5.2.20

Sepedamotor Saling Hantam, Pelajar SMA Tewas


TobaTimes - Kecelakaan maut terjadi di Jalinsum Sibolga-Padangsidimpuan, tepatnya di KM 44 Dusun Parira, Desa Anggoli, Kecamatan Sibabangun, Tapanuli Tengah (Tapteng), Sabtu (1/2/20) lalu.

Jasad Eko saat ditangani di Rumah Sakit.
Sepeda motor Honda Revo BB 2393 HL laga kambing dengan Honda Supra tanpa nomor polisi. Akibatnya, Mery Hutapea (50) warga Desa Aek Ngadol,  Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan (Tapsel) dan Soleh (16) warga Lingkungan IV Kelurahan Sibabangun, Kecamatan Sibabangun, Tapteng, menderita luka-luka pada bagian mulut, mata, kaki dan tangan.

Sementara seorang lainnya, Eko Satrio (16), yang juga warga Lingkungan IV Kelurahan Sibabangun, Kecamatan Sibabangun, menghembuskan nafas terakhir sesaat setelah sampai di RSUD Pandan untuk memdapatkan perawatan medis.

Keterangan yang dihimpun dari saksi mata di lokasi kejadian menyebutkan, peristiwa yang menewaskan siswa kelas II SMAN 1 Sibabangun ini bermula saat Honda Revo BB 2393 HL yang dikemudian Mery Hutapea melaju dari arah Sibolga menuju Padangsidimpuan. Sementara Honda Supra tanpa nomor polisi yang dikemudikan Soleh melaju dengan arah berlawanan.

Setiba di lokasi kejadian, Honda Supra yang melaju dengan kecepatan tinggi mengambil jalur sebelah kanan jalan. Soleh yang berboncengan dengan Eko Satrio tidak memperhatikan jika di depannya ada kendaraan yang juga sedang melaju berlawanan arah. Laga Kambing tidak bisa dielakkan. Ketiga korban tergeletak bersimbah darah.

Masyarakat yang melihat kejadian segera membawa korban ke Puskesmas Sibabangun untuk mendapatkan pertolongan medis. Oleh pihak Puskesmas Sibabangun, ketiga korban dirujuk ke RSUD Pandan akibat luka-luka yang diderita cukup serius. Eko Satrio menghembuskan nafas yang terakhir sekitar pukul 00.30 WIB setiba di RSUD Pandan.

Peristiwa laka lantas yang mengambil korban jiwa ini dibenarkan Kapos Lantas Pinangsori-Sibabangun, Bripka Dedy Sitompul. Ia  menyebutkan jika peristiwa tersebut telah ditangani Unit Laka lantas Polres Tapteng.

"Kejadiannya sekitar pukul 21.00 WIB. Korban tewas sudah diserahkan kepada pihak keluarga," ujarnya. (bbs/int)

Dikasih Uang Rp4 T, Terpakai Cuma Rp1 T, Oh Danau Toba...


TobaTimes - Status Danau Toba sebagai destinasi pariwisata super prioritas terancam dicabut. Dana sebesar Rp4 triliun yang pernah dijanjikan Presiden Joko Widodo untuk pengembangan kawasan pariwisata di Danau Toba, terancam ditarik kembali oleh pemerintah pusat untuk dialihkan ke wilayah lain.

Danau Toba.
Pasalnya, penyerapan anggaran untuk pengembangan pariwisata di danau terbesar di Asia Tenggara itu tidak maksimal.

Padahal menurut Direktur Pemasaran Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT), Basar Simanjuntak, dana Rp4 triliun tersebut sudah on place (di APBN) dan siap dikucurkan. Direncanakan dana itu digunakan untuk persiapan berbagai fasilitas pariwisata di tujuh kabupaten di kawasan Danau Toba.

“Anggaran untuk pengembangan super prioritas wisata Danau Toba Rp4 triliun. Duit itu harus dihabiskan dengan benar. Namun yang terjadi saat ini, justru baru terserap Rp1 triliun,” ungkap Basar Simanjuntak dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi B DPRD Sumut, pemkab se-kawasan Danau Toba, Disbudpar Sumut, dan pelaku pariwisata Sumut, Senin (3/2/20).

