

"Aksi mereka itu jelas mengganggu ketentraman di sekitar tempat tinggal kami. Untuk menghentikan aksi mereka, kami bawalah kelewang. Lari orang itu,” sebut Edy Harahap.

Sementara itu, Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) Partai Golkar Muktar Efendi Tarigan, salah seorang yang ikut dalam massa anti politik uang itu menyebutkan, kehadirannya bersama rekan-rekan ke Jalan Mual Nauli karena mendengar ada aksi pengumpulan C6 di sekitar kawasan itu.

Menurutnya, tiap lembar C6 yang dikumpulkan itu disinyalir akan ditukarkan dengan uang yang nilainya mencapai ratusan ribu rupiah.

"Berdasarkan informasi inilah makanya kami bergerak. Maksud kami adalah untuk mengimbau agar C6 tidak dikumpulkan. Kami mengimbau supaya C6 itu dikembalikan kepada pemilih saat itu juga. Dengan harapan, Pilkada Susulan Siantar ini berjalan bersih dan jujur, tanpa money politics. Jadi sekali lagi, kami kemari untuk mengimbau tidak dilakukan pengumpulan C6,” pungkasnya.

Di tengah terjadinya kericuhan antara warga Jalan Mual Nauli dengan massa anti politik uang itu, Kepala Bagian Operasional (Kabag Ops) Polres Siantar Kompol Faidil, ternyata sempat mendapat ancaman parang oleh orang yang belum diketahui identitasnya.

Ancaman tersebut terjadi ketika Kompol Faidil memerintahkan kedua kubu untuk mundur dan meninggalkan lokasi. Lalu, salah seorang massa penyerang yang diduga dari kelompok warga Jalan Mual Nauli mengacungkan parang ke arah Kabag Ops yang saat itu mengenakan seragam resmi kepolisian.

Selanjutnya, pria yang sempat mengacungkan parang tersebut terus mengejar kelompok warga anti money politics. Sedangkan Kompol Faidil saat itu meminta KBO Sat Reskrim Polres Siantar IPTU Junjungan Simanjuntak untuk mengejar orang yang memegang parang tersebut.

Ditemui terpisah, Faidil membenarkan peristiwa tersebut.  "Benar terjadi pelemparan batu dan mengenai warga sampai terluka. Tapi kita tidak tahu berapa jumlah yang terkena lemparan batu itu. Sekarang warga yang terkena lempar sudah kita eksekusi ke rumah sakit terdekat,” ujarnya.

Terkait kejadian ini, kata Faidil, pihaknya telah menurunkan seluruh mobil klaster ke lokasi kejadian untuk mengamankan daerah tersebut. (TT/int)

0 comments:

Post a Comment