16.1.17

Stres, Ibu Bunuh Anak Berumur 2,5 Tahun


TobaTimes, Medan - Seorang ibu membunuh anaknya yang masih berusia 2,5 tahun. Peristiwa itu terjadi di Jalan Dahlia Ujung, Kecamatan Delitua, Medan.

Ilustrasi.
Aksi kejam itu dilakukan si ibu karena diduga sedang mengalami stres. "Korban bernama M Altahir, umur 2,5 tahun," kata Kapolsek Delitua Kompol Wira Prayatna, Minggu (15/1/17).

Wira mengatakan, pembunuhan terjadi sekitar pukul 12.00 WIB. Polisi telah memeriksa empat saksi, yakni Sutan Hasibuan (39), Melisa (29), Dewi (30), dan Ratimin (40).

"Saat itu saksi Dewi sedang berdiri di depan rumah dan melihat anak-anak Sutan berlarian keluar rumah berteriak 'tolong'," kata Wira.

Setelah itu, Dewi menghubungi Sutan (pemilik rumah) dan Melisa untuk pulang melihat kejadian tersebut. Setiba di rumah, Sutan melihat korban sudah tidak bergerak dengan kondisi usus keluar dan penuh darah. Kemudian korban dibawa ke rumah sakit.

"Saksi Sutan kemudian menghubungi Polsek Delitua. Kita menuju ke lokasi, seterusnya mengamankan pelaku," ujarnya.

Dari lokasi kejadian, polisi mengamankan barang bukti dua bilah pisau dan baju korban. "Kita berkoordinasi dengan Rumah Sakit Bhayangkara, Medan, untuk melakukan autopsi. Ini (kasus) masih dalam penyelidikan," kata Wira.

Pelaku akan dibawa ke rumah sakit jiwa. Berdasarkan keterangan saksi, pelaku diduga stres. "Keterangan saksi yang satu rumah dengan pelaku, pelaku ini orangnya tertutup, pendiam. Seperti stres," kata Wira.

"Dugaan sementara stres, sehingga muncul seperti pemikiran aneh. Ngomong-nya kadang nyambung, kadang nggak," ujarnya lagi. (TT/int)

13.1.17

Haha...! Rombongan Bupati Tobasa Kena Tilang


TobaTimes, Medan - Mungkin tak ada yang menyangka. Rombongan Bupati Toba Samosir (Tobasa) Darwin Siagian kena bukti pelanggaran (tilang) saat melintas di Kabupaten Serdang Bedagai.
Rombongan Bupati Tobasa ditilang.
 Sanksi itu diberikan lantaran polisi menilai tindakan pengawalan yang dilakukan Dishub Tobasa tidak sesuai ketentuan.

Kapolres Serdang Bedagai Eko Suprihanto dalam paparannya, Kamis (12/1/17), mengatakan, penilangan dilakukan karena pengawalan oleh Dishub Tobasa melanggar Pasal 59 ayat 5 UU No. 22 Tahun 2009 tentang Penggunaan Lampu Isyarat dan Sirine. Serta, melanggar Pasal 134 UU No 22 tahun 2009 tentang Pengguna Jalan yang Memperoleh Hak Utama.

"Kegiatan pengawalan yang dilakukan oleh Dishub Pemkab Tobasa saat melintas di Sergai pada Senin malam itu sangat berbahaya dan membahayakan pengguna jalan lain," katanya.

Polisi menilai pengemudi kendaraan tidak menguasai tata cara pengawalan. Pengemudi juga dianggap tidak memiliki kompetensi dalam kegiatan pengawalan.

"Itu semua mobil dimasukkan ke halaman Polres dan pengawalnya ditilang," tuturnya.

Pengemudi yang ditilang atas nama Henry Siahaan. Dia mengemudikan mobil Dishub BB 1111 E milik Pemkab Tobasa. "Barang bukti yang ditahan adalah SIM atas nama Henry Siahaan," bebernya.

