16.8.16

Banyak Toko Roti di Kisaran Tanpa Sertifikasi Halal

TobaTimes- Sederetan toko roti di Kisaran Kabupaten Asahan didesak segera mengurus sertifikasi halal dari Lembaga Pengkajian Pangan Obat-Obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI).

Hal ini dikatakan Ir Suryandi MBA, Ketua Lembaga Konsumen Indonesia Kabupaten Asahan. Dia mengatakan dimana jaminan mengenai produk halal hendaknya dilakukan sesuai dengan asas perlindungan, keadilan, kepastian hukum, akuntabilitas dan transparansi, efektivitas dan efisiensi, serta profesionalitas.“Oleh  karena itu, jaminan penyelenggaraan produk halal bertujuan  memberikan kenyamanan, keamanan, keselamatan, dan kepastian ketersediaan produk halal bagi masyarakat dalam mengonsumsi dan menggunakan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal,” ujarnya, Senin (15/8). 


Kue dan roti merupakan kuliner yang sangat akrab di lidah masyarakat Asahan, yang biasa menyajikan kue dan roti ketika sedang berkumpul bersama keluarga dan cocok juga sebagai teman minum teh, namun kita masih ragu karena kue yang kita beli di toko-toko roti belum memiliki sertifikasi halal. 

Dikatakannya lagi, dari data Lembaga Pengkajian Pangan Obat-Obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) pada 2013-2014 mengungkapkan, hanya ada 304 produk roti dan bahan roti yang dinyatakan halal oleh MUI, apakah produk roti yang di Kabupaten Asahan yang dijual di toko-toko roti Kabupaten Asahan termasuk yang dinyatakan Lembaga Pengkajian Pangan Obat-Obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI). “Itulah yang membuat kita masih ragu, LPPOM meyakini jumlah produsen roti dan bahan roti yang halal jauh lebih banyak, ini karena sertifikasi halal produk di Indonesia masih bersifat sukarela, bukan kewajiban,” sebutnya. 

Ditambahkannya, inilah yang membuat LPPOM MUI bersikukuh meminta RUU Jaminan Produk Halal dapat menghasilkan poin keharusan (mandatory) produsen melakukan sertifikasi halal, MUI tidak pernah menghukum haram suatu produk yang belum pernah disertifikasi halal MUI, namun MUI menyarankan makanan yang diragukan kehalalannya lebih baik dihindari, produk halal bukan hanya kepentingan umat Islam saja tetapi untuk semua, ini juga terkait pengawasan produk, sertifikasi halal akan membantu kendalikan produk impor dan memprotek produk dalam negeri,” bebernya. 

Lebih lanjut dikatakannya, kalau toko roti sudah mempunyai sertifikasi halal, LPPOM MUI akan melakukan pemeriksaan titik kritis roti juga titik non kritisnya, belum lagi flavors yang bahan bakunya bisa ratusan zat untuk satu rasa saja dan semua zat harus dicek satu per satu, proses sertifikasi merupakan proses transparan, terukur dan dapat dipertanggungjawabkan, menjadi tanggungjawab MUI untuk mengabarkan kehalalan produk kepada masyarakat sebab inilah upaya MUI untuk memproteksi umat Islam dalam hal konsumsi, maka dalam waktu dekat kita akan bekerjasama dengan Lembaga Pengkajian Pangan Obat-Obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI).

Untuk melakukan sosialisasi di Kabupaten Asahan karena kedua institusi inilah yang mempunyai alat dan kelengkapan apakah makanan roti yang ada di Kabupaten Asahan sudah mempunyai standar halal yang siap dikonsumsi untuk masyarakat Asahan. (int)

Siswi SMA Batubara Tewas di Kebun, Resleting Celana Terbuka

TobaTimes-Desa Suka Ramai, Kecamatan Sei Balai, Batubara, heboh peristiwa penemuan mayat Kori Larasati (16) di parit kebun sawit milik keluarganya. Belum diketahui motif kematian korban, tapi saat ditemukan resleting celananya tampak terbuka sedikit. 


Keterangan dihimpun, Minggu (13/8), siang sekira pukul 14.00 WIB, korban diketahui pergi seorang diri mengembalakan kambing di areal perkebunan milik orangtuanya. Jaraknya, lebih kurang 800 meter dari rumah mereka. 

