22.11.16

Mobil Terbalik Pulang Ziarah, Ibu dan Anak Tewas, 15 Luka-luka


TobaTimes, Paluta - Kecelakaan memilukan terjadi di Jalinsum Gunungtua-Sibuhuan, tepatnya di Desa Aek Haruaya Kecamatan Portibi, Senin (21/11), sekira pukul 15.30 WIB. Mobil rombongan yang masih memiliki pertalian keluarga, terbalik-balik hingga membuat penumpang berjatuhan di badan jalan.

Warga berusaha menolong para korban.
Dua orang tewas dalam peristiwa itu, yakni  Maria (42) dan anaknya Kaspian Siregar (5). Sedangkan 15 penumpang lainnya mengalami luka-luka, dan dirawat di Rumah Sakit Gunungtua.

Menurut informasi, mobil yang mengangkut rombongan keluarga itu adalah mobil dauble cabin jenis ranger nomor polisi D 8618 DZ. Rombongan itu, baru saja pulang ziarah dari Desa Pangirkiran, Kecamatan Halongan. Mereka hendak pulang ke Desa Gunung Manaon, Kecamatan Portibi.

Ali Hendri Siregar (42), supir yang membawa rombongan itu, menceritakan sebelum kejadian tidak ada kendala ketika dirinya mengendarai mobil yang membawa penumpang yang duduk di bagian belakang mobil bak terbuka itu.

Tetapi ketika melintas di jalan lurus, tiba-tiba kemudi mobil tidak terkendali saat hendak berusaha menghindari sepedamotor yang melintas dari arah berlawanan. “Aku mau mendahului sepedamotor yang ada didepan mobil. Tapi dari arah berlawanan ada juga sepedamotor melintas dengan kecepatan tinggi,” kata Ali saat ditemui di Mapolsek Padang Bolak.

Ali mengatakan, karena menghindari sepedamotor yang melintas dari arah berlawanan, dia terpaksa banting stir membuat mobil oleng hingga terbalik-balik hingga mengakibatkan penumpang berjatuhan.

“Saya mau menyalip sepeda motor, tiba-tiba dari depan ada juga sepeda motor yang datang, menghindari itu akhirnya mobil tidak terkendali dan terbalik,” katanya.

S Harahap (44), salah seorang warga yang melihat peristiwa itu mengaku, tidak mengetahui penyebab kejadian. Dia waktu itu hanya melihat mobil yang mengangkut banyak orang tersebut, tiba-tiba oleng dan terbalik sampai berguling-guling.

“Penumpang terlihat terpental ke berbagai arah karena mobil terbalik sampai tiga kali dan berbalik arah,” kata Harahap.

Kanit Lantas Padang Bolak, Ipda Eka Wahyudi saat ditemui membenarkan kejadian tersebut. Dia mengatakan, kecelakaan tersebut adalah kecelakaan tunggal.

Dia menambahkan, dari hasil olah TKP dan keterangan sejumlah saksi, kronologis kejadian berawal saat mobil rombongan penziarah hendak pulang ke Gunung Manaon, tiba-tiba oleng dan terbalik saat hendak menyalip kendaraan lain.

“Korban yang meninggal dua orang, jenazahnya sudah diserahkan kepada pihak keluarga untuk disemayamkan. Korban luka-luka masih dirawat, sedangkan mobil sudah diamankan bersama supirnya di mapolsek,” kata Ida Eka. (TT/int)

21.11.16

Istri Kawin Lagi, Pria Ini Gantung Diri


TobaTimes, Kisaran - Seorang duda bernama M Zain (40) nekat gantung diri dengan seutas tali nilon di sebuah pohon kakau di sebelah rumah kakak kandungnya, Mida (45) tahun.

Ilustrasi.
Peristiwa itu terjadi di Jalan Marah Rusli, Lingkungan V, Kelurahan Selawan, Kecamatan Kisaran Timur, Asahan, Senin (21/11/16). Jasad korban pertama kali ditemukan Alwi Ilham (24), keponakan korban sekitar pukul 09.30 WIB. Korban diduga nekat mengakhiri hidupnya, karena putus asa setelah ditinggal istrinya yang telah menikah lagi dengan pria lain.

Kakak kandung korban Mida, mengaku tidak memiliki firasat lain atas meninggalnya korban. Dia juga tidak mengetahui secara pasti alasan korban mengambil jalan pintas mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

"Belakangan ini dia selalu murung dan lebih banyak diam. Anak saya kadang sampai takut kalau berpapasan dengannya. Terkadang dia sering juga marah-marah, tanpa alasan jelas. Inilah yang membuat anak saya takut,”  ujar Mida.