Eko menambahkan, tilang dilakukan untuk memberikan efek jera. Sekaligus pembelajaran bagi pimpinan daerah agar ke depan meminta bantuan kepolisian dalam kegiatan pengawalan. (TT/INT)

Mengapa PNS Belum Gajian? Ini Penyebabnya...


TobaTimes, Jakarta - Para Pegawai Negeri Sipil (PNS) di sejumlah daerah hingga saat ini belum ada yang gajian. Hal ini sangat tidak lazim sehingga membuat para PNS itu bertanya-tanya.
 
Ilustrasi.

Apa penyebabnya? Direktur Jenderal Otonomi Daerah dari Kementerian Dalam Negeri Sumarsono menjelaskan alasan telatnya pencairan gaji tersebut.

Dia mengatakan, hal tersebut disebabkan karena adanya perampingan organisasi perangkat daerah di seluruh Indonesia.

"Gaji sudah ada di rekening, tapi belum ada penunjukan kuasa pengguna anggaran (KPA) dan pejabat pembuat komitmen,” kata Sumarsono di Jakarta, Jumat (13/1/17).

Berdasarkan peraturan pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang efisiensi dan efektivitas, menyebutkan sejumlah daerah harus memotong struktur perangkat daerah.

Namun demikian, kata Sumarsono, untuk PNS di Pemprov DKI, gaji sudah cair karena perampingan sudah selesai. (TT/INT)

11.1.17

Nggak Mau Diajak Nikah, Cewek Medan Dipukuli di Jalan

TobaTimes, Medan - Seorang wanita bernama Siti Aisah (38) tak ingin masa depannya hancur. Oleh karenanya dia menolak menikahi dengan kekasihnya, Iwan Mamang (30). Iwan memang sering kasar dan suka memukul.
Ilustrasi.
Selain itu, Iwan juga tidak punya pekerjaan tetap. Namun, malang bagi Siti, Iwan tak terima ditolak dan malah memukuli janda warga Jalan Titi Pahlawan, Gang Penghulu Lama, Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, itu.

Peristiwa itu terjadi kemarin malam. Ceritanya, Siti telah menjalin hubungan asmara dengan Iwan selama tiga bulan lamanya. Pria yang sudah menjadi kekasihnya itu berulang kali meminta untuk menikah. Namun, Siti tak mau.

Singkat cerita, malam itu Siti berboncengan naik sepeda motor dengan Iwan. Kekasihnya itu kembali meminta agar mereka menikah.

Permintaan itu ditolak oleh Siti. Sehingga, Iwan kesal dan langsung marah lalu memberhentikan sepeda motornya di simpang Pasar 5 Marelan.

Pria berstatus duda itu memukuli Siti hingga babak belur. Akibatnya Siti mengalami luka di bagian bibir dan wajah. Puas menghakimi Siti, warga Jalan Marelan Raya, Pasar 5 Kecamatan Medan Marelan, itu pun pergi begitu saja.

Tak terima dengan penganiayaan itu, Siti menelepon Dani, adiknya. Melihat kondisi Siti yang memar di bagian wajah, Dani langsung membawa korban ke RSU Wulan Windi.

Senin (9/1/2017) siang, Siti dan Dani membuat pengaduan ke Polsek Medan Labuhan. “Tadi malam kakak (Siti) saya dihajar si Iwan,” kata Dani di kantor polisi. Dani berharap polisi dapat segera menangkap Iwan.

“Sudah sering kali dia mukuli kakak saya, sekarang kakak saya terpaksa opname di rumah sakit. Jadi saya minta polisi untuk segera menangkapnya,” kata Dani lagi.

Kanit Reskrim Polsek Medan Labuhan, AKP Ponijo mengatakan sudah menerima laporan korban dan akan segera diproses. “Kalau laporannya sudah memenuhi unsur akan segera kita tangkap pelakunya,” kata Ponijo. (TT/int)

10.1.17

Suami Kerja, Istri Main dengan Tetangga


Ilustrasi.
TobaTimes - Istri tak tahu diri, sebut saja namanya Mela. Dia seharusnya melayani suami dengan baik, tapi wanita 28 tahun itu malah melakukan perbuatan yang melukai Unto, suaminya.

