2.1.18

Kembang Api Meledak, Jari-jari Tangan Putus


TobaTimes - Pesta kembang api malam Tahun Baru di Tembok Berlin, Sorong, Papua Barat, Minggu (31/12/17) memakan korban. La Ute terpaksa dilarikan ke RSUD Kabupaten Sorong setelah jari-jari tangan hancur usai kembang api jenis bola-bola 8 shot, meledak di tangannya.

Ilustrasi.
Saksi mata kejadian, Jakson mengatakan, kejadian itu terjadi sekitar pukul 21.58 WIT. Awalnya semua berjalan biasa saja tanpa ada masalah. Sejak korban dan teman-temannya tiba di Tembok Berlin sekitar pukul 19.00 WIT, korban langsung membakar berbagai jenis kembang api dan petasan miliknya, dan tidak terjadi hal-hal yang aneh.

“Pas kami sampai di tembok, langsung kami bakar kembang api dan petasan sedikit sambil bikin ramai, kebetulan petasan yang kami bawa ini banyak,” kata Jakson. seperti dilansir ari Radar Sorong.

Mendekati pergantian tahun di tengah malam, saat dia dan teman-temannya lanjut membakar petasan. Saat itu tiba-tiba terdengar suara teriakan keras dari arah belakangnya. Ternyata bukan hanya dirinya saja mendengar teriakan tersebut, tetapi pengunjung lainnya yang ada di sekitar TKP mendengarnya.

Saat dia berbalik ke belakang, ternyata temannya yang berteriak. Setelah di cek ternyata jari-jari tangannya hancur akibat kembang api yang dipegangnya meledak di tangannya. Warga yang melihat kejadian tersebut, dengan sigap langsung mengantar korban ke RSUD Kabupaten Sorong yang tak jauh dari lokasi kejadian.

Saksi mengatakan, dia sempat menayakan saat mengantar korban menuju UGD RSUD Kabupaten Sorong. Pengakuan korban lanjut Jakson, kejadian tersebut akibat kembang api jenis bola-bola 8 shot yang dipegangnya, tiba-tiba meledak tiba saat peluncuran bola kelima. “Dia bilang kembang api miliknya tiba-tiba meledak di tangannya. Dia cuma bilang begitu saja, terus pingsan,” ujar Jakson. (bbs/int)
 

10.11.17

Sadis Bah! Kakek Tikami Cucu yang Masih Balita Hingga Tewas


TobaTimes - Mengerikan. Seorang kakek tega menikami cucunya yang masih balita hingga tewas. Belum diketahui apa motif dan penyebab seorang kakek ini tega menikami 2 orang cucunya. Kejadian itu berlangsung Jumat (10/11) siang sekitar pukul 12.25 WIT saat komplek sedang sepi di kawasan perumahan di Jalan Danau Tempe, Kampung Salak, Sorong Barat, Sorong, Papua.

Putri yang tewas ditikami kakek.
Menurut salah seorang warga, kejadian tersebut berlangsung sangat singkat, saat itu ayah dan ibu korban juga sedang berada di rumah. Kakek korban baru saja datang dari Makassar sehari sebelum kejadian, tepatnya Kamis (9/11/17). Konon, si kakek juga melarikan diri dari Makasar karena melakukan pembunuhan.

Awalnya kedatangan kakek tersebut ingin mencari celananya yang ada di rumah anak tirinya itu. Namun Acce ibu korban mengatakan bahwa celananya tidak ada disana. Mungkin ia tersinggung atas hal tersebut. “Pelaku datang ke rumah orang tua korban dengan alasan mau cari celananya, tapi ibu korban bilang tidak ada celana ta di sini bapak,” ujar sumber.

Warga lainnya bernama Dijelaskan Dahniar, warga Jalan Trikora, Kampung Salak, Sorong Barat, Sorong , Papua ini saat kejadian kakek tersebut tiba tiba menikami Putri (3) balita yang masih berusia 3 tahun di bagian dada dan mengenai jantung.

