8.9.17

Kaki Istri Putus Ditebas Suami Pakai Parang, Gara-gara...


TobaTimes - Seorang suami bernama Kadek Adi Waisaki Putra (36) melakukan aksi sadis dan mengerikan kepada Ni Putu Kariani (29). Dia menebas kaki istrinya itu dengan parang hingga putus, Rabu (6/9/17) lalu.

Ilustrasi.
Peristiwa itu terjadi di Banjar Umabuluh, Desa Canggu, Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali. Awalnya mereka bertengkar di rumah kos mereka. Diduga ada pihak ketiga masuk dalam biduk rumah tangga yang sudah dibina selama 15 tahun. Apesnya belum tentu kecemburuan itu benar, Waisaka nekat memotong kaki kiri istrinya.

Korban kemudian dilarikan tim medis ke RS Bali, Denpasar ke RS Sanglah dan langsung mendapatkan penanganan medis di IGD RS Sanglah. Kariani pun langsung dioperasi di bagian kaki kiri yang terputus.Hampir delapan jam operasi, Kariani dipindah ke kamar rawat inap di Ruangan Angsoka 3 Kamar 306 RS Sanglah.

Adik Kandung korban Komang Ayu Fitriani yang ditemuui di RS Sanglah mengatakan, kakaknya mengalami trauma berat pascakejadian. Pasalnya, di benak ingatannya masih terbayang peristiwa sadis yang dilakukan suaminya memotong kaki kirinya dengan golok. “Keluarga kami trauma berat atas kejadian ini," kata Ayu.

Kondisi kakaknya saat ini sudah sadarkan diri. Namun, sulit untuk diajak komunikasi. Sementara suaminya yang bekerja sebagai sopir freelance sudah ditangkap dan terancam hukum lama dalam bui.

Kasatreskrim Polres Badung AKP I Made Pramasetia menjelaskan, pelaku menebas kaki korban dengan parang yang mengakibatkan kaki kiri korban putus mulai dari pergelagan kaki. Sedangkan kaki kanan korban luka pada bagian tulang kering. Dia menyebbutkan motif KDRT ini cemburu.

Polisi telah menyita barang bukti sebilah parang dengan panjang mata pisau 31 cm dan panjang gagang kayu 15 cm. Selain itu, polisi juga menyita handuk warna putih penuh darah, juga kaos dan celana pendek yang terkena darah.

Tersangka terbukti melakukan tindakan pidana KDRT sebagaimana dimaksud dalam pasal 44 ayat 1 dan ayat 2 UU RI No 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. “Ayat satu ancaman hukumannya lima tahun, ayat dua hukumnanya 10 tahun. Kalau terbukti tersangka bisa dipenjara lama,” katanya. (bbs/int)

20.8.17

Bayi Berusia 1 Tahun 'Ditahan' Polisi di Sel Penuh Tikus dan Kecoa


TobaTimes - Seorang bayi berusia 1 tahun dipenjarakan polisi selama kurang lebih sebulan. Bayi malang itu harus tidur di sel penjara penuh tikus dan kecoa. Betapa sedihnya.

Tentu, bayi tersebut tak punya kesalahan. Yang diduga bersalah adalah ibunya, Rini Rambe (23). Rini ditangkap oleh polisi sebulan lalu dituduh memiliki narkoba. Bayinya juga ikut dimasukkan ke sel.

Tapi saat ini, Rini Rambe, warga Desa Aekkorsik Lorong IX Kecamatan Aek Kuo, Kabupaten Labuhanbatu Utara, itu sudah dibebaskan polisi Polsek Aek Natas tidak memiliki barang bukti tindak pidana.

Rini dan bayinya.
“Benar ada diserahkan ke Satres Narkoba Polres Labuhanbatu terkait kasus narkoba, namun dibebaskan karena tidak cukup bukti untuk dilakukan penahanan. Tidak ada barang bukti narkotika yang diamankan, sehingga Rini Rambe kami kembalikan kepada keluarganya,”  kata Kasat Narkoba Polres Labuhanbatu AKP Jamakita Purba, Jumat (18/8/17) sebagaimana dilansir metroasahan.com.