Karenanya, dia khawatir status Danau Toba sebagai salah satu destinasi pariwisata super prioritas yang dicanangkan pemerintah pusat pada 2019 lalu bersamaan dengan destinasi lain seperti Labuhan Bajo, Borobudur, dan lainnya, kemungkinan bakal berakhir lebih cepat.

“Status super prioritas itu mungkin berakhir dua tahun lagi sejak sekarang. Tapi prediksi saya, status super prioritas ini bisa saja berakhir tahun depan (2021),” ujarnya.

Tidak maksimalnya penyerapan dana Rp4 triliun itu, lanjut Basar, disebabkan sejumlah hambatan dari masyarakat, terutama soal pembebasan lahan yang rumit dan berlarut-larut.

Saat ini, bebernya, ada salah satu marga yang melakukan gugatan hukum terkait status tanah yang hendak dibangun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Selain soal pembebasan lahan, Basar menyebutkan, penolakan masyarakat juga menjadi kendala utama pengembangan pariwisata Danau Toba.

“Saat ini sudah sepuluh kali sidang. Saya pikir (jaur hukum) ini jauh lebih bagus, jadi ada kepastian,” ujar Basar.

Jika penolakan ini terus berlanjut tanpa ada solusi hukum, Basar khawatir masa kerja pembangunan destinasi wisata super prioritas Danau Toba tidak akan maksimal hasilnya.

Padahal rencana pembangunan dari anggaran tersebut antara lain; pelabuhan bebas Parapat, pelabuhan Sigapiton (Toba Samosir), waterfront Pangururan (Samosir), waterfront Pantai Atsiri, Padat Barelong (Toba Samosir) dan sebagainya.

“Diantara rencana itu, hanya pembebasan lahan untuk pelabuhan bebas Parapat dan Pantai Atsiri yang sudah 100 persen selesai. Yang lainnya belum,” ujarnya.

Informasi tersebut diperolehnya setelah minggu lalu bertemu dengan pihak Kementerian PUPR. Persisnya dengan Direktorat Jenderal Cipta Karya.

“Disebutkan, kemungkinan hanya Rp1 triliun dana tersebut yang terpakai untuk pengembangan kawasan Danau Toba. Sedangkan Rp3 triliun lagi kemungkinan dialihkan ke daerah lain,” katanya.

Diakuinya, di setiap daerah problem pembebasan tanah berbeda-beda, mulai dari soal harga atau berbagai faktor lainnya.

“Ini seharusnya jadi perhatian kita bersama. Kita carikan solusinya, sebab status super prioritas hanya sampai 2021, setelah itu harus cari dana sendiri,” katanya. (bbs/int)

Suami Bunuh Istri Karena Tak Mau Melayat Paman


TobaTimes - Seorang suami bernama Aliziduhu Nakhe, ditangkap karena diduga membunuh istrinya, Yunima Amazihono. Peristiwa itu terjadi di Nias Selatan.

Ilustrasi.
Aliziduhu diduga menikam Yunima setelah cekcok usai sang istri menolak diajak melayat ke rumah paman Aliziduhu.

"Telah terjadi penganiayaan oleh seorang suami terhadap istrinya dan orang tua perempuan dari istrinya (mertua perempuan) di depan rumah mertuanya di Dusun II, Desa Hiabolata, Kecamatan Lahusa," kata Kapolres Nias Selatan AKBP I Gede Nakthi Widhiarta, Selasa (4/2).

Dijelaskan, peristiwa itu terjadi pada Senin (3/2) pukul 20.00 WIB. Penusukan berawal saat Yunima menolak diajak melayat dan malah pergi ke rumah orangtuanya.