“Tak disangka-sangka pelaku langsung menusuk 2 cucunya. Nenek korban yang juga istri dari pelaku sedang cuci piring di dapur keluar dan kaget dan teriak” jelas Dahniar

Dikatakan, Putri yang ditikam di jantungnya meninggal dunia. Sementara Ipul yang empat tahun yang ditikam perutnya hingga keluar tali perut atau usunya saat memeluk kakek yang baru datang ke Sorong. Sedangkan seorang kakaknya Saipul berusia empat tahun juga tak luput dari tikaman pelaku, mengenai perut hingga usus terburai. sedangkan seorang saudaranya yang lain berhasil lari dari perlaku yang menikami adiknya.

“Bapak korban yang tengah tidur di kamar terkaget bangun karna teriakan istri dan mamanya, langsung bergegas keluar dan melihat anak2nya sudah terbujur kaku dan bersimbah darah dilantai.” tambahnya

Korban pun selanjutnya dilarikan ke Rumah Sakit Umum Kabupaten Sorong. Sementara pelaku tak sempat dikejar bapak korban lari ke kantor polisi. Saat kejadian Nenek korban tengah mencuci piring berteriak melihat kejadian tersebut.

“Bapak korban langsung masuk kamar ambil pisaunya mau mengejar pelaku yg sudah melarikan diri. Tapi karena dihadang sama para tetangga sekitar jadi bapak korban tidak sempat membalas atau menghakimi sendiri si pelaku,” sebut Dahniar melalui sambungan telepon. (bbs/int)

6.11.17

Aduh! Jatuh dari Boncengan Suami, Tubuh Istri Hancur


TobaTimes - Aduh! Ngeri kejadian ini.Sepasang suami istri mengalami kecelakaan maut. Tubuh sang istri yang dibonceng suami, jatuh ke sebelah kanan dan langsung dilindas roda truk hingga remuk.

Jasad korban ketika dievakuasi polisi,

Peristiwa itu itu terjadi di Jalan Sudirman KM 155-156, persisnya di Kelurahan Bunut, Kecamatan Kota Kisaran Barat, sekitar lapangan Golf Bunut, Minggu (5/11/17) sekira pukul 15.30 WIB.

Nani, ibu rumah tangga berusia 41 tahun itu, tewas menggenaskan dilindas truk tangki BK 9470 VO. Terakhir diketahui truk tersebut dikemudikan Podo Rahmadi (53), warga Lingkungan III, Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan.

Tubuh Nani hancur setelah dilindas ban belakang sebelah kiri truk, hingga tak bisa lagi dikenali. Kepala hancur, isi perut terburai, tangan kiri kanan lepas dan paha kiri hancur.

“Jasad korban sudah kita evakuasi ke ruang jenazah RSUD Kisaran. Suami korban juga masih trauma, pingsan, belum bisa kita mintai keterangan. Kedua kendaraan sudah kita amankan di pos katarina,” kata Kanit Laka Polres Asahan Iptu Rusdi SH pada wartawan di ruangannya, sekira pukul 18.25 WIB.

Rusdi mengatakan, saat itu korban yang berboncengan dengan suaminya, Suratno (50) warga Dusun X Perkampungan Sei Balai Kabupaten Batubara mengendarai sepedamotor Honda Mega Pro BK 6637 VAL coba mendahului truk dari jalur kiri.

“Mereka satu jalur, sama-sama datang dari arah Rantauprapat menuju Medan. Di lokasi, dimana kondisi jalan bergelombang, korban terjatuh ke sebelah kanan dan langsung disambut ban truk belakang sebelah kiri. Saat itu posisi korban dan suaminya persis di samping kiri truk. Suami korban tidak mengalami luka sedikitpun,” ungkap Rusdi.