Masih menurut Mida, almarhum telah berpisah dengan istinya Fitri, sejak setahun lalu. Atas kejadian itu, ia dan suaminya merasa prihatin dengan kehidupan rumah tangga korban yang berantakan setelah ditinggalkan mantan istrinya itu.

Mida sangat menyayangkan kenapa korban harus bunuh diri.  Ia menyebutkan, sejak pisah dengan istrinya, korban sudah tinggal dengan mereka kurang lebih 3 bulan. Mida mengungkapkan, mereka sangat menyayangi korban.

"Kami sangat sayang sama dia. Memang, sejak ditinggalkan istri, hidupnya tidak menentu. Ditambah lagi, dia tidak memiliki pekerjaan tetap, makanya kami mengajaknya untuk tinggal bersama kami,” kata Mida, sambil menitikkan air mata.

Sementara itu teman korban bernama Teteh (45), warga setempat, mengatakan, korban diduga putus asa setelah ditinggal pergi istrinya. Mantan istrinya itu saat ini telah menikah dengan pria lain dan sedang hamil beberapa bulan.

Beberapa hari lalu, dia bercerita kepada jika korban mengalami stres karena tinggal istri. Almarhum juga bahwa mantan istrinya sudah menikah dengan pria lain dan sedang hamil beberapa bulan. Sementara keempat anak mereka, tinggal bersama keluarga baru mantan istrinya itu.

"Dia memang sempat cerita ke saya bahwa sedang stres setelah ditinggal istrinya. Dia juga bercerita bahwa mantan istrinya sudah menikah dengan pria lain dan sedang hamil beberapa bulan saat ini. Sementara keempat anak mereka, tinggal bersama keluarga baru mantan istrinya itu,” ungkapnya. (TT/int)

1000 Lilin Perdamaian dari Tepian Danau Toba


TobaTimes, Balige - Teror bom gereja di Samarinda yang melukai 4 anak dan satu diantaranya meninggal dunia telah melukai kita. Warga Tobasa dari lintas agama dan suku merasakan hal yang sama.
Peserta acara refleksi damai foto bersama.
Menyikapi hal itu, mereka menggelar acara penyalaan 1.000 lilin di tugu Pahlawan DI Pandjaitan di Balige, Senin (21/11). "Ini menjadi refleksi dengan penyalaan lilin sebagai lambang perdamaian atas sejumlah kejadian belakangan ini. Seperti beberapa bulan lalu, teror di Gereja Katolik saat ibadah berlangsung. Kemudian teror bom Gereja Samarinda, kemarin," ujar Tengku Idris Pardede di sela-sela kegiatan.

Peserta lain, Sabar Silalahi, menyebutkan, acara tersebut secara spontanitas yang diikuti masyarakat lintas agama dan lintas suku. Kegiatan itu merupakan doa sembari menyuarakan perdamaian di Indonesia. Diharapkan, kejadian seperti itu tidak pernah terulang lagi.

"Cukup, inilah yang terakhir. Hentikan kekerasan. Kita sangat sesalkan kejadian itu. Yang korban, anak-anak yang tidak tahu apa-apa. Tidak tahu negara ini dan tidak tahu politik. Jangan ada lagi kekerasan yang menyesatkan dan memecah belah antar agama. Selama ini, ikatan kebersamaan antar agama terjalin baik. Jangan gara-gara segelintir rusak kebersamaan itu," katanya.

Mantan anggota DPRD Tobasa itu menegaskan, masyarakat Tobasa tidak ingin ada kekerasan. "Kita tidak ingin dipecah belah. Secara khusus di Tobasa, mari kita saling menjaga," pintanya.

Tokoh agama H Imran Napitupulu menambahkan, nuansa kerukunan antar umat beragama yang sangat solid dan terlihat begitu kental di wilayah Tobasa harus diperlihatkan melalui semangat egaliter persaudaraan.

"Dalam keragaman hendaknya terbina persatuan. Berbeda tapi saling membutuhkan. Saling melengkapi. Layaknya pelangi di awan tinggi," katanya.

Balige Raja merepresentasikan itu semua. Dengan penduduk yang terdiri dari berbagai etnis dan agama yang dianut. Sisi ajaran agama, jangan  hanya dilihat sebagai formulasi hubungan dengan Tuhan secara vertikal, tapi dimensi humanitas dan formulasi hubungan horizontal sesama umat manusia juga harus diimani. Kerukunan umat beragama, sejatinya harus dilestarikan.