Tapi sekira pukul 16.30 WIB, kambing yang diangon korban pulang sendiri ke kandangnya. Sementara Kori Larasati tidak kelihatan. Ditunggu hingga pukul 17.00 WIB, putri pasangan  Supomo (42) dan Irfa Yustika alias Tika (40), ini tak kunjung pulang. 

Supomo pun mulai merasa resah. Kemudian, Supomo berusaha mencari sendiri putrinya di sekitar kebun dan sawah, tempat biasa pengembalaan kambing. Tapi tak ketemu. 

Kemudian sekira pukul 18.00 WIB, Supomo menemui uwak (paman) korban Suwardi dan memberitahukan jika Kori Larasati belum pulang ke rumah. Lalu, Suwardi meminta bantuan warga untuk ikut melakukan pencarian terhadap korban. Suasana Minggu malam di Desa Suka Ramai pun mendadak heboh. 

“Satu kampung ikut melakukan pencarian, tadi malam,” ujar Supomo, orangtua korban di rumah duka di Dusun III, Desa Suka Ramai, Senin (15/8). 

Hingga malam sekira pukul 22.50 WIB, lanjut Supomo, mereka sempat pasrah karena pencarian sama sekali tidak membuahkan hasil. 

Saat keluarga tengah kebingungan mencari korban muncul Anwar, yang tak lain adalah guru SMA-nya korban. Anwar yang pada malam itu juga ikut melakukan pencarian korban mengaku ada melihat sendal di sekitar parit yang menjadi batas lahan antara kebun sawit Supomo dengan kebun sawit milik warga bernama Saiful. 

“Bang tadi saya lihat ada sendal di sekitar sungai,” kata Supomo, menirukan perkataan Anwar malam itu. 

Kemudian Supomo dan Uwak korban Suwardi bersama-sama dengan warga lainnya melanjutkan pencarian ke lokasi dimaksud. Sekira pukul 22.50 WIB, Suwardi pun menemukan sepasang sendal yang dimaksud Anwar. Dan, beberapa meter dari lokasi penemuan sendal tersebut, Suwardi menemukan tubuh Kori Larasati di dalam parit dengan kedalaman sekitar 4 meter. 

Tapi Suwardi kemudian berteriak. Ia histeris saat melihat tubuh keponakannya itu dalam posisi telentang di air yang memiliki kedalaman sekitar 30 cm. Saat itu Suwardi menyadari jika keponakannya sudah tidak bernyawa. 

Setelah itu, jasad korban langsung dibawa ke rumah duka. Pihak kepolisian yang mendengar peristiwa tersebut sempat menawarkan agar jasad korban dibawa ke Rumah Sakit Umum Pematangsiantar, untuk keperluan otopsi. Namun batal karena pihak keluarga menolak dilakukan otopsi terhadap tubuh korban. Jadinya, jasad korban dibawa ke RSUD Batubara untuk divisum. 

Supomo sendiri mengaku sudah mulai yakin putrinya ada di dalam parit itu saat mendapat informasi dari Anwar bahwa ada melihat sepasang sendal di sekitar parit. 

“Malam itu, saya sudah sangat yakin kalau putri saya di dalam sungai itu. Sambil menangis saya berjalan meninggalkan lokasi. Saya tidak sanggup…” ujar Supomo mengisahkan kembali perasaannya saat pertama kali menemukan putrinya tewas di dalam parit kebun sawit. 

“Baru sekitar 20 meter aku menjauh dari parit itu, Uwak korban (Suwardi, red) menjerit memanggil saya karena telah menemukan jasad putri saya,” katanya kembali menceritakan penemuan mayat putrinya. 

Supomo membenarkan jika keluarganya menolak dilakukan otopsi terhadap tubuh putrinya. Ia beralasan tidak tega jika jasad putrinya diotopsi. Kemudian lagi, menolak karena biaya otopsi yang mahal. 

“Memang jasad putri saya sempat hendak dibawa ke Rumah Sakit Umum Pematangsiantar, tapi karena keluarga menolak tubuh putri kami dioutopsi kemudian jasad putri saya dibawa ke RSUD Batubara untuk divisum. Kami tidak mau kalau jasad putri kami diotopsi. Kami tidak tega,” katanya. 