“Saya nggak tahu. Memang pas itu terasa seperti nabrak sesuatu saya. Diteriaki, saya langsung berhenti,” ucap Podo, supir truk saat ditanyai usai diamankan di Pos Lantas Katarina.

Amatan wartawan, akibat kejadian ini, lalu lintas sekitar lokasi sempat mengalami kemacetan. Sejumlah pengendara maupun warga berkerumun melihat jasad korban yang saat itu hanya ditutupi koran bekas dan daun pisang.

“Kasihan nya. Kek manalah perasaan suaminya ya. Kayaknya orangnya agak gemuk, keliatan dari tangannya,” celetuk seorang warga sembari terus merekam kejadian itu. (bbs/int)

1.11.17

Gara-gara Mirip Ahok, Anak Ini Di-bully dan Ditonjok di Depan Guru


TobaTimes - Seorang anak bernama Josep Sebastian Zebua, pelajar kelas 3 SDN 16 Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur menjadi korban bully di sekolahnya akibat wajahnya mirip mantan Gubernur DKI Ahok. Padahal Bastian adalah suku Nias. Kisah tragis Bastian diungkapkan oleh sang paman, Bearo Zalukhu, di akun facebooknya, Senin (30/10/17).

Bastian yang di-bully karena mirip Ahok.
Tulisan ini ditujukan pada Presiden RI, Kepolisian RI, Menteri Pendidikan RI, Gubernur DKI, KPAI, media cetak dan elektronik Indonesia. Hingga Selasa (31/10/2017) pukul 11.00, postingan ini sudah 5.231 kali dibagikan dan sudah masuk 3.500 komentar. Dijelaskan Boni, sapaan Bearo,  Senin (30/10/2017) pagi tadi tiba-tiba sangat ingin menemui keponakannya. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya entah itu apa.

Dan benar, sesampainya di rumah Bastian, Boni menjumpai keponakannya sedang main tab di rumah. Bastian bolos sekolah hari ini. Bahkan sudah 2 minggu bolos.
Mama Bastian menceritakan anaknya takut sekolah. Bastian takut datang ke sekolahnya sendiri.

Sambil bercerita, Mama Bastian memperlihatkan telapak tangan anak laki-laki berumur 10 tahun itu ke Boni. Telapak tangan Bastian bengkak gara-gara ditusuk pena oleh teman-temannya di sekolah.

Mama Bastian lanjut bercerita, sejak kasus Ahok muncul dan munculnya kata "Pribumi" oleh Gubernur DKI Anies Baswedan dalam pidato pelantikannya, Bastian mendapat julukan "Ahok" dari teman-teman sekolahnya. Kalimat bunuh "Ahok" juga sering terlontar dari teman-teman Bastian yang ditujukan buat Bastian.

Mama Bastian bercerita pernah menyaksikan Bastian ditonjok temannya di dalam barisan saat upacara di sekolah. Guru yang ada dan menyaksikan di situ diam tak mengambil tindakan apapun. Baju seragam sekolah Bastian juga pernah dimasuki pasir oleh teman-temannya. Pasir dimasukkan lewat kerah baju Bastian.

Bastian juga pernah tidak boleh masuk ke dalam kelas karena agama yang dianutnya berbeda dengan agama teman-temannya yang lain. Bastian baru boleh masuk kelas jika pindah agama. Begitulah kekerasan verbal yang dilakukan oleh teman-teman Bastian yang lagi-lagi dibiarkan oleh guru yang ada di sana. Akhirnya pihak keluarga berencana memindahkan Bastian ke sekolah Katolik yang ada di sekitarnya. (bbs/int)
 

23.10.17

Raja-raja Rapat dan Teken Petisi Mandailing Bukan Batak


TobaTimes - Sejumlah Raja Panusunan di Mandailing Natal bersama belasan organisasi mencuatkan penegasan bahwa Mandailing bukan Batak. Penegasan itu dituangkan dalam bentuk petisi. Pertemuan Raja-raja Panusunan dan organisasi kemasyarakatan itu berlangsung di Sopo  Godang Kotasiantar, Panyabungan, Mandailing Natal, Sabtu (21/10/17).