"Sore hari suami (pelaku) mengajak istrinya untuk pergi melayat untuk melihat paman terlapor di Desa Hiliabolata, Kecamatan Lahusa. Lalu sang istri menolak dan berkata 'untuk apa pergi ke sana, tetap juganya tidak bisa hidup kembali'. Sehingga terjadi pertikaian atau adu mulut antara sang suami dan istri tersebut," ujar Widhiarta.

Aliziduhu kemudian mendatangi Yunima di rumah mertuanya. Mereka terlibat cekcok dan kemudian Aliziduhu mengeluarkan pisau.

"Melihat kejadian tersebut, mertua laki-laki langsung memegang tangan pelaku tersebut dan dibantu oleh mertua perempuan untuk menahan perbuatan pelaku. Karena kedua mertua tersebut tidak sanggup menahannya sehingga pisau tersebut mengenai bagian belakang kepala mertua perempuan. Setelah itu, pelaku langsung menusuk sang istri," ucapnya.

Aliziduhu langsung diamankan masyarakat setempat. Polisi kemudian datang dan membawa Aliziduhu ke Polsek Lahusa untuk diproses hukum.

"Sewaktu berada di Puskesmas Lahusa, korban Yunima Amzihono alias Ina Zevi telah meninggal dunia dan korban atas nama Nitilisa Harefa alias Ina Wati dalam perawatan Puskesmas Lahusa," ucapnya.(bbs/int)

Kades Gunungtua Jae Dilaporkan ke Polres Madina


TobaTimes - Warga melaporkan oknum Kepala Desa Gunungtua Jae, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, Mardansyah Rangkuti, ke Polres Madina di Jalan Bhayangkara nomor 1 Panyabungan, Senin sore (3/2/20).

Warga Desa Gunungtua Jae saat melaporkan kades ke Polres Madina.
Laporan tersebut diserahkan perwakilan warga bernama Muhammad Rum Rangkuti dan Mhd Basir Nasution kepada Kasi Umum Polres Madina, dengan harapan laporan mereka tersebut dapat ditanggapi dan diproses. Turut mendampingi sejumlah warga yang lain.

Usai menyerahkan laporan, Muhammad Rum Rangkuti dan Basir Nasution kepada Metro Tabagsel menjelaskan, laporan tersebut sebagai bukti banyaknya permasalahan di Desa Gunungtua Jae Panyabungan, terutama terkait penggunaan dana desa.

Rum Rangkuti mengatakan, tahun 2019, kepala desa Mardansyah Rangkuti melakukan perubuhan kantor kepala desa yang bersumber dari bantuan (aset) pemerintah provinsi. Dan, perubuhan tersebut tidak melalui proses pelepasan aset sesuai ketentuan perundang-undangan yang ada.

"Ada delapan point dugaan pelanggaran yang dilakukan oknum kades Mardansyah Rangkuti. Kebijakan yang dilakukannya telah merugikan kami masyarakat. Karena itu, kami berharap Kapolres Madina supaya memproses laporan kami dan segera memanggil Mardansyah Rangkuti," kata Rum dan Basir.

Delapan point yang dilaporkan masyarakat Gunungtua Jae tersebut yaitu; Pertama, penghancuran atau perubuhan aset pemerintah berupa kantor kepala desa Gunungtua Jae tanpa melalui proses yang diduga melanggar Peraturan Pemerintah RI nomor 27 tahun 2014 tentang pengelolaan barang milik negara/daerah dan pasal 406 ayat 1 KUHP, dengan ancaman hukuman penjara 2 tahun 8 bulan.

Kedua, kepala desa telah menyalahgunakan wewenang, tugas, hak, dan kewajibannya dan tidak jujur, tidak adil dalam mengelola BUMDes tahun 2017 sebesar Rp105.370.000.

Ketiga, Kepala Desa Gunungtua Jae sewenang wenang mengunjuk pengurus dalam pengelolaan Budi daya ikan tidak secara demokratis dan pembukuan keuangannya tidak ada yang bertanggung jawab untuk membubuhkan tanda tangan dan tidak jelas pembukuannya.