Kapolres Batubara AKBP S Bonaparte Silalahi SIK, melalui Kapolsek Labuhanruku AKP Irsol membenarkan penemuan mayat korban tersebut. Irsol mengatakan, pihaknya masih masih mendalami motif kematian korban. 

Kapolsek menyebutkan, ada tanda-tanda kekerasan di tubuh korban, sebab ada luka memar, seperti luka goresan. Pihaknya juga sudah mencoba hendak melakukan otopsi, namun keluarganya menolak. Makanya, korban hanya divisum luar. 

“Kasusnya masih dalam penyelidikan. Kita belum bisa memastikan apa motifnya. Namun saat ditemukan bagian kancing resleting korban nampak terbuka sedikit," katanya. (int)

Pelantikan 20 Pangulu di Simalungun Terancam Batal

TobaTimes-Komisi I DPRD Simalungun merekomendasikan pelantikan pangulu terpilih di tiga nagori, ditunda.


Sementara, Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Nagori (BPMPN) Pemkab Simalungun menyatakan belum dapat memastikan berapa nagori yang akan dilakukan penundaan. Pasalnya, pengawas pemilihan (Uspika) bersama panitia masih memverifikasi data sebanyak 20 nagori yang membuat pengaduan.

Hal itu dinyatakan, pada saat Komisi I DPRD Simalungun menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama BPMPN Pemkab Simalungun, di ruang rapat DPRD, Senin (15/8).

Dalam rapat itu, salah seorang anggota dewan, Dadang Pramono mengatakan bahwa dari 27 nagori yang membuat pengaduan ke DPRD Simalungun, pihaknya menilai pengaduan tersebut disimpulkan dominan permasalahannya bersifat subtansi amoral, salah alamat pengaduan, kadaluarsa dan money politik. Karenanya, DPRD langsung menggugurkan atau menolak sejumlah pengaduan tersebut.

“Kita bukan tidak membela masyarakat. Namun, kita ingin mengajarkan masyarakat untuk tertib administrasi. Karena Pilpanag ini bukan asal-asalan. Money politik juga sesuatu hal yang umum, tercium aromanya tetapi tidak nampak wujudnya,” jelasnya.

Namun, menurut Dadang, masalah Pilpanag yang telah ditangani oleh Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), seperti di Nagori Silau Malaha dan Muara Mulia diminta agar dilakukan penundaan pelantikan menunggu putusan hukum yang incrah. “Bagi calon pangulu yang kalah membuat pengaduan, itu wajar. Tapi dapat diterima ketika bukti-bukti yang diberikan harus akurat dan konkrit,” tegasnya.

Bernhard Damanik, menambahkan, khusus Nagori Pamatang Sinaman, merupakan permasalahan kategori cacat hukum. Di mana, ada dua calon mengundurkan diri karena mendadak jumlah calon bertambah. Disarankan, khusus di Nagori Pamatang Sinaman harus ditunda dan dilakukan pemilihan ulang. Untuk perkara yang telah ditangani PTUN, penundaan pelantikan dilakukan sampai adanya putusan berkekuatan hukum tetap.

Menanggapi hal ini, Kepala BPMPN Imman Nainggolan menerima masukan dari DPRD Simalungun. Hal itu akan menjadi pertimbangan bagi pihaknya untuk mengambil kebijakan.

Imman menjelaskan, dari 258 Nagori yang menggelar pilpanag serentak, ada 20 pangulu terpilih belum dapat dipastikan dilantik pada 17 Agustus besok. Hal ini disebabkan berkas pengaduan belum selesai dirampungkan.

Disampaikan Imman, masalah seluruh nagori Itu belum rampung. Namun, dipastikan besok (hari ini,red) akan disimpulkan. Saat ini berkas pengaduan masih ditangani pengawas pemilihan di tingkat Kecamatan.

"Tapi, paling lambat besok (hari ini), kalau mereka sudah membuat kesimpulan, akan kami simpulkan nagori apa saja yang turut dilantik,” jelasnya.

Mengenai permasalahan lainnya, di mana sesuai data ada 27 pengaduan dalam Pilpanag, 7 nagori lainnya dinyatakan ada pengaduan yang salah sasaran, seperti Nagori Lestari Indah Kecamatan Siantar dan Nagori Bandar Tinggi Kecamatan Bandar Masilam yang mengadu ke Kejaksaan dan ke Polres Simalungun hanya tembusan ke BPMPN.