Rapat raja-raja Panusunan untuk Petisi Mandailing Bukan Batak. [Foto: mandailingonline.com]
Petisi ini berisi sikap etnis Mandailing yang menegaskan bahwa Mandailing bukan Batak. Bahwa Mandailing tidak memiliki kaitan dengan Batak, baik secara kebudayaan maupun sosiokultural.

Petisi itu juga meminta kepada Pemerintah Republik Indonesia dan instansi negara serta instansi swasta supaya tidak mengkaitkan Mandailing dengan Batak.

Bahwa Mandailing adalah etnis tersendiri yang tidak dapat dikaitkan dengan nama lain. Mandailing tak bisa disebut Batak, karena sebagai sebuah bangsa, Mandailing memiliki peradaban dan kebudayaan yang luhur sejak sebelum abad 13 Masehi.

Kepada seluruh kaum Mandailing yang berdomisili di tanah Mandailing maupun di perantauan supaya selalu meninjukkan identitasnya sebagai orang Mandailing.

Kepada generasi muda Mandailing supaya giat mempelajari sejarah Mandailing agar lebih memahami dan memperkuat serta mempertegas identitas kemandailingannya.

Petisi itu akan disampaikan kepada Presiden Republik Indonesia, menteri terkait, gubernur dan bupati serta lembaga-lembaga terkait. (sumber berita dan selengkapnya baca di sini)

19.10.17

Siswi SMA Diculik, Wajah Disilet, Ditemukan Berdarah-darah


TobaTimes - Nadia (17), siswi Kelas XII SMA Teladan ditemukan warga berlumuran darah di sekitar Tanjung Pinggir Jalan Rondahaim Purba, Kelurahan Pondok Sayur, Siantar Martoba, Kamis (19/10) sekira pukul 07.00 WIB.

Siswi SMK Siantar korban penculikan.
Untung saja korban masih keadaan sadar. Saat ditanyai warga, korban mengaku tinggal di Jalan Tanah Jawa, Kelurahan Melayu, Siantar Utara. Selanjutnya, warga menghubungi keluarga korban. Akhirnya korban pun dibawa ke Rumah Sakit Horas Insani untuk mendapat perawatan medis. Sementara ibu korban membuat laporan ke kantor Kepolisian.

Setelah beberapa jam dirawat di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) korban yang wajahnya dipenuhi luka lebam ini dibawa ke ruang inap. Ayah korban terlihat duduk di pinggiran tempat korban berbaring.

Iwel, kakak korban yang ditemui di depan ruang inap tempat korban menceritakan awal kronologis kejadian yang menimpa adiknya ini.

Dari keterangan salah seorang teman korban kepada keluarga, pada Rabu 18 Oktober 2017, saat korban masih les sore di sekolah, korban dihubungi seorang pria berinisial DS.

Dari pembicaraan mereka di telepon, D S mengatakan kepada korban untuk segera mengambil paket titipan barang, dengan syarat, korban seorang diri dan tidak mengajak teman.

Namun saat itu korban menolak untuk pergi seorang diri. Dia mengatakan akan mengajak seorang temannya yang juga satu kelas dengannya. Permintaan itu pun disetujui DS.

Ditemani seorang temannya, korban pun akhirnya menemui DS di depan Alfamart Jalan Cokro, Kelurahan Baru, Siantar Utara. Saat bertemu, DS meminta untuk membonceng korban, sementara temannya naik sepeda motor sendiri.

Ketiganya pun bergerak ke tempat yang dikatakan DS. Bukannya jalan seiringan, saat berada di persimpangan lampu merah Jalan Tangki, persis di seberang Mapolsek Siantar Utara. DS memacu sepedamotor korban dan meninggalkan teman sekelas korban itu.