Jawaban itu disampaikan melalui pesan Whatsapp. Menurut Purba, Rini diinformasikan sebagai bandar narkoba, namun tak ada barang bukti. Dia kemudian meminta wartawan menanyakan langsung hal itu kepada Kapolsek Aek Natas. “Terkait info diduga sebagai bandar, silahkan ke Kapolsek Aek Natas saja. Karena mereka yang melakukan penyelidikan dan penangkapan terebut, demikian lae,” sebutnya.

Rini diamankan oleh petugas Polsek Aek Natas dalam sebuah penggerebekan di rumahnya. Walaupun tanpa barang bukti, bersama anaknya yang masih berusia 1 tahun, mereka sempat ditahan di Polsek Aek Natas.

“Kalau saya terima dikurung seperti itu, tapi saya sedih kenapa anak saya juga ikut merasakan dinginnya jeruji besi itu dan tidur pun tidak beralaskan tikar. Apalagi di situ banyak tikus dan kecoa. Saya tak terima seperti ini,” kata Rini pada wartawan Jum’at (11/8) lalu.

Sementara itu, Kapolsek Aek Natas AKP Rusbeni belum berhasil dikonfirmasi terkait hal ini. Meskipun sudah dihubungi berkali kali melalui seluler. Pesan singkat melalui Whatsapp pun sudah di layangkan namun belum ada balasan. (sumber: metroasahan.com/int)

19.8.17

Peserta Panjat Pinang Jatuh, Leher Patah, dan Tewas


TobaTimes - Kemeriahan HUT RI ke-72 Kemerdekaan RI di Kota Bandung menyisakan kabar duka dan menimbulkan korban jiwa, Kamis (17/8/17).

Seorang warga Kampung Rancaloa RT 05/03, Kelurahan Cipamokolan, Kecamatan Rancasari, Kota Bandung dilaporkan meninggal akibat batang pohon pinang yang dinaikinya patah.

Menurut informasi, korban yang diketahui bernama Icim alias Icin, pada saat perlombaan, sudah berada di puncak pohon pinang sedang mengabil sejumlah hadiah. Tapi tiba-tiba batang pohon pinang itu tak kuat menahan beban peserta lomba. Pohon pinang itu patah.

Ilustrasi.
Peristiwa itu terjadi di lapangan voli Jalan Merkuri Utara Rt 05/03 Kelurahan Manjahlega, Kecamatan Rancasari, Kota Bandung, sekira pukul 16.30 WIB.

Kasubag Humas Polrestabes Bandung Kompol Reny Marthaliana membenarkan peristiwa tersebut. "Korban meninggal dunia setelah jatuh sewaktu korban mengikuti lomba panjat pinang, ketika itu korban sudah sampai di atas dan mengambil hadiah tiba tiba batang pinangnya patah dari sambungan sehingga korban terjatuh dari ketinggian 7 meter," katanya kepada wartawan.

Dikatakan, korban mengalami patah leher dan sempat dibawa ke RS Al Islam. (bbs/int)

 Baca Juga: HUT RI Berdarah, Sahrian Ditikami Saat Lomba Balap Karung


18.8.17

Aduh! Bayi Lepas dari Gendongan Ibu, Tewas Dilindas Truk


TobaTimes - Seorang ibu bernisial DA terpeleset saat mengendarai sepedamotor dan terjatuh di pinggir jalan. Ngerinya, bayinya yang masih berusia delapan bulan terlepas dari gendongannya, dan bayi laki-laki berinisial BM itu terlindas truk tangki pengangkut CPO. Bayi malang itu meninggal dunia di TKP.

Peristiwa mengerikan itu terjadi pada Rabu (16/8/17) di jalan umum Tanjung Pasir, Simpang Tanjung Sari II, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Kualuh Selatan, Labuhan Batu Utara (Labura).

Berdasarkan informasi, saat berkendara, bayi tersebut digendong oleh ibunya DA. DA mengendarai sendiri dibonceng oleh Nurhayati dengan sepedamotor Supra X 125 BK 4174 YAL. Saat tiba di TKP, yang kondisi jalannya bergelombang dan rusak, Nurhayati ingin mendahului iringan truk tangki bermuatan CPO.