Selanjutnya, di Nagori Banu Raya Kecamatan Raya Kahean dan Nagori Bandar Betsi II Kecamatan Bandar Huluan, masalahnya sudah diselesaikan. Sementara di Nagori Kasidir Kecamatan Jorlang Hataran, Nagori Mancuk Kecamatan Huta Bayu Raja dan Bah Sampuran Kecamatan Jorlang Hataran disimpulkan sudah kadaluarsa.

"Karena mereka membuat pengaduan di atas hari pengaduan yang ditentukan, makanya kadaluarsa," ujarnya seraya menyampaikan pandangan Pemkab Simalungun menyikapi sejumlah permasalahan itu, adalah bagian dari kekurangan mereka selaku pelaksana pemilihan. Kedepannya, pihaknya akan melakukan perbaikan-perbaikan dengan harapan dukungan dari DPRD Simalungun.

Ketua Komisi I DPRD Jhon MT Saragih mengatakan, pertemuan itu merupakan pembahasan atas banyaknya calon dan warga yang membuat pengaduan ke DPRD dan ke Pemkab Simalungun. Oleh karena itu, dia berharap di Pilpanag tahap II mendatang, dapat berjalan lebih baik lagi. “Di mana, Eksekutif dan Legistalif dapat berjalan bergandeng tangan untuk bersama mensukseskan pemilihan demi kepentingan semua pihak,” tutupnya.(int)

Siswa SMAN Kehilangan Sepedamotor di Sekolah

TobaTimes-Richard Silalahi (16), warga Jalan Mangga, Kelurahan Parhorasan, Kecamatan Siantar Marihat, tidak menyangka dirinya akan menjadi korban maling yang tengah marak di Kota Siantar.


Ia kehilangan sepedamotor Yamaha IPA warna merah BK  3474 TAT di tempar parkir SMA Negeri 1 Pematangsiantar, Jumat (12/8) kemarin, sekira pukul 16.30 WIB.

Informasi dihimpun METRO SIANTAR, saat itu siswa SMA Negeri 1 ini bersama temannya Jonathan (15), hendak bermain bola futsal di sekolahnya, dalam rangka perayaan HUT Kemerdekaan ke-71 RI.
Begitu tiba disekolah, Richard memarkirkan sepedamotornya di lokasi parkir depan sekolah dengan mengunci stang. Selanjutnya, Richard bersama Jonathan masuk ke dalam komplek sekolah untuk mengikuti kegiatan olahraga.
Saat Richard lagi sedang mengikuti kegiatan olahraga futsal, diduga saat itu pelaku beraksi dan membawa kabur sepedamotor tersebut. Dan, tak seorang pun temannya yang melihat siapa pelaku pencurian sepedamotor tersebut.
“Sepedamotor saya ketahui hilang, Jumat (12/8) kemarin sekira pukul 16.30 WIB, saat hendak pulang ke rumah. Saya sudah berupaya mencari sepedamotornya yang hilang itu di sekitar lingkungan SMAN 1, namun usaha untuk menemukan sepedamotor saya itu hanya sia-sia saja,” ujar korban Richard di temui di Mapolres Siantar.
Kapolres Siantar AKBP Dodi Darjanto SIK MTTA melalui Kasubbag Humas AKP Isril Noer saat dikonfirmasi, Senin (15/8), membenarkan korban telah membuat laporan. Sementara pelakunya masih dalam lidik.
"Sudah kita terima pengaduannya dan saksi-saksi lagi dikumpulkan keterangannya untuk bahan penyelidikan," tegas AKP Isril. (int)

Waspada! Maling Menyaru Penjual Kartu HP

TobaTimes-Untuk melancarkan aksinya, tiga orang maling menyaru sebagai penjual kartu handphone (HP) yang datang bertamu ke rumah-rumah.