Singkat cerita, pada malam harinya pihak keluarga berusaha mencari keberadaan korban. Hampir seluruh daerah yang ada di Kota Pematangsiantar mereka masuki, namun hasilnya nihil. Dari keterangan teman sekelas korban yang juga ikut menemui DS, pihak keluarga pun berusaha menghubungi DS.

Awalnya D S mengaku tidak mengetahui keberadaan korban, dia berdalih saat itu sedang berada di kampung sang istri. Setelah didesak, DS akhirnya mengaku. Dengan penuh percaya diri, pria itu mengatakan bahwa dia telah membunuh korban. Awalnya dia mengaku membuang jenazah korban ke daerah tanjung pinggir.

Pihak keluarga beserta tetangga langsung berpencar mencari keberadaan korban. Sampai yang terakhir, mereka mendapat kabar dari salah seorang warga. Kondisi awal korban saat ditemukan warga cukup tragis. Tang korban di ikat dengan menggunakan jilbab korban ke belakang badannya. Sekujur wajahnya dipenuhi luka lebam dan luka sayatan. Di sekitar pelipis mata berlubang yang menurut pengakuan korban, wajahnya telah di injak injak D S. (bbs/ms/int)

18.10.17

Viral Bah! Istri Pertama Ikut Duduk di Pelaminan Pernikahan Suami dengan Istri Muda


TobaTimes - Sebuah foto pernikahan yang tidak biasa beredar di media sosial. Foto tersebut menggambarkan tidak hanya ada dua mempelai di kursi pelaminan, tapi tiga orang! Ini terjadi di Mesir, kursi pelaminan diduduki oleh tiga orang. Selain dua orang mempelai kursi pelaminan juga diduduki oleh istri pertama atau istri tua si mempelai pria.

Foto-foto yang beredar di medsos.
Foto yang menunjukkan ketiganya pun langsung menarik perhatian warga net. Terlebih, istri pertama si mempelai pria tampak begitu ceria dengan menunjukkan ekspresi wajah yang berbinar-binar, ditambah ada senyum dan tawa di bibirnya.

Anehnya, pada foto lain yang diunggah mempelai pria bernama Mo'taz Hilal di laman pribadi Facebooknya, menunjukkan istri mudanya tampak memberikan ekspresi kesal saat Mo'taz memegang kepala istri pertamanya yang duduk diantara mereka. Wanita yang mengenakan pakaian pengantin berwarna peach itupun sama sekali tidak tersenyum dan cenderung menunjukkan wajah masam.

Akan tetapi, di foto lain, ketika Mo'taz duduk diantara istri-istrinya, kedua istri tersebut pun tersenyum sumringah. Istri kedua yang tadi berwajah masam, akhirnya tersenyum lepas dan lebar. Sementara, istri pertama yang mengenakan gaun berwarna hijau dengan hijab yang cantik, tersenyum sambil menggandeng suami yang dicintainya itu.

Unik memang hal yang dialami oleh ketiga orang ini. Pasalnya, sebagian besar wanita tentu tidak mau dimadu dan diduakan. Tapi, istri pertama Mo'taz kabarnya justru membantu meyakinkan orang tua istri kedua suaminya agar dapat menikah dengan suaminya tersebut, meski awalnya sempat merasa sedih.

"Istri pertama saya awalnya kesal, tapi karena dia benar-benar mencintai saya, dia akhirnya berdamai dengan perasaan kesalnya sendiri. Bahkan, dia membantu meyakinkan orangtua istri kedua saya agar dapat menikah dengan saya," ucap Mo'taz seperti yang dikutip dari Step Feed, Rabu (18/10/17). (bbs/int)

16.10.17

Chat Tak Dibalas, Call Tak Diangkat, ternyata Pacar Sudah...