Tampak pada ujung spanduk terlihat foto almarhum Intan. Acara tersebut diisi dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengheningkan cipta. Sesekali, mereka menyuarakan serentak "Stop Kekerasan". Hingga berita ini diturunkan, kegiatan masih terus berlangsung. (TT/int)

Tobasa Butuh 868 Guru SD dan SMP


TobaTimes, Balige - Jaminan kualitas pendidikan tentunya tidak terlepas dari ketersediaan dan kompetensi tenaga pendidik. Meski tidak mudah, namun dalam prakteknya di lapangan hal itu harus terpenuhi.

Ilustrasi.
Seperti halnya di Kabupaten Tobasa, hingga saat ini Dinas Pendidikan Dasar (Dikdas) di daerah itu masih butuh sebanyak 868 guru. Untuk menutupi kekurangan itu, instansi terkait memberdayakan tenaga honor.

"Sebenarnya, untuk tingkat SD dan SMP negeri, kita masih butuh guru sebanyak 868 orang. Untuk menutupi kekurangan itu, kita berdayakan tenaga honor. Seperti, honor kontrak dan honor komite sebanyak 868 orang. Sehingga kebutuhan guru tertutupi," ujar Kepala Dinas Pendidikan Tobasa Lalo H Simanjuntak ketika ditemui di ruang kerjanya, Senin (21/11).

Di Tobasa ada 227 SD dan 51 SMP. Sementara guru PNS hanya 2.102 orang. Sehingga masih butuh tenaga guru.

"Bicara rasio, perbandingan antara jumlah siswa dengan jumlah guru, memang belum memadai. Idealnya, 1 guru untuk 30 siswa. Namun itupun tidak bisa kita jadikan dasar untuk menghitung kebutuhan guru di Tobasa. Tetapi kebutuhan guru sesuai rombongan belajar. Contohnya, di salah satu SD, ada yang siswanya dari kelas 1 hingga 6 hanya 60 orang. Jadi mana mungkin cukup 2 atau 3 guru di sekolah tersebut," katanya.

Bicara kualitas pendidikan, pihaknya terus berupaya melakukan pembenahan, baik sarana dan prasarana, juga peningkatan SDM tenaga didik.

"Yang menjadi jaminan kualitas pendidikan, pertama guru harus cukup. Itu telah kita benahi dengan mengangkat tenaga honor kontrak dan komite.

Sebenarnya, kita harapkan seluruh guru PNS, tetapi tidak memungkinkan oleh aturan-aturan. Kemudian guru-guru yang berkompetensi, itu sudah kita laksanakan beberapa tahun belakangan  bekerjasama USAID memberikan pelatihan kepada guru, kepala sekolah dan pengawas. Kemudian sarana dan prasarana, itu juga kita upayakan maksimal sesuai kebutuhan," paparnya.

Dibanding tahun lalu, mutu pendidikan di Tobasa meningkat. Alat ukurnya, telah adanya siswa Tobasa yang menjadi duta Sumatera Utara pada olimpiade sains. Ditingkat kompetensi siswa LKS juga, termasuk prestasi dalam bidang non akademis.

"Kemudian, tahun ini, ada sebanyak 760 alumni kita yang masuk perguruan tinggi negeri dari sebanyak 2.100 lulusan. 46 orang di ITB, ini termasuk prestasi kita," tandsanya. (TT/int)

Ahok Diperiksa Besok, Belum Ada Rencana Penahanan


TobaTimes, Jakarta - Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok rencananya akan diperiksa tim penyidik Bareskrim Polri besok, Selasa (22/11/16) besok. Hingga siang ini, belum keputusan apakah Ahok ditahan atau tidak.
Ahok.
"Pemeriksaan Pak Basuki sesuai jadwal besok sebagai tersangka. Besok akan menjalani pemeriksaan dimulai dari pukul 09.00 WIB," ujar Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (21/11).

Boy mengatakan, belum ada pembahasan rencana penahanan Ahok. Polri sebelumnya menegaskan penahanan merupakan hak penyidik yang didasari alasan subyektif dan obyektif.

"Sejauh ini belum ada, (tapi) sifatnya setiap tersangka bisa dilakukan penahanan. Dalam waktu 1 minggu akan dituntaskan berkas perkara dalam tahap ke satu," sambungnya.