Seperti yang dialami Rinal (35), warga Jalan Sibatu-batu, Kelurahan Bah Kapul, Kecamatan Siantar Sitalasari, kehilangan satu unit HP di rumahnya saat tiga orang pria datang bertamu menawarkan kartu paket HP. Peristiwa itu berlangsung, Sabtu (13/8) sekira pukul 18.45 WIB.
Saat itu, Rinal sedang di ruang tamu. Kondisi pintu depan dalam keadaan terbuka. Tiba-tiba tiga orang pria datang bertamu dengan menawarkan kartu paket HP. “Pas datang ketiga pria itu menawarkan kartu paket HP. Mereka itu bicara sama orangtuaku,” ujarnya.
Saat mereka sedang asyik bicara, salah seorang pelaku mengambil HP yang sedang di cas di ruang tamu. Setelah HP tersebut berhasil diambil, mereka langsung permisi pergi pulang.
“Setelah mereka pulang baru aku sadar HP di ruang tamu sudah hilang. Mereka datang mengendarai Honda Spacy,” katanya.
Dengan harapan ketiga pelaku bisa ditangkap, Rinal melaporkan peristiwa tersebut ke Polres Siantar.
Kapolres Siantar AKBP Dodi Darjanto SIK MTTA melalui Kasubag Humas AKP Isril Noer, mengatakan, telah menerima laporan korban.
“Saat ini kita masih melakukan pengejaran terhadap ketiga pelaku. Kalau ada hal yang serupa terjadi, kita imbau agar masyarakat segera melaporkannya kepada petugas kepolisian terdekat,” tukasnya. (int)

Salah Kelola Dana Desa, Kades Terancam Dibui


TobaTimes-Kepala desa bersama perangkatnya diingatkan supaya hati-hati dalam menggunakan anggaran dana desa yang angkanya mencapai Rp600 juta per desa. 


"Kita ingin mengingatkan Kades, Sekdes bersama perangkat desa supaya hati-hati menggunakan dana desa yang jumlahnya ratusan juta rupiah. Jangan sampai salah mengelola yang ujung-ujungnya bisa masuk penjara," ujar Ketua DPC PDI-Perjuangan Madina Iskandar Hasibuan, Senin (15/8) di Panyabungan. 

Iskandar menjelaskan, penggunaan dana desa yang jumlahnya ratusan juta rupiah bisa saja nanti jadi masalah bagi kades bersama perangkatnya, mengingat selama ini kades dan perangkatnya tidak pernah mengelola anggaran desa sebesar itu, apalagi yang berurusan dengan masyarakat. Apabila Kades tidak sejalan dengan sekdes maupun perangkat desa yang lain akan berdampak buruk ke depannya. 

"Persoalan ini sudah pernah terjadi tahun lalu di salah satu desa di Kecamatan Siabu. Hanya karena Kades tidak sejalan dengan perangkatnya akhirnya penggunaan dana desa berujung masalah. Disinilah pentingnya setiap kebijakan. Apapun itu harus dimusyawarahkan dengan semua perangkat desa. Kades jangan coba-coba membuat kebijakan sendiri yang bisa jadi masalah karena ini menyangkut uang rakyat," ungkapnya. 

Anggota DPRD Madina periode yang lalu itu mengabarkan, di pulau Jawa sudah banyak kades maupun sekdes serta perangkatnya terpaksa berurusan dengan penegak hukum akibat salah langkah dalam penggunaan dana desa. 

“Belakangan ini kami mendapat informasi tidak baik. Kades, Sekdes mendapat tekanan dari pihak lain agar menyisihkan sebagian anggaran dana desa untuk oknum-oknum tertentu. Jika hal itu benar, Kades, Sekdes maupun pihak Kecamatan tidak melayani tekanan apapun yang mencoba melakukan perlawanan hukum. Jangan pernah takut terhadap intervensi atau tekanan dari siapapun yang mengarah pada pelanggaran hukum,” tegasnya. 

“Gunakan dana desa sesuai mekanisme dan ketentuan yang ada. Kerjakan sesuai RAB pada saat pengusulan, apalagi realisasi dana desa ini diawasi ketat oleh tim dari pusat. Penggunaan dana desa ini murni untuk kepentingan rakyat, bukan kepentingan penguasa," tambahnya. (int)

Disdik Madina Diisukan Terima Suap Penerimaan Guru TKS

TobaTimes-Satu per satu persoalan di Dinas Pendidikan Madina mulai terungkap. Kali ini, masalah dugaan penerimaan suap pada proses rekrutmen guru Tenaga Kerja Sukarela (TKS) penerimaan tahun 2015 dan 2016. 