Warga Desa Karang Jawa, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) itu selingkuh dengan tetangganya berinisial BS.

Mela melakukan perbuatan terlarang itu ketika RJ sedang bekerja sebagai sopir di wilayah Kalimantan Timur.

Tak terima dengan perbuatan Mela, Unto langsung melaporkan kasus perselingkuhan itu ke Polsek Padang Batung.

Kapolsek Padang Batung Ipda Tugiana mengatakan, kasus itu terbongkar ketika Unto pulang bekerja. Unto menerima informasi dari tetangga yang mengatakan bahwa Mela selingkuh dengan BS.

Unto lantas menginterogasi Mela. Hati Unto remuk redam ketika HS mengaku sudah beberapa kali mandi keringat dengan BS sejak Desember lalu.

"Menurut keterangan Mela, dia sudah beberapa kali berhubungan badan dengan BS, saat RJ bekerja sebagai sopir. Saat ini, Mela dan BS sudah kami amankan untuk proses selanjutnya,” ujar Agus, Sabtu (7/1) lalu. (TT/int)

Ditangkap Tidur dengan Istri Polisi, Bupati Katingan Tetap Berkuasa


TobaTimes, Jakarta - Hmmmm...! Bupati Katingan Ahmad Yantenglie santai saja. Ia seolah tak peduli dengan perbuatannya yang melakukan perzinahan dengan seorangan istri anggota polisi.
Bupati Katingan memimpin rapat seolah tak terjadi apa-apa.
Skandal itu membuat Ahmad Yantenglie harus berurusan dengan polisi. Namun ia tidak ditahan dan kini Bupati Katingan tetap beraktivitas seperti biasa seoalah tidak terjadi apa-apa.

Sejumlah aksi unjuk rasa sebenarnya sudah bergulir mendesak Ahmad Yantenglie mundur dari kursi Bupati Katingan.

Puluhan massa dari Aliansi Masyarakat Katingan Bersatu (AMKB) kemarin tegas menuntut Ahmad Yantenglie segera hengkang dari kursi bupati. Namun, aksi damai tersebut ditanggapi biasa oleh Yantenglie.

"Itu hal lumrah. Dalam dunia demokrasi kan setiap orang boleh menyampaikan pendapat. Pendapatnya begini dan pendapatnya begitu, wajar saja. Bagi kita tidak menjadi masalah,” sebutnya kepada sejumlah awak media.

Dia meminta supaya semua menjunjung tinggi persoalan yang terjadi. “Orang boleh menuduh siapapun, boleh. Tapi duduk masalahnya seperti apa? Inikan kita lihat saja nanti,” katanya.

Terkait tuntutan mundur, ia menilai persoalan mundur atau maju itu harus dipertimbangkan secara matang. Yantenglie justeru mempertanyakan dasar dan alasan mundur itu apa. Kemudian dampak politik seperti apa.

"Bagi saya secara pribadi urusan mundur atau maju itu adalah hal yang gampang dan lumrah saja. Tapi yang jelas kita lihat saja nanti seperti apa,” katanya. (TT/int)

Seragam dan Buku Terbakar, Kapan Sekolah Lagi?


TobaTimes, Sibolga - Aktivitas pagi di hari Senin di Lingkungan V Ketapang, Kelurahan Sibolga Ilir, Kecamatan Sibolga Utara, tak seperti biasanya, dimana puluhan anak-anak beramai-ramai pergi ke sekolah. Yang terlihat, anak-anak itu berkumpul di posko kebakaran, sebagian ada yang bermain-main di antara puing-puing kebakaran yang telah menghanguskan pemukiman mereka, Minggu (8/1).

Anak-anak tidak sekolah karena buku dan seragam terbakar.
Kebakaran tersebut telah menghanguskan sekitar 30 rumah dan menyebabkan 48 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal serta anak-anak pun kehilangan seragam dan buku sekolah.