Ahok ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan penistaan agama karena menyebut surat Al-Maidah ayat 51 saat bertemu dengan warga di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, pada 27 September 2016. Dalam penyelidikan, polisi sudah memeriksa 29 orang saksi dan 39 orang ahli, termasuk Ahok, yang dua kali diperiksa.

Ahok dikenai sangkaan pidana dengan Pasal 156 a KUHP juncto Pasal 28 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Polisi memutuskan tidak menahan Ahok, namun mencegahnya ke luar negeri.

Tim penyidik Bareskrim Polri sudah memeriksa 10 orang saksi kasus Ahok hingga Jumat (18/11). Pemeriksaan dipercepat agar berkas perkara segera rampung untuk dilimpahkan ke penuntutan. (dtc/int/TT)

Gila! Pria Ini Bikin Surat Keterangan Istri Sudah Mati agar Bisa Nikah Lagi


TobaTimes - Keinginan untuk menikah lagi membuat pria berinisial RUD (32) menghalalkan segala cara. Dia tega memalsukan kematian istrinya pertamanya, DR (26), demi melanggengkan niatnya.
Ilustrasi.
Untungnya tindakan kurang ajar RUD diketahui kerabat DR yang langsung melapor ke polisi. Dia dilaporkan atas tuduhan membuat keterangan palsu.

Paman DR, Sulaeman mengatakan, dugaan pemalsuan data kematian terungkap setelah meminta keterangan dari istri baru RUD yang bernama Siti Hotimah. Keduanya sudah resmi melakukan pernikahan baru-baru ini.

"Dari data pengantar surat nikah (NA) yang diperlihatkan Siti Hotima, ternyata keponakan saya dinyatakan telah meninggal dunia, padahal sampai saat ini masih sehat walafiat, ini jelas ilegal dan melanggar hukum, dan keluarga kami tersinggung," ungkap Sulaeman kepada Pasundan Ekspres, usai melaporkan RUD ke Mapolres Purwakarta, Jumat (18/11/16).

Kejanggalan lain, pemerintah desa dimana RUD tinggal dengan ceroboh membantu proses pernikahan tersebut. "Waktunya pun relatif singkat padahal jelas-jelas orang tersebut sudah punya anak istri tetapi tetap saja di muluskan proses buat NA-nya," beber Sulaeman.

Karena itu, selain RUD, pihak aparat desa setempat juga dilaporkan karena dianggap turut serta membantu proses pernikahan RUD. "Kita laporkan RUD berikut pemerintah desa bersangkutan karena telah membuat data palsu," kata Sulaeman.

Kasat Reskrim Polres Purwakarta AKP. Dadang Garnadi membenarkan adanya laporan pemalsuan data tersebut. "Iya sudah ada laporan dan sedang kita proses," katanya kepada wartawan. (TT/int)

Birahi di Ubun-ubun, Ingin Begituan, tapi...


TobaTimes - Pria ini sungguh apes. Maksud hati ingin bersenang-senang dengan PSK, malah dirampok. Ceritanya, pria asa NTT ini baru beberapa hari tiba di Pontianak dan hendak cuci mata.
Ilustrasi.
Pria berinisial Nik lalu memutuskan jalan-jalan ke kafe di Jalan Budi Karya (Ambalat), Pontianak Selatan. Saat itu, matanya tertambat pada penjaga kafe yang berbadan bahenol.

Nik lantas bertanya pada sang rekan berinisial Fri tempat untuk melampiaskan berahinya. Fri yang sudah cukup lama tinggal di Pontianak memberi tahu bahwa penjaga kafe itu tak bisa diajak ngamar. Nafsu yang sudah di ubun-ubun membuat Nik gelap mata.

Dia ingin begituan dengan PSK. Fri akhirnya membawa Nik ke sebuah hotel. Saat itu, jarum jam sudah menunjukkan pukul 02:00 waktu setempat. Tidak sampai lima menit, mereka sudah tiba di hotel. Begitu tiba, keduanya langsung dikerumuni beberapa pria yang menawarkan wanita penghibur.

Para wanita penjaga seks itu dibanderol Rp 500 ribu sekali kencan. Sayangnya, dompet Nik ternyata sedang tipis. Dia ingin mencari wanita yang bisa diajak begituan dengan tarif Rp 200 ribu.

Hal itu ternyata membuat para pria tadi tersulut amarah. Nik langsung melarikan diri dari halaman hotel. Dia pun dikejar tiga orang pria. Sementara itu, Fri dijaga oleh dua pria lainnya. Pelarian Nik hanya sampai di simpang lampu merah.