Sebelumnya, ada dugaan pemotongan dana tunjangan profesi untuk ribuan guru dan pemotongan dana bantuan beasiswa berprestasi serta penyalahgunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). 

Informasi yang dihimpun wartawan, setiap calon guru TKS diwajibkan membayar uang belasan hingga puluhan juta per orang agar bisa lolos menjadi guru TKS di dinas pendidikan tersebut. 

Bahkan, banyak yang mengaku sudah menyetor uang ke oknum pejabat di dinas pendidikan, namun tidak menerima SK penugasan alias tidak lolos. 

Salah satunya KA Nasution, warga Kecamatan Siabu kepada Metro Tabagsel, Senin (15/8) mengatakan, ia salah seorang yang telah menyetor uang belasan juta supaya istrinya bisa lolos menjadi guru TKS di dinas pendidikan tahun 2016. Nasution menyebutkan, uang belasan juta itu terpaksa ia pinjamkan kepada tetangga dan diserahkan kepada oknum pejabat di dinas pendidikan tersebut. 

"Pokoknya belasan jutalah yang kami setorkan itu, karena kalau tak dibayar duluan, katanya nggak bisa lolos jadi guru TKS. Sementara istri saya hanya guru komite dan gajinya cuma tergantung kepada kepala sekolah. Makanya terpaksa kami pinjamkan uang agar bisa ikut jadi guru TKS," ungkap KA Nasution, enggan menyebut siapa nama oknum pejabat tersebut. 

Ia menyampaikan, setelah SK penugasan diperoleh beberapa bulan yang lalu, namun sampai sekarang istrinya boru Lubis belum pernah menerima gaji. 

“SK-nya sudah ada beberapa bulan, tapi belum pernah gajian. Ditanya kapan gajian, tidak ada jawaban yang pasti dari mereka. Dinas pendidikan tertutup kalau dimintai informasi. Padahal orang yang meminjamkan kami uang itu sudah menagih terus," ujarnya. 

Menyikapi hal ini, Sekretaris LSM Madina Care Muhammad Hilal mengatakan,  terkait  dugaan suap rekrutmen guru TKS dinas pendidikan Madina sudah lama menjadi rahasia umum. 

Ratusan juta hingga miliaran rupiah uang rakyat yang diperoleh oknum pejabat di dinas pendidikan supaya diloloskan menjadi guru TKS. 

"Tapi sayangnya sampai sekarang praktek suap tersebut masih saja menjadi isu utama yang tidak pernah diproses. Rekrutmen ini suatu praktek pembodohan Pemkab Madina kepada rakyat. Menjadi guru TKS yang gajinya hanya sekitar Rp1 juta per bulan, masyarakat harus membayar belasan hingga puluhan juta rupiah. Inilah salah satu kebobrokan dinas pendidikan yang tidak pernah diselidiki penegak hukum," ungkap Hilal.

Hilal mengaku tidak heran jika oknum pejabat di dinas pendidikan tersebut kaya-kaya dan seolah-olah sudah kebal hukum. 

"Kita bingung terhadap penegakan supremasi hukum di Madina. Meskipun muncul berbagai kecurigaan dan indikasi terjadi perbuatan melawan hukum, tetapi sama sekali tidak ada proses hukum bagi mereka. Kita tidak tahu apakah hal ini sengaja dibiarkan atau bagaimana. Untuk itu, dalam waktu dekat kami akan melakukan audiensi dengan lembaga penegak hukum. Kalau kejahatan terus dibiarkan, mau seperti apa nanti Madina ini ke depannya," ujar Hilal. 

Sementara, Sekretaris Dinas Pendidikan Madina M Yasir saat hendak ditemui wartawan di tempat kerjanya tidak berhasil. Sebab, yang bersangkutan sedang tidak berada di ruang kerjanya.  (int)

58 Anggota Paskibra Palas Dikukuhkan

TobaTimes- Sebanyak 58 anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) untuk upacara peringatan HUT ke-71 RI dikukuhkan Bupati Palas H Ali Sutan Harahap (TSO), Senin (15/8). 
 