TobaTimes - Sedih kali bah. Naftali Mahansa Madani Yoga Sitepu alias Dedek (26), nekat mengakhiri hidup dengan cara menggantung diri. Jenazahnya ditemukan warga Sabtu (14/10/17), sekira jam 13.00 Wib, masih tergantung di salah satu kamar di rumah di Jalan Sei Brantas No 63, Kelurahan Babura, Kecamatan Medan Sunggal.

Pacar tewas gantung diri.

Penemuan itu pun sontak membuat warga sekitar heboh dan berduyun-duyun memadati sekitar rumah. Informasi diperoleh, pria berusia 26 tahun itu pertama kali ditemukan tewas Tince Boru Gultom (44) dan Dekon Manalu (54) yang tinggal bersebelahan dengan kos-kosan korban.

Menurut Manalu, ia mendapat telepon dari Kartika, yang mengatakan bahwa Dedek sudah beberapa hari tidak ada kabar. “Karena ditelpon, aku tengok sama boru Gultom. Rupanya dia udah tergantung di dalam kamar. Memang pas kami kintip dari jendela, banyak tali plastik berserakan di dalam,” katanya.

Melihat kejadian tersebut, Manalu langsung memberitahukan peristiwa tersebut ke warga sekitar dan selanjutnya dilaporkan ke Polsek Sunggal. Personel Polsek Medan Sunggal yang mendapat informasi itu langsung turun ke lokasi bersama tim Inafis Polrestabes Medan dan langsung memasang garis police line.

“Pada saat dilakukan pemeriksaan oleh tim Inafis Polrestabes Medan, di tubuh korban tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan dan kelamin korban mengeluarkan cairan,” ujar Kanit Reskrim, Iptu Martua Manik.

Sementara itu, Kartika bercerita bahwa Senin (9/10) lalu, mereka bertengkar mulut. Pun begitu, Kartika tidak mau membeberkan permasalahan keduanya. “Hari senin itu memang kami ribut, dari situ lah dia gak mau angkat telpon aku. Chat aku juga gak di balas. Selesai ribut itu aku pergi dari kos dan pergi ke rumah orangtua ku di Brayan,” katanya sambil menangis. (bbs/int)

15.10.17

Beruang Masuk Kampung, Warga Ketakutan, Ratusan Ternak Dimangsa


TobaTimes - Warga Pusuk Pardamean, Nagori Talun Kondot, Kecamatan Panombeian Panei, Simalungun dihantui rasa takut, setelah  kawanan beruang masuk ke perkampungan dan merusak tanaman serta memangsa ratusan ternak.

Peristiwa masuknya hewan liar itu ke perkampungan warga sudah diketahui sejak beberapa hari belakangan. Saat itu ada warga yang melihat langsung beruang di kampung tersebut.

Beruang.

Pangulu Nagori Talun Kondot Sardin Saragih juga mengakui hal itu. Menurutnya, keberadaan beruang yang masuk perkampungan itu sudah santer terdengar seminggu belakangan. Beberapa warga pun mengaku sudah melihat beruang tersebut. Apalagi, belakangan ratusan ekor hewan ternak dan peliharaan warga dimangsa.

“Kalau jumlah hewan yang dimangsa, ada ratusan. Ayam-lah yang paling banyak. Ratusan ekor. Ada juga beberapa anjing yang ikut dimangsa,” kata Sardin.

Ditambahkan, dalam memangsa ternak warga, beruang itu langsung masuk ke kandang di sekitar kediaman masyarakat. Tak hanya itu, banyak tanaman di kebun dan lahan pertanian yang dirusak hewan tersebut.

Mendapati informasi adanya hewan liar berkeliaran tersebut, pangulu langsung melaporkannya ke petugas keamanan. Selanjutnya dilanjutkan ke petugas Badan Kondervasi Sumber Daya Alam (BKSDA) wilayah II Siantar-Simalungun. Kemarin (14/10/2017), petugas gabungan pun melakukan pencarian beruang itu.

Namun hingga tadi malam sekira pukul 23.00 WIB, pencarian belum membuahkan hasil. “Kalau dilihat dari jejak hasil perburuan dan tanda-tanda di lapangan, diperkirakan beruang itu berjumlah lebih dari seekor,” jelasnya.