Keempat, sampai saat ini kepengurusan organisasi masyarakat STM tidak ada lagi diakibatkan tidak adanya perhatian, pengayoman dan pembinaan kepala desa Gunungtua Jae terhadap masyarakat. Dan, uang sebesar Rp 8 juta yang diserahkan kepengurusan STM sebelumnya bernama Hilman Nasution kepada kepala desa Mardansyah Rangkuti sampai saat ini tidak tahu uang tersebut dikemanakan oleh Mardansyah Rangkuti.

Kelima, kepala desa menyewakan mesin molen kepada orang lain di jalan Sabut, jalan Saba Rimba, jalan Tambangan, jalan kebun Lumban Pasir, jalan mangga manis. Masyarakat tidak tahu siapa yang menyewa dan berapa hari disewakan dan uang sewa molen dikemanakan.

Keenam, pembukuan keuangan kepengurusan dan pengelolaan sarana air bersih desa Gunungtua Jae tidak ada transparansi kepala desa. Sementara biaya pemasangan ke rumah warga dikenakan biaya sebesar Rp 300 ribu dan untuk iuran perbulan dikenakan biaya Rp 6 ribu.

Ketujuh, sejak serah terima kas keuangan dan barang-barang Gapoktan, salah satunya mesin robot padi antara mantan kepala desa Usor Tua Nasution dengan kepala desa Mardansyah Rangkuti, sampai saat ini tidak diketahui pembukuannya.

Kedelapan, masih ada tiga kegiatan yang belum dikerjakan oleh kepala desa Gunungtua Jae anggaran tahun 2019, yaitu rehab madrasah, pembangunan drainase, dan pembangunan jalan serta beberapa kegiatan lainnya.

"Masih banyak sebenarnya permasalahan oknum kepala desa kami ini, warga sudah resah dan mulai tidak kondusif. Tentunya kami berharap pak Kapolres AKBP Irsan Sinuhaji segera menindaklanjuti laporan kami ini, karena kami khawatir masyarakat lebih jauh melangkah," kata Rum Rangkuti dan Basir Nasution. 

Kades Gunungtua Jae Mardansyah Rangkuti menurut informasi dalam sebulan terakhir jarang terlihat di Desa Gunungtua Jae. Warga pun mengaku tidak tahu kades mereka itu dimana. Sementara saat dihubungi lewat telepon selulernya tak pernah aktif. (bbs/int)

4.2.20

Alani Tuak, Darwin Sitorus Tewas Ditikam Markus Situmorang


TobaTimes - Darwin Sitorus (41), tewas mengenaskan setelah dibantai di tangkahan pasir Sei Dalu-dalu II, Desa Pematang Panjang, Kecamatan Air Putih Batubara, Senin (3/2/20) dinihari sekira pukul 00.30 Wib.
Jasad Darwin Sitorus dimasukkan ke kantong jenazah.
Belum diketahui apa masalah antara keduanya. Namun Kepada polisi, Markus Situmorang yang menyerahkan diri sebagai pelaku, mengaku saat cekcok dirinya disiram air tuak oleh Darwin Sitorus.

Guston Gultom yang berada di lokasi ikut memprovokasi. "Bunuh, bunuh. Kalau enggak kau bunuh, kau yang ku bunuh," kata Gultom.

Diduga dalam keadaan mabuk, mendengar teriakan Gultom, Situmorang langsung emosi dan menusuk korban dengan belati yang sudah ada di pinggangnya.

Pelaku dikabarkan juga sering minum, makan di rumah korban yang merupakan pemilik warung

Istri korban Henny Sitohang mengatakan, dia tidak menyangka Markus Situmorang nekat membunuh suaminya.

"Padahal pelaku sering makan minum di rumah kami. Kok tega membunuh laki-ku? Aku minta karena dia bunuh suamiku, hukum mati jugaklah pelakunya,"ujar Henny Sitohang.

Setelah kejadian itu, Markus Situmorang menyerahkan diri ke Polsek Indrapura.

Informasi yang dihimpun, pertarungan maut itu terjadi setelah pelaku MS datang ke sana menemui seorang pria yang sedang berjaga malam di tempat itu.