Bupati Palas H Ali Sutan Harahap memberikan selamat kepada anggota Paskibra usai dikukuhkan, Senin (15/8)
Upacara pengukuhan yang digelar di Gedung Nasional Sibuhuan itu turut dihadiri Wabup drg Ahmad Zarnawi Pasaribu, Plt Sekda Syamsul Anwar Lubis SE, pimpinan SKPD, Perwira Penghubung Kapten Inf J Sidabutar, Danramil 08 Barumun Kapten Inf Fahri Batubara, Kapolsek Barumun AKP Sammailun P SH, Kabag Humas Drs Irwan Hasibuan dan pelatih Paskibra dari Koramil 08 Barumun Serma Aman P Nasution dan Serka HP Siregar beserta undangan lainnya. 

Sebelum dikukuhkan, para calon anggota Paskibra dituntun mengucapkan Ikrar janji dan sumpah di hadapan bupati. Selain itu, para pengibar bendera terbaik utusan masing-masing sekolah menengah ini  juga melakukan penciuman bendera pusaka sebagai wujud kecintaan akan bendera Negara tersebut. 

"Dengan ini, saya mengukuhkan anak-anak kami sebagai pengibar bendera pusaka 2016. Semoga anak-anak kami senantiasa dapat melaksanakan tugas dengan baik, juga nantinya menjadi putra-putri purna paskibra Indonesia yang berbakti dan berprestasi," kata Bupati. 

Di kesempatan itu, TSO juga menyematkan selendang pada Ketua Paskibra asal SMAN 1 Barumun Assidiki Afandi Siregar. Hingga hari H pengibaran bendera merah putih di lapangan MTsN Sibuhuan Rabu mendatang, ke-58 anggota Paskibra masih dalam karantina di hotel Marwah Sibuhuan. (int)

Lomba Pramuka Proklamasi di Sosa Berlangsung Seru


TobaTimes-Hari kedua pelaksanaan Perkemahan Pramuka Proklamasi di Kecamatan Sosa yang dipusatkan di Lapangan Canoco Pasar Ujungbatu benar-benar seru, Senin (15/4). Perlombaan demi perlombaan mendapat antusias warga untuk menyaksikannya, meskipun pesertanya hanya anak sekolah. 



Pramuka proklamasi ini memang sudah menjadi ciri khas setiap menghadapi peringatan hari kemerdekaan di Kecamatan Sosa. Meskipun, mulai tahun ini, ada juga yang membuat kegiatan serupa, yakni Kecamatan Hutaraja Tinggi. 

Seperti terlihat kemarin, berbagai perlombaan terlihat. Mulai dari menangkap belut, hingga berbagai pertandingan olahraga. Ada juga beberapa perlombaan kepramukaan, mulai dari halang rintang meniti satu tali, pengucapan teks proklamasi gaya retorika Bung Karno, dan lomba lagu wajib. 

Teriakan dukungan sesama siswa juga terdengar. Tak kalah pula, orang tua dan masyarakat sekitar yang menyaksikan ikut terlarut dalam kebersamaan itu. 

"Seru ya perlombaannya. Anak-anak kita kan semangat," kata Aisah, seorang ibu yang menyaksikan anaknya ikut bertanding. 

Dikatakan Aisah, pramuka menjelang 17 Agustus ini memang sudah menjadi hal yang ditunggu-tunggu masyarakat di Sosa. "Anak saya tak mau tak ikut. Harus ikut dia katanya," kata Aisah. 

Kepala SDN 0401 Pasar Ujungbatu Hasnawati Pasaribu mengatakan, pelaksanaan pramuka sangat bermanfaat bagi siswa. Terutama, dalam penanaman karakter mereka. 

"Bayangkan, yang tak pernah sholat subuh akan sholat subuh di sini. Yang biasanya malas-malasan, akan rajin di sini. Pramuka itu sangat bagus untuk menempa disiplin siswa," kata Hasnawati. 

Di sisi lain, menurutnya, perkemahan pramuka ini juga membuat siswa makin percaya diri. Sebab, mereka berbaur dengan yang lain dari berbagai sekolah. 

Tak hanya itu, manfaat yang juga tak perlu dipungkiri, yakni adanya perputaran ekonomi masyarakat sekitar dengan adanya perkemahan pramuka ini. Sebab, tak kurang puluhan pedagang menjajakan jualannya di sekitar lokasi, yang tentunya menambah penghasilan mereka. (int)