Ilustrasi.
Namun karena kondisi jalan rusak, sepedamotor yang dikendarai Nurhayati kehilangan kendali, akhirnya terpeleset dan jatuh badan kiri jalan. Pada saat itulah bayi lepas dari gendongan ibunya dan terlempar badan jalan. Sementara truk yang berada di belakang langsung melindas si bayi. Truk tangki bermuatan CPO itu bernomor polisi BK 8688 VV, dikemudikan Amri Hidayat.

“Benar terjadi kecelakaan yang mengakibatkan anak bernama Bagus Abhi Mata berusia 8 bulan meninggal. Kejadian ini murni kecelakaan. Sedangkan kedua kendaraan telah diamankan di Pos Lantas Polsek Kualuh Hulu,” ujar Kanit Lantas Polsek Kualuh Hulu, Ipda Dalyadi, kepada wartawan. (bbs/int)

HUT RI Berdarah, Sahrian Ditikami Saat Lomba Balap Karung


TobaTimes - Kemeriahan perayaan HUT RI ke-72 tahun mendadak menjadi peristiwa berdarah mengerikan pada Rabu (16/8/017) di RT 06 Desa Hayaping di lapangan bola voli saat berlangsung lomba balap karung untuk memeriahkan Dirgahayu RI 72 tahun. Sahrian (36) warga Desa Hayaping, Kecamatan Awang, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah mendadak roboh terkena tusukan dari belakang oleh JN (27) pelaku.

Suasana pun menjadi gaduh warga yang sedang ramai-ramainya mengikuti kegiatan tahunan peringatan HUT Kemerdekaan 17 Agustus 1945  tersebut langsung kocar kacir dan berhamburan. Pria yang selama ini dikenal warga setempat ramah tersebut mengehembuskan nafas terakhir di TKP setelah di roboh bersimbah darah di hadapan ratusan warga yang menghadiri acara tersebut.

Ditikam saat lomba balap karung.

Belum diketahui persis penyebab penusukan tersebut, namun Kapolres Bartim AKBP Raden Petit Wijaya SIK mngatakan masih mendalami kasusnya. "Memang ada pembunuhan dan pelaku sudah diamankan. Kini diperiksa oleh penyidik. Demikian pula dengan saksi-saksi," katanya.

Menurut warga setempat, sebelum terjadi penusukan itu, Sahrian dan JN sempat berbicara namun tidak diketahui materinya. Kemudian JN pulang ke rumah dan kembali mendatangi Sahrian dari posisi belakang dan tiba-tiba menusukkan pisau ke arah Sahrian. Sahrian mengalami tusukan dipunggung kiri dan langsung berupaya menyelamatkan diri namun langsung roboh tergeletak.

Korban sempat dilarikan  ke RSUD Tamiang Layang. Namun ternyata sudah dalam keadaan meninggal dunia. Luka tusukan itu diduga sangat dalam hingga mengenai organ vital dan membuat korban kehabisan darah. Pelaku sempat lari dari lokasi kejadian namun akhirnya menyerahkan diri ke aparat kepolisian setempat. (bbs/int)

Baca Juga: Peserta Panjat Pinang Jatuh, Leher Patah, dan Tewas

16.8.17

Ini Baru Mantap, Nenek Usia 79 Tahun Menjadi Penggerek Bendera


TobaTimes - Untuk menyambut peringatan HUT RI ke-72, warga Desa Gabungan Hasang, Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), menggelar berbagai kegiatan. Salah satu kegiatan unik adalah upcara bendera yang dilakukan nenek-nenek lanjut usia (lansia).

Sebanyak 68 nenek-nenek yang tergabung dalam kelompok senam sehat lansia di desa itu upacara penaikan bendera merah putih di Pasar Onan desa setempat, Rabu (16/8/17). Kegiatan itu mengundang perhatian warga karena para lansia berusia 79 tahun menjadi penggerak bendera pada gladi penaikan bendera merah putih.
Nenek 79 tahun jadi penggerek bendera.