Amatan wartawan, Senin (9/1), puluhan anak tampak ramai di dalam dan di luar posko. Mereka, terutama yang masih SD, terlihat bermain dan bercanda. “Tidak sekolah. Baju dan sepatu terbakar,” ujar mereka.

Salah seorang anak, Rafael Luambhowao, siswa kelas VI SD Anggrek Sibolga mengatakan bahwa baju, sepatu dan buku-bukunya ludes terbakar dan tidak ada lagi yang tersisa. “Tidak ada lagi yang sisa,” ujarnya.

Novianti Zebua, siswi kelas XI AK SMK HKBP Sibolga juga mengatakan hal yang sama. Anak pasangan Toroziduhu Zebua-Martina Sarumaha, yang merupakan kepling setempat, mengatakan bahwa seragam dan seluruh buku-bukunya terbakar.

Kadis Pendidikan Kota Sibolga Alpian Hutauruk menyampaikan bahwa pihaknya akan terlebih dahulu mendata le sekolah masing-masing para siswa yang menjadi korban kebakaran ini.

Setelah data terkumpul, pihaknya akan mengakaji, apakah bisa dibantu melalui dana BOS atau tidak. “Kalau tidak bisa, kita tetap akan berupaya memberikan bantuan melalui tali asih agar dapat membeli seragam sekolah, sepatu dan buku-buku yang diperlukan,” ujarnya. (TT/int)

Kuburan Longsor, Ada Jasad Masih Utuh, Padahal Sudah 16 Tahun Dikubur



TobaTimes, Palas - Taman Pemakamam Umum (TPU) di Desa Binabo Jae, Kecamatan Barumun, Padanglawas, dihantam longsor dan banjir, Sabtu (7/1). Akibatnya, sejumlah makam hanyut.

Jasad utuh dibawa ke rumah keluarga.
Keesokan harinya, Minggu (8/1), warga membongkar makam agar tidak terbawa banjir susulan. Mereka sepakat melakukan gotong royong membongkar pemakaman yang berada di sisi kanan badan sungai. Memang, posisi TPU di tiga desa merata berada di pinggir Sungai Barumun itu.

"Puluhan kuburan yang berada di TPU desa, telah kita bongkar. Itu untuk mengantisipasi agar kuburan tidak hilang dari lokasi yang dihantam longsor,” kata Kepala Desa Binabo Jae, Sangkot, didampingi Kepala Desa Simaninggir Rivai Nasution, kemarin.

Saat penggalian makam, warga dikagetkan dengan penemuan jasad laki-laki yang telah dimakamkan sejak 16 tahun lalu, namun kondisi jasad masih dalam keadaan utuh. Anehnya lagi, kain kapan yang membungkus mayat itu masih terikat dan telah berwarna kekuningan.

“Sudah langsung dibawa pihak keluarga ke rumah mereka,” kata Sangkot.

Mendengar kabar ada jasad mayat yang telah dimakamkan selama 16 tahun masih utuh, warga langsung geger. Mereka berduyun-duyun mendatangi rumah keluarga jasad untuk menyaksikan kebenarannya.

"Benar. Setelah dilihat, warga terkaget- kaget,” ungkap Sangkot diamini Rivai.

Peristiwa banjir dan longsor TPU itu disikapi pemerintah desa dengan melapor kepada Bupati Palas Ali Sutan Harahap (TSO). Melalui Plt Sekdakab Palas Syamsul Anwar Lubis menyahuti laporan dengan memerintahkan pihak Dinas Pekerjaan Umum Pertambangan dan Energi untuk turun ke lokasi desa.

"Pemda akan segera melakukan perbaikan dengan menurunkan alat berat guna mengantisipasi terjadinya longsor susulan,” kata Plt. (TT/int)

Saat Tidur, Ular Pithon Melingkar di Lehernya


Max Mason.
TobaTimes - Seorang pria uzur kagetnya bukan kepalang. Pasalnya, saat ia tidur pulas, tiba-tiba seekor ular piton melingkar di lehernya.