“Jadi, waktu itu pelaku nanya di mana korban ini, karena katanya, dia baru saja disiram tuak oleh korban,” katanya.

Beberapa saat kemudian, MS dan teman-temannya langsung mengeroyok Darwin. Saat itulah MS mengeluarkan sebilah parang lalu menggorok leher Darwin.

Terkena sabetan parang, Darwin pun langsung menggelepar di lokasi, sementara para pelaku segera melarikan diri.

Petugas jaga malam yang tadi ditanyai MS langsung mendatangi istri Darwin Henni dan selanjutnya menghubungi polisi. Saat polisi tiba, Darwin ditemukan sudah tak bernyawa.

Pantauan wartawan, setelah melakukan olah TKP, personel Polres Batubara dan Polsek Indrapura mengamankan sejumlah barang bukti. Sebilah parang yang diduga menghabisi Darwin, ditemukan tak jauh dari jasadnya.

Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti lainnya lalu memasang police line. Jenazah Darwin kemudian dimasukkan ke kantong jenazah sebelum dibawa dengan ambulans ke RSUD Batubara.

Salah seorang warga sekitar mengatakan, para pelaku melakukan pengeroyokan karena selama ini Darwin disebut punya keahlian bela diri.

“Kalau satu lawan satu, pasti nggak tahan lah sama dia. Kalau nggak main keroyokan si pelaku itu, nggak mungkin korban kalah,” sebutnya.

Tak berselang lama, tiga terduga pelaku pengeroyokan yang menewaskan Darwin Sitorus di Desa Pematang Panjang, Kecamatan Air Putih, Batubara, Senin (3/2/2020) dinihari diamankan polisi.

Kapolsek Indrapura AKP Mitha Natasya SH SIK, ketika dikonfirmasi Senin (3/2/2020) pagi membenarkan hal tersebut.

“Satu orang menyerahkan diri, dua pelaku lagi hasil pengembangan. Saat ini kita masih melakukan pengejaran terhadap pelaku lainnya. Pelaku pembunuhan diduga lebih dari 2 orang,” sebut Mitha.

Informasi yang dihimpun, ketiga terduga yang diamankan, salah satunya adalah MS yang diduga telah menyabetkan parang ke leher Darwin. Sedangkan 2 terduga lainnya yaitu JP dan GG, keduanya warga Desa Pematang Panjang.

“Saat ini, ketiganya masih menjalani penyidikan di Mapolsek Indrapura. Untuk motifnya, biar pimpinan nanti yang menjelaskan,” pungkasnya. (bbs/int)


3.2.20

Kakek Melompat ke Jurang Sedalam 15 Meter


TobaTimes - Seorang kakek bernama Suken (60), ditemukan tewas setelah melompat ke dalam sungai dengan ketinggian diperkirakan 15 meter dari jembatan Sungai Bah Kisat, Nagori Maligas Tongah, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun

Jasad kakek Suken ditemukan di pinggir sungai.
Peristiwa itu terjadi Sabtu (1/2) sekira pukul 08.00 WIB. Korban yang merupakan warga Huta I Margosono, Nagori Mekar Mulia, Kecamatan Tanah Jawa itu ditemukan tersangkut di batu pinggir sungai dengan kondisi sudah tidak benyawa.

Kapolsek Tanah Jawa Kompol J Purba saat dikonfirmasi via selulernya, Minggu (2/2) sekira pukul 13.30 WIB membenarkan kejadian tersebut.

"Mayat korban ditemukan berjarak 200 meter dari Jembatan Bah Kisat, mengalami luka pada pelipis kanan diduga karena terbentur ke dasar sungai dan mengena ke batu," ujarnya.

Kompol J Purba menceritakan, sebelum kejadian, saksi Romiadi (33) seorang Karyawan Kebun Balimbingan melintas mengenderai sepedamotornya dari kuburan Maligas Tongah.

Kemudian Romiadi melihat Suken menyetop kendaraannya dan minta tolong untuk diantarkan ke Nagori Tanjung Pasir. Romiadi lalu membonceng korban.