Ratusan orang terkesima atas aksi penggerek bendera, yaitu Rianni Sihotang Usia (79), Meriani Sitohang (67), dan Fatima Purba (57). Layaknya anggota paskibra, mereka mengenakan berseragam putih-putih menggerek bendera diiringi lagu Indonesia Raya. Tak ada kesalahan dalam prosesi itu, gladi penaikan bendera itu berjalan mantap.

Kepala Desa Gabungan Hasang Endi Pasaribu yang bertindak sebagai inspektur upacara pada gladi penaikan bendera merah putih itu, mengatakan, orangtua yang tergabung dalam senam sehat lansia gabungan hasang menjadi motivator terlaksananya kegiatan ini.

"Saya sangat mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh orangtua yang begitu bersemangat dalam menyambut perayaan HUT RI ke-72. Kami mengucapakan terimakasih, kegiatan ini di luar dugaan, masyarakat sangat antuasias.  (bbs/int)

15.8.17

Mantap Bah, Ada Beras Lokal di Taput, Namanya NATABO


SOPO - Bupati Tapanuli Utara Drs Nikson Nababan MSi meluncurkan beras lokal produksi Perusda Pertanian. Beras dalam kemasan 10,15 dan 30 Kg merek 'Beras 'NATABO' itu untuk perdana diproduksi sebanyak 32 ton dan siap bersaing di pasaran untuk kelas beras premium.

Bupati Taput lounching Beras Natabo.
"Terima kasih atas kreatif dan inovatif Perusda Pertanian serta pihak-pihak yang terlibat sehingga Taput sudah bisa memproduksi beras produk sendiri," kata Nikson Nababan usai melakukan pengguntingan pita di kantor Perusda Pertanian, Selasa ( 15/8/17).

Nikson berharap beras ini dapat dipajang di Alfamart dan Indomaret sehingga lebih dikenal selain di kios pedagang. "Saya harap kepada Indomaret dan Alfamart untuk memajang produk lokal Taput. Kita siap membantu apa yang dibutuhkan agar semua produk yang sudah punya ijin dapat juga bersaing di pasar-pasar modern," katanya kepada perwakilan Indomaret dan Alfamart yang hadir saat itu.

"Bila nanti produk-produk kita booming, pastinya PAD naik dan tidak terlalu bergantung kepada APBD. Untuk awal, saya harapkan kita yang hadir saat ini mencintai produk lokal dengan jalan membelinya, sehingga citra produk lokal dapat naik dan bila perlu mempromosikannya keluar," pinta Nikson.

Direktur Perusda Pertanian Suwanto Hutasoit bersama jajarannya yakni Bettin Sitompul (Direktur Operasional), Direktur Komersil Lambas Hutasoit, Mustafa Hutasoit meminta dukungan agar beras NATABO dapat bersaing di pasaran.

"Untuk launching pertama kita produksi 32 ton dari gabah yang kita beli dari petani sebanyak 58 ton. Agar kualitasnya baik, Perusda kerjasama dengan penggilingan padi di Laguboti Tobasa," kata Suwanto Hutasoit. (bbs/int)
 

Indah Bunuh Diri Demi Cintanya pada Suami Orang


TobaTimes - Seorang gadis muda bernama Indah Paujiah Siregar (18) ditemukan tewas terikat kain sarung di pintu kamar mandi kos di Kafe dan Karaoke Wahana, Jalan By Pass, Desa Pudun Jae, Kota Padangsidimpuan, Selasa (15/8/17) pagi.
Jasad Indah saat ditangani paramedis.

Di dekat tubuh korban, ditemukan sepucuk surat, yang isinya sebagai berikut:

Dear Rahmat kesayanganku, pujaan hati. Aku /Indah yang sangat mencintaimu. Aku sekarang hanya Indah yang mencintai Rahmat, tapi kalau Rahmat tidak pernah mencintaiku.

Begitu bahagianya dalam hidupku bila berada di sisimu. Oya, aku sangat mencintaimu, mengapa gak dari dulu kau bilang gak mencintaiku. Sumpah aku betul-betul mencintaimu lebih dari segalanya. Indah Rahmat. Aku mati karena bukti cintaku untukmu.