Peristiwa itu dialami Max Mason (79), warga Brisbane, ibu kota negara bagian Queensland, Australia, pekan lalu.

Kepada media setempat, Australian Plus, Max mengatakan menemukan ular piton yang panjang semeteran di atas tubuhnya, sekitar pukul 2 pagi, di rumahnya di kawasan Ascot, Brisbane.

"Ada perasaan dingin merayap di leher yang membangunkan saya. Saya meraihnya dan melemparkannya ke lantai. Saat menyalakan lampu kamar tidur dan saya cukup yakin itu adalah ular," kata Max.

Max mengatakan dia digigit di bagian tangannya saat ia melemparkan ular. "Cukup mengejutkan. Istri saya lebih terkejut daripada saya sendiri," katanya.

Istrinya lantas berhasil mengambil ular dengan kantung plastik. (TT/int)

7.1.17

Mahasiswa Asal Humbahas Gantung Diri Usai Kirim SMS Bahasa Batak


TobaTimes, Medan  - Entah apa yang terjadi di benak mahasiswa Politeknik Negeri Medan (Polmed) bernama Panto Sihombing (19) ditemukan tewas gantung diri di dalam kamar kosnya, Jumat (6/1/17) kemarin.
Ilustrasi.
Peristiwa itu membuat heboh warga di sekitar Jalan Abdul Hakim, Gang Susuk, Kelurahan Padang Bulan Selayang 1, Kecamatan Medan Selayang, Medan, Sumatera Utara, mendadak geger.

Berdasarkan informasi, kejadian bermula saat teman korban Goodnyus Simamora (19) hendak bertemu dengan temannya itu, Jumat (6/1) sekitar pukul 22.30 WIB. Kemudian dia pun bergegas ke kamar kos Sihombing.

Begitu tiba di kamar kos, Simamora curiga lantaran lampu kamar kos Sihombing padam. Kemudian dia pun langsung membuka kaca nako kamar Sihombing dan menyenter ke dalam kamar. Dia terkejut mendapati Sihombing, warga Lintong Ni Huta, Kabupaten Humbang Hasundutan itu sudah tergantung.

Simamora panik dan memberitahukan hal itu kepada teman satu kos korban. Tidak berapa lama, lokasi pun langsung ramai.

Kepala Lingkungan (Kepling) setempat kemudian memberitahu pihak kepolisian usai mendapat informasi tersebut.

Petugas kepolisian dari Polsek Sunggal pun datang ke lokasi guna melakukan Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Lalu kemudian mengevakuasi jenazah korban ke rumah sakit untuk keperluan visum.

"Mendapat informasi itu, petugas langsung datang ke lokasi untuk melakukan cek TKP, kemudian meminta keterangan kepada saksi-saksi," ujar Kapolsek Sunggal Kompol Daniel Marunduri kepada wartawan ketika dikonfirmasi mengenai kejadian itu, Sabtu (7/1/17) pagi.

Dikatakan, dari hasil pemeriksaan saksi-saksi, sebelum kejadian tersebut, korban masih sempat ngumpul (nongkrong) bersama teman-temannya di Jalan Pasar VIII, Padang Bulan sekitar pukul 18:00 WIB dan kemudian mereka bubar.

Namun setelah bubar, entah mengapa korban tiba-tiba mengirim pesan via SMS kepada temannya yang berisikan ucapan permisi dalam berbahasa Batak. Tapi saat itu temannya tidak menghiraukan pesan tersebut meskipun sempat merasa curiga.

Saksi menerima SMS dari korban yang isinya "Parmisi ma jo dihamu sude lae dah" dan saksi pun kaget maksudnya apa dan saksi tidak menghiraukan," tambah Daniel.

Usai menerima pesan itu, sekitar empat jam kemudian, teman korban pun datang ke kamar kos korban hingga akhirnya korban ditemukan sudah tidak bernyawa. Hingga sampai saat ini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait kematian korban beserta dengan motifnya. (TT/int)