Dia menerangkan, kondisi itu pun membuat warga tidak berani keluar rumah, apalagi ke ladang. “Warga ketutan keluar rumah maupun ke kebun. Takut terjadi apa-apa, namanya hewan liar,” ungkapnya.

Bahkan menurutnya, aktivitas pertanian di Pusuk Pardamean itu sangat terganggu dan lumpuh. “Saat ini kondisi kampung ini sedang dilanda ketakutan,” jelasnya.

Manajer Taman Hewan Pematangsiantar Khoiruddin melalui stafnya Rio kepada Metro Siantar (Jawa Pos Group)  ini mengatakan bahwa pihaknya ikut mendampingi petugas BKSDA dalam melakukan pencarian beruang di Nagori Talun Kondot. “Iya Bang, kita ikut membantu melakukan pencarian. Tapi sampai sekarang belum ketemu,” jelasnya tadi malam.

Sementara Kapolsek Panei Tongah melalui Kanit Reskrim Aiptu D Marbun juga membenarkan adanya informasi beruang yang berkeliaran di Nagori Talun Kondot. “Sudah beberapa hari ini info itu ada. Dan kita pun sudah tiga hari siaga di sekitar lokasi,” kata Marbun.

Dan kemarin, menurut Marbun, personel Polsek Panei Tongah juga ikut melakukan pencarian terhadap binatang liar tersebut. “Sejauh ini belum ketemu. Masih dicari,” katanya.(sumber: metrosiantar.com)

11.10.17

Hakim: Kalian Kira Bayi Itu Jengkol? Tega Kalian...


TobaTimes - Suasana persidangan di Pengadilan Negeri Simalungun berlangsung menarik. Seorang majelis hakim Melinda Aritonang SH marah kepada terdakwa perkara penjualan bayi saat disidangkan pada Selasa (10/10/17). Muncul kata jengkol.

“Kalian kiranya bayi itu jengkol? Itu bayi punya nyawa,” kata Melinda di hadapan para terdakwa.

Susana sidang perkara jual-beli  bayi.
Kemarahan sang hakim meledak karena terdakwa AFN, yang juga ibu bayi, mengatakan bahwa ia menjual bayinya karena tak sanggup membayar biaya persalinan. Ia memberikan bayinya kepada orang lain dengan sejumlah imbalan.

“Hanya kalian yang bisa mengubah hidup kalian. Masa tega kalian perjualbelikan bayi,” kata Hakim Melinda lagi.

Dalam persidangan terungkap, penyerahan bayi dilakukan melalui perantara bernama Wendri yang menerima imbalan Rp7,5 juta dan Demsi Manurung menerima Rp3 juta.

Sidang dipimpin Hakim Ketua Rozianti SH didampingi Justiar Ronal SH dan Melinda Aritonang SH. Sedangkan Jaksa Penuntut Umum adalah Novaratna Tarigan SH dan Julita Nababan SH dengan para terdakwa AFN, Wenri Sigiro, Demsi br Manurung, dan Guntur Manihuruk.

Kasus ini berawal ketika AFN hamil di luar nikah. Sekira Januari 2017, kandungan AFN berusia kurang lebih 6 bulan, AFN bertemu Wendri Sigiro.

Ibu bayi yang bekerja di salah satu kafe di Parapat ini bercerita kepada Wendri soal kehamilannya yang tidak ditanggungjawabi pacarnya. AFN meminta Wendri mencari orang yang mau mengurus bayinya, kelak setelah lahir.

Wendri Sigiro lalu bertemu dengan Demsi br Manurung. Demsi Manurung memiliki ipar bernama Elisbet Silalahi. Elisbet Silalahi menghubungi Guntur Manihuruk yang sudah menikah beberapa tahun tetapi belum memiliki anak. (bbs.int)