Rahmat adalah seorang pria pengusaha warung tuak yang diketahui telah beristri. Menurut tetangga korban bernama Dewi, rekannya rekannya sesama pemandu lagu di tempat hiburan malam itu, Indah pada mulanya bekerja di warung tuak milik Rahmat di Jalan By Pass. Namun belakangan, namun ia berhenti bekerja dari kedai itu sebab hubungan terlarang mereka mulai diketahui istri Rahmat.

“Malam itu sama-sama orang itu di situ. Katanya sih si Rahmat ke luar beli nasi goreng. Lalu, saat kembali pintu terkunci,” ujar Dewi saat diperiksa sebagai saksi di Satreskrim Mapolres Kota Padangsidimpuan.

Berdasarkan informasi, pagi itu di ruang pertama dari lima kamar kos dalam lingkungan tempat hiburan malam tersebut, seorang lelaki yang belakangan diketahui bernama Rahmat berteriak memanggil nama Indah.

Tak berselang lama, isi seluruh kamar kos keluar dan bertanya. Ada tujuh cewek dan seorang pria penghuni kos-kosan berusaha membuka pintu yang disebut di dalamnya Indah tengah berusaha menggantung diri.

Mono, salah seorang pria mendobrak pintu. Dua kali tendang, pintu terbuka. Dan, Indah sudah ditemukan tewas terjerat kain sarung yang disambung di pintu kamar mandi dalam kamar kos berukuran 3 x 4 meter itu.

Meski tidak menggantung, namun gadis asal Desa Panompuan, Kecamatan Angkola Timur, Kabupaten Tapanuli Selatan itu, sudah tidak bernyawa lagi.

“Pagi itu, dia (Rahmat) berteriak-teriak. Saya sama cewek lain berkeluaran, si Indah katanya mau bunuh diri. Pacar saya keluar berlari mendobrak pintu. Dua kali tendang yang saya lihat,” kata Dewi. (bbs/int)

13.8.17

Mereka Butuh Bantuan, Dang Adong Be Na Tinggal...


TobaTimes - Wajah sedih terlihat jelas pada raut muka korban kebakaran yang menimpa warga Dusun IV, Pampean Desa Sileang Kecamatan Doloksanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) Jumat (11/8/17). Mereka kini hidup kesulitan dan membutuhkan uluran tangan dermawan.
Korban kebakaran di Humbahas.
Dua unit rumah rumah yang mereka tempati, berikut isinya, semuanya sudah menjadi arang. Bahkan padi hasel panen tahun ini semuanya habis terbakar.

“Dang adong be na tinggal, ga ada lagi yang sisa, jangankan uang, padi hasil panen lalu juga sudah jadi arang. Hanya baju dibadanlah yang tinggal,” ujar Tumpak Sihite alias Op Dewi,salah seorang korban.

Dikatakan, dia bersama istrinya sementara numpang di tempat keluarga di daerah itu. “Ya mau gimana lagi, sementara ini kita terpaksa numpang tinggal dirumah keluarga,” ucapnya.

Dia berharap ada uluran tangan dari pihak dermawan untuk membantu merenovasi ulang rumah mereka yang hangus terbakar. Bantuan itu diharapkan mampu membangkitkan keterpurukannya dan korban lain.

“Kami sudah kehilangan tempat tinggal, kehilangan modal dan kehilangan mata pencarian. Kami terbuka menerima bentuan dari pihak manapun yang mau perduli meringankan beban kami saat ini,” ujarnya sebagaimana dilansir newtapanuli.com, Minggu (13/8/17).

Dia juga mengatakan, belum ada bantuan dari pemerintah setempat. “Memang ada datang petugas yang menanyakan kronologis kejadian itu, namun hingga sampai sekarang belum ada bantuan yang kami terima,” katanya.

Sejauh ini mereka baru dapat bantuan pemerhati dari warga sekitar. “Sebagai wujud rasa kepedulian, memang sudah ada sebagian keluarga yang datang. Kami tidak melihat dari jumlahnya namun rasa keikhlasan dan kepeduliannya saja. Terimaksihlah atas bantuan dan kepeduliannya semoga Tuhan membalas kebaikan mereka,” sebutnya.

Hal senada diungkapkan korban lain, R Sihite. “Kami mau bilang apa, namanya musibah dan berharap bisa bangkit lagi dengan adanya perhatian semua pihak, terutama sekali Pemkab, anggota DPRD Humbahas maupun pemerhati lainnya,” ujarnya.