Namun Romiadi yang bekerja sebagai Karyawan PTPN IV Kebun Balimbingan dan harus mengikuti apel pagi di Kantor Afdeling II Bah Kisat. Maka korban diturunkan di dekat pondok Bah Kisat.

Romiadi berpesan, nanti setelah apel, ia akan mengantar kakek tua itu ke Tanjung Pasir. Setelah Romiadi selesai apel pagi, selanjutnya mencari korban.

Namun tidak ditemukan lagi di tempat yang semula, kemudian Romiadi mencarinya ke Jembatan Bah Kisat dan menemukan sandal korban berada di atas jembatan.

"Diduga korban melompat ke dalam sungai dengan ketinggian diperkirakan 15 meter dari jembatan. Mayat korban ditemukan oleh menantunya bersama masyarakat tersangkut di batu pinggir sungai dengan kondisi sudah tidak benyawa," sebutnya.

Atas kejadian tersebut, masyarakat mendadak heboh memadati sungai Bahkisat dan mayat korban dievakuasi dari dalam sungai dan dinaikkan ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah duka.

"Dari hasil keterangan menantu korban bernama Hasan bahwa korban mengidap sakit menahun yaitu penyakit Parkinson sudah 9 tahun dan harus mengkonsumsi obat setiap hari," katanya. (bbs/int)

Dini Hari, 24 Rumah Karyawan Terbakar


TobaTimes - Sebanyak 24 rumah di Perumahan Karyawan PT Maju Indo Raya (MIR) Desa Simarlelan, Muara Batangtoru, Tapanuli Selatan (Tapsel), habis terbakar pada Sabtu (1/2/20) dini hari.

Rumah karyawan terbakar.

Kapolsek Batangtoru AKP DMZ Harahap mengatakan, penyebab kebakaran hebat itu belum diketahui secara pasti, namun saat kejadian, listrik dilaporkan sedang padam.

“Setiap malam aliran listrik di perumahan karyawan selalu mati pukul 23.00 WIB dan hidup kembali pada pukul 04.00 WIB,” kata Kapolsek.

Dikatakan, pihaknya masih menyelidiki penyebab kebakaran. “Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan, akan tetapi asal api diduga  dari rumah milik warga yang ikut terbakar,” ujar DMZ Harahap.

MenurutKapolsek, api berhasil dipadamkan sekitar pukul 05.00 WIB dengan dibantu warga dan petugas.

“Rencana tindak lanjut akan menyelidiki penyebab kebakaran dan memeriksa beberapa saksi. Dan untuk korban sampai saat ini masih mengungsi di lokasi yang disiapkan pihak perusahaan,” kata Kapolsek.

“Tidak ada korban jiwa, namun kerugian akibat bencana kebakaran ini ditaksir untuk mencapai Rp1 miliar,” katanya lagi. (bbs/int)

16.10.19

Walikota Medan Dzulmi Eldin Ditangkap KPK


TobaTimes - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap tangan Walikota Medan Dzulmi Eldin. Eldin dibawa ke Jakarta hari ini, Rabu (16/10/19).

Ilustrasi.
Kabiro Humas KPK Febri Diansyah, Rabu (16/10/19). "Kepala daerah dibawa pagi ini ke Jakarta. 6 orang lain masih diperiksa di Polrestabes Medan," kata Febri Diansyah kepada wartawan.

Dia memang belum menyebut identitas para pihak itu. Febri juga belum menjelaskan kasus yang membuat Eldin terjaring OTT.

"Uang yg diamankan lebih dari Rp 200 juta. Diduga praktik setoran dari dinas-dinas sudah berlangsung beberapa kali," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada wartawan, Rabu (16/10/2019).

Belum disebut duit itu berasal dari mana. Febri mengatakan selain Eldin, KPK juga mengamankan 6 orang lainnya.

Ketujuh orang yang diamankan itu masih berstatus sebagai terperiksa. KPK punya waktu 1x24 jam sebelum menentukan status hukum mereka.