Nik terhenti setelah ditodong pisau oleh pria yang mengejarnya. Semua barang berharganya diambil oleh pria tak dikenal itu. Bahkan sepeda motor Fri pun dibawa kabur pelaku.

“Orang-orang itu tanya, cari cewek kah. Saya bilang iya, tapi abang ini (Nik) yang cari. Saya hanya ngantarkan,” ungkap Fri ditemui di Mapolresta Pontianak sebagaimana dilansir laman Pontianak Post, Sabtu (19/11).

Dia mengungkapkan, gerombolan pria merupakan perampok. Semua barang berharga miliknya dan Nik dirampas.

"Uang saya RM 16 ribu, tiga unit handphone dan surat berharga diambil. Sedangkan Nik, uang Rp800 ribu dan surat berharganya semua dirampas,” ujar Fri. (TT/int)

20.11.16

Terbuai Janji Manis, Nenek 75 Tahun Nuntut Dinikahi

TobaTimes, Jatim - Selayaknya gadis remaja, nenek berusia 75 tahun ini sedang dilanda asmara. Ia menuntut dinikahi kekasihnya.
Ilustrasi.
Namanya Satuna (75), wanita uzur yang terbuai janji manis Aditya Juhari. Karena cinta, dia  bersedia meminjamkan uang. Pria 44 tahun itu berjanji menikahinya.

Janji menikahi itu ternyata hanya modus Aditya untuk menguras harta Satuna. Aditya, yang sudah memacari Satuna beberapa bulan, membawa lari 25 gram emas milik korban. Merasa tertipu, akhirnya Satuna melapor ke Polsek Mulyorejo.

Unit reskrim polsek yang dipimpin Kompol Bagus Dwi Rusiawan berhasil menangkap Aditya di sekitar pangkalan taksi di Jalan Sutorejo pada Jumat (18/11/16).

Kepada polisi, Aditya mengaku tidak pernah memiliki niat untuk menikahi Satuna. Selain umur mereka terpaut jauh, dia sebenarnya tidak memiliki rasa cinta sedikit pun terhadap Satuna. 

"Saya cuma berniat ambil uangnya," katanya di Mapolsek Mulyorejo, Sabtu (19/11/16).

Namun, pelaku yang seorang duda itu mengaku hanya memanfaatkan Satuna untuk menyambung hidup. Tidak ada keinginan untuk menguras seluruh kekayaan korban.

Namun, setelah berhubungan selama empat bulan, Satuna ternyata semakin royal.

 "Sekalian saja saya iseng pinjam uang, ternyata diberi. Tapi, ya saya bilang janji nikahi dia kalau dipinjami dalam jumlah yang besar," katanya.

Saat itu Aditya berdalih uang pinjaman dari Satuna akan digunakan untuk membayar sertifikat rumah di Bandung. Dari melarikan harta Satuna, Aditya bisa mengumpulkan uang Rp 35 juta.

Duit itu dia gunakan untuk memenuhi segala kebutuhan. Termasuk bersenang-senang ke diskotek. Itu dia. Karena merasa sudah memberikan hartanya, Satuna lantas menagih janji Aditya.

Namun, tidak ada jawaban sama sekali. Bahkan, Aditya tidak pernah terlihat lagi di tempat kosnya. Pelaku mengaku sempat berpindah-pindah. Mulai Bekasi, Malang, hingga Gresik.

"Modusnya, pelaku berjanji menikahi kalau korban memberi pinjaman uang. Sejauh ini masih Rp 35 juta yang dilaporkan, tapi kemungkinan bisa bertambah," kata Kanitreskrim Polsek Mulyorejo AKP M. Yasin (TT/int)

Warung Kopi Terbakar Subuh, Rata dengan Tanah


TobaTimes, Siantar - Satu unit warung kopi milik Salim Damanik (65), di Jalan Medan KM 8,5, Kelurahan Sinaksak, Kecamatan Tapian Dolok, rata dengan tanah. Peristiwa tersebut berlangsung Jumat (18/11) pagi sekitar pukul 05.00 WIB.
Ilustrasi.

Kebakaran pertama diketahui tetangga B br Sinaga yang berada tepat di samping warung. Warung yang berdiri dari papan dan broti tersebut dengan cepat habis dibuat kobaran api.