Seperti diberitakan, dua unit rumah di Dusun Empat, Sitabotabo, Pampean, Desa Sileang Kecamatan Doloksanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Jumat (11/8) siang seketika menjadi arang. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa kebakaran itu, penyebab kebakaran terhadap rumah berkontruksi kayu tersebut masih dalam penyelidikan polisi. (TT/bbs/int)

12.8.17

Aha Do Salahku Tuhan, Dang Tolap Au Manaon Haccitni On...


TobaTimes - Tonny Hutabarat (35) meluapkan tangisan histeris menyaksikan anaknya tewas terlindas truk di Jalan Sibolga-Barus, Kelurahan Sibolga Hilir, Kecamatan Sibolga Utara, Jumat (11/8) sekira pukul 10.00 WIB.
Ilustrasi.
Tonny menceritakan, malam sebelum kejadian, anaknya Anderson Hutabarat (5) mengalami demam tinggi. Paginya, Tonny membawanya ke puskesmas berobat. "Demam dia semalam. Datang oppungnya tadi pagi menyuruh bawa ke pusekesmas," ujar Tonny saat ditemui di kamar jenazah.

Dengan nada terbata-bata sembari menahan tangisnya, Tonny melanjutkan ceritanya. Sebelum berangkat dari rumahnya di Desa Mela II, Kecamatan Tapian Nauli, Tapteng, oppung korban menyuruh Tonny menjual ayam mereka terlebih dahulu.

"Sebelum ke puskesmas, duluan ke Pasar Kota Beringin kami tadi. ‘Jualkan sajalah ayam itu dulu’, kata mamak. Habis kami jual, baru kami berobat," ungkapnya.

Usai berobat di Puskesmas Pintu Angin, mereka hendak pulang ke rumah. Saat Tonny sedang sibuk memakai helm di belakang sepedamotornya yang diparkir di pinggir jalan, tepat di depan puskesmas, korban naik ke atas sepedamotor. Tiba-tiba sepedamotor yang posisinya menghadap ke arah Barus terjatuh ke sebelah kanan. Korban ikut terjatuh hingga berguling di atas aspal. Dari arah Sibolga, melaju satu unit mobil dengan kecepatan tinggi dan menggilas kepala korban.

Dia melihat langsung kejadian tersebut. Dia melihat ban mobil tersebut melaju di atas kepala anaknya. "Di belakang kreta aku sama mamak (oppung korban). Aku lagi memakai helm. Dia langsung naik ke atas kreta. Jatuh kreta ini,

Melihat itu, Tonny tidak lagi menghiraukan mobil tersebut. Spontan dia berlari menghampiri korban dan langsung menggendong Anderson sembari bercucuran air mata, berharap masih ada kesempatan menyelamatkan nyawa anaknya.

Tonny sempat melarikan buah hatinya tersebut kembali ke puskesmas. Namun, oleh pihak medis menyarankan untuk membawanya langsung ke rumah sakit. Sayang, menurut pihak medis Rumah Sakit FL Tobing Sibolga, Anderson sudah pergi untuk selamanya. "Jadi, ngak tahu aku mobil apa, warna apa mobil itu. Nggak ke situ lagi pikiranku. Yang kupikirkan hanya anakku saja," pungkasnya.

"Minta maaf au da bapak. Jahat kali bapak ini nggak dijaga kau ya," isak tangis Tonny di depan kamar jenazah.

Dia juga meratapi hidupnya yang dia anggap penuh dengan kesialan. "Aha do nasalah na hubaen Tuhan, ikkon songonon nahujalo. Dang cukup hapogoson nahutaon on. Naeng binoan marubat asa sehat do, gabe songonon bentukna.  Dang tolap au be manaon haccit na on (apa yang salah kubuat Tuhan, harus seperti ini kehidupan yang kuterima. Nggak cukup kemiskinan yang kurasakan selama ini. Mau dibawa berobat supaya sehatnya, malah begini kejadiannya. Nggak sanggup lagi aku menahan sakitnya ini)," tangisnya. (TT/int)