Menurut informasi, total 7 orang diamankan, yaitu dari unsur Kepala Daerah, Kepala Dinas PU, protokoler dan ajudan wali kota, swasta," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada wartawan, Rabu (16/10/19).

"Tim sedang mendalami lebih lanjut," ucap Febri. (bbs/int)

6.8.19

Kristina Gultom Siswi SMK Taput, Tewas Mengenaskan dan Diduga...


TobaTimes - Siswi SMK Kristina Br Gultom (20) ditemukan tewas dalam posisi telungkup tanpa busana di perladangan Dusun Pangguan Hutapea Banuarea Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Senin (5/8/19).

Proses evakuasi jasad Kristina Gultom.
Penemuan mayat Kristina yang diduga korban pemerkosaan ini sedang viral di media sosial Facebook. ALFONSO Situmorang merupakan satu di antara warganet yang membagikan penemuan mayat Kristina yang diketahui sebagai pelajar SMK Swasta Karya Tarutung.

Alfonso Situmorang membagikan empat foto dan satu video, yang disertai status sebagai berikut di sebuah grup. Saat ini Penyidik Polres Taput telah mengevakuasi mayat dan masih proses penyelidikan.

Informasi yang diperoleh, jenazah Kristina ditemukan dalam posisi telungkup tanpa busana. Jenazah Kristina ditemukan di antara semak pohon bambu dekat perladangan warga, sekitar pukul 08.00 WIB.

Pada video yang dibagikan Alfonso Situmorang, terlihat seorang perempuan mangis tersedu-sedu di sekitar lokasi penemuan jenazah Kristina.

Perempuan yang menangis meraung-raung itu diduga sebagai ibu korban. Itu diketahui dari kata-kata yang diucapkannya dan menyebut ingin melihat wajah putrinya.

Jenazah Kristina telah dievakuasi dari lokasi penemuan menggunakan mobil ambulans milik Dinas Kesehatan Pemkab Taput.

Terlihat warga sangat banyak yang berada di lokasi penemuan jenazah Kristina. Dari percakapan yang terdengar di video, Kristina sedang PKL di kantor pemerintahan.

Ada yang menyebut di Kantor Dispora Tapanuli Utara, dan ada juga yang menyebut di Kantor Bupati Tapanuli Utara,

Kristina ditemukan oleh ayahnya, Sardi Gultom dan sejumlah warga lainnya yang memang melakukan pencarian, setelah Kristina tidak pulang ke rumah dan tak bisa dihubungi.

Jenazah korban dievakuasi sekitar pukul 11.20 menuju Rumah Sakit Tarutung untuk divisum. Sementara, polisi masih berada di lokasi penemuan mayat dan telah membuat police line.

Dikabarkan, terduga pelaku sdah diamankan di Polres Taput untuk dimintai keterangan.

Kasubbag Humas Polres Tapanuli Utara, Aiptu Sutomo M Simaremare mengatakan, Polres Tapanuli Utara berjanji segera mengungkap kasus kematian Kristina siswi SMK Swasta Karya Tarutung yang diduga diperkosa sebelum dibunuh.

“Polisi sedang mendalami kasus kematian Kristina ini,” ujar Sutomo M Simaremare.

Kata Sutomo, Kristina merupakan siswi kelas XII, SMK Karya Tarutung, warga Dusun Barbaran Huta Pangguan, Desa Hutapea Banuarea, Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Sehari-hari tinggal bersama kedua orang tuanya dan sedang menjalani praktik kerja lapangan di Kantor Dispora Taput.

Sardi menemukan putrinya sudah dalam keadaan tidak bernyawa di kebun yang tidak jauh dari rumahnya.

Mendapat informasi tersebut, petugas Satreskrim Polres Taput pada pukul 08.00 WIB pun bergegas menuju lokasi korban ditemukan.

Sutomo menjelaskan, saat melakukan olah TKP, petugas mengamankan barang bukti dan mengevakuasi korban ke Rumah Sakit Umum Tarutung. Korban ditemukan tanpa busana.

Korban merupakan putri dari pasangan Tiomasretna boru Simatupang dan Sardi Gultom.

“Ya, mendekati kebetulan korban tanpa busana, tapi kita belum bisa pastikan. Tapi, masih kita dalami agar tidak simpang siur,”ujar Sutomo.

Dari lokasi kejadian, polisi menemukan pakaian dalam (bra) korban sekitar 3 meter. Lalu, 1 meter dari posisi korban didapati celana dalam korban.

“Kemudian pukul 11.20 WIB kami dibawa ke Rumah Sakit Umum Tarutung untuk mendapatkan visum,” jelasnya.

Siapa diduga pelaku? Aiptu Simaremare mengaku masih mendalami kasus tersebut.

Namun, saat ini Polres Taput sudah mengamankan seseorang yang menurutnya belum bisa disebut namanya.

“Proses penyelidikannya kan harus cepat. Jadi artinya kami di situ kan lagi proses, dan berusaha mengungkap ini,” jelas Sutomo.

“Kalau sekarang pihak polres lagi berusaha mengungkap. Sesuai petunjuk alibi masyarakat, ada seseorang kita amankan. Tapi belum bisa kita sebut ke publik siapa namanya kalau belum terbukti,” sambungnya.

Seorang warga Darisson Hutapea, warga dusun Bahal Nagodang desa Hutapea Banuarea Kecamatan Tarutung, Taput mencuriga seorang pria.

Darisson curiga kepada RH. Karena pada Minggu (4/8) sore Darisson melihat RH berboncengan dengan seorang perempuan berbaju merah di sekitaran dusun Sitolu-tolu.

Di lokasi RH berboncengan dengan perempuan berbaju merah itu, ayah korban bersama saksi Sanggam memutuskan untuk melakukan penyisiran ke arah Dusun Sitolu-tolu.

Sanggam Hutapea langsung melihat korban sudah dalam keadaan tidak bernyawa dan dengan dalam posisi telungkup di bawah pohon bambu dan salak. (bbs/int)

Ini Penyebab Boru Sagala Mengakhiri Hidup di Pohon Mangga


TobaTimes - Seorang perempuan ditemukan tewas tergantung di pohon dekat kontrakannya di Jalan Nusa Indah, Kompleks Pemda, Medan Selayang, Medan, Senin (5/8/19) pagi.

Jasad Florintina diturunkan dari pohon mangga.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, jasad perempuan bernama Florentina Br Sagala (49) itu pertama kali ditemukan anak tetangganya yang juga pemilik kontrakan.

"Anak saya yang kabari, kebetulan setiap pagi pukul 06.00 Wib menyapu halaman rumah sebelum berangkat ke sekolah," jelas Joni Sitanggang, tetangga Fiorentina.

Peristiwa itu lalu dilaporkan ke kepala lingkungan (kepling) setempat dan diteruskan ke kepolisian. Tak lama berselang, petugas Polsek Delitua bersama Babinsa tiba di lokasi.

Petugas langsung memasang garis polisi dan melakukan olah tempat kejadian perkara. Selanjutnya, mereka mengevakuasi jasad Fiorentina ke rumah sakit.

Belum ada keterangan resmi terkait kejadian ini. Namun warga menduga Fiorentina nekat bunuh diri karena masalah rumah tangga.

Joni mengatakan Fiorentina baru 4 bulan mengontrak di rumahnya. Menurut dia, keluarga tetangganya itu memang kurang harmonis karena himpitan ekonomi.

Sementara Kepala Lingkungan IX, Kelurahan Selayang, Medan Tuntungan, Roni (40) mengatakan, aksi bunuh diri diduga terjadi sekitar pukul 06.00 Wib.

"Menurut petugas jaga malam sekitar pukul 05.00 Wib belum ada kejadian," sebutnya.

Dia juga mengatakan, Fiorentina punya terhimpit masalah ekonomi. "Putranya pun batal berangkat kerja ke Malaysia karena masalah administrasi," ucap Roni. (bbs/int)