“Saya mendengar seperti ada suara yang aneh. Saat saya melihat dari jendela kamar, benar saja ternyata warung kopi samping rumah terbakar. Saya pun langsung keluar dari rumah minta pertolongan kepada warga,” ungkapnya.

Namun saat ia menjerit minta tolong, sangat disayangkan warga tidak ada yang mendengar."Waktu aku lari ke pinggir pasar lalu menjerit untuk meminta tolong kepada warga, tidak ada satu pun warga yang mendengar, karena saat itu kan masih pagi kali," ujarnya.

Lalu suami dari B br Sinaga langsung menghubungi pemilik warkop yang terbakar yakni Salim yang pada saat itu berada di rumah. Mendapat kabar kalau warungnya terbakar ia pun langsung menuju ke tempat warungnya tersebut dan mendapati warungnya sudah habis terbakar dilahap sijago merah.

"Waktu aku lari ke pinggir pasar lalu meminta tolong kepada warga, tidak ada satu pun warga yang mendengarkan, karena itu kan masih pagi kali. Tapi setelah aku berhenti meminta tolong ada satu orang tetangga ku yang keluar dan memanggil aku karena disitu posisi ku sudah lemas kali dan panik karena melihat kabakaran itu,” aku Salim Damanik pemilik warung.

Saat dikonformasi petugas Babinkam Timnas Sinaksak Brigadir Tanjung membenarkan kejadian kebakaran yang berada di Jalan Medan tersebut dan sekarang masih kita selidiki apa yang menyebabkan kebarakan ini.

“Kita pun masih mengumpulkan saksi agar bisa membuat laporan, karena pemilik warung tidak mengetahui kejadian kebakaran ini,” ujarnya. (TT/int)

Hamili Siswi SMP Secara Bersamaan, Langsung Masuk Penjara Usai Nikah


TobaTimes - Seorang anak muda bernama Doni S (20) langsung mendekam di penjara setelah akad nikah. Pasalnya, pria ini menghamili dua siswi SMP secara bersamaan.

Ilustrasi.
Dua anak di bawah umur yang dihamili Doni yakni , DV (14) dan AS (15). Keduanya adalah pacar Doni. Kini, DV hamil lima bulan, sedangkan AS hamil delapan bulan. Keluarga DV dan AS sama-sama melaporkan Doni ke polisi atas dugaan pencabulan anak di bawah umur.

Namun keluarga DV mencabut laporannya dan menuntut Doni segera menikahi DV. Tuntutan itu dipenuhi Doni hingga akhirnya Doni dan DV menikah di Masjid Polres Ngawi.

Warga Desa Jatirejo, Kecamatan Kasreman, Ngawi, itu menikahi DV (14) pada Minggu (13/11). Usai melangsungkan pernikahan, Doni kembali dimasukkan ke dalam sel untuk menjalani proses hukum atas kasus dugaan pencabulan terhadap AS. Keluarga AS meminta agar proses hukum terhadap Doni tetap berjalan.

Ibunda Doni tak kuasa menahan tangis saat menyaksikan anaknya harus masuk kembali ke dalam penjara usai melangsungkan akad nikah. Bahkan, ia nyaris pingsan.

Hal serupa juga dialami DV. Pengantin perempuan yang masih duduk di bangku kelas 9 SMPN setempat itu menangis meraung-raung, sambil memeluk erat suaminya. DV tidak rela pria yang baru menikahinya dibawa kembali ke sel tahanan.

Kasubag Humas Polres Ngawi, AKP Eko Setyo Martono membenarkan kejadian ini. Eko mengatakan, tersangka terpaksa menikah di mapolres lantaran keluarga DV mendesak pertanggungjawaban dari tersangka Doni.

“Usai pernikahan tersangka kembali masuk jeruji besi, untuk proses terhadap kasus satunya yang ia alami saat ini,” katanya pada Memorandum (grup pojoksatu).

Ia mengatakan, meskipun tersangka Doni telah lepas dari kasus yang satu lantaran laporan keluarga DV dicabut dan meminta proses kekeluargaan, namun untuk proses kasus satunya lagi yang menimpa AS tetap berjalan.

“Untuk kasus yang menimpa AS, kepada tersangka proses tetap berlanjut. Tersangka tetap diperiksa melalui unit PPA yang kini tengah menanganinya,” tambah Eko.

Ia menambahkan bahwa tersangka bisa saja dijerat dengan Pasal 81 ayat (2) UU RI Nomor 35 Th 2014 tentang Perubahan UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan anak. Dengan ancaman kurungan penjara minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun. (